Baghdad, Gontornews — Parlemen menyerukan seluruh pasukan asal Amerika Serikat dan negara-negara lainnya dari Irak menyusul meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dengan Iran di Irak. Baik AS dan Iran berencana untuk mengirimkan serangan balasan setelah AS berhasil membunuh komandan militer Iran, Qassem Soleimani, Jum’at (3/1).
Langkah ini diambill menyusul munculnya kekhawatiran sejumlah pihak akan risiko perang yang terjadi antara dua kekuatan besar yaitu Amerika Serikat dan Iran di Irak.
Meskipun resolusi semacam itu tidak mengikat pemerintah, resolusi tersebut mungkin saja mendapatkan perhatian lebih dari Plt Perdana Menteri Irak, Adel Abdul Mahdi. Sebelum parlemen mengeluarkan resolusinya, PM Adel Abdul Mahdi telah meminta parlemen untuk mengakhiri kehadiran seluruh pasukan asing di Irak sesegera mungkin.
Sebagaimana diketahui, Amerika Serikat-Iran bersaing memperebutkan kekuasaan di Irak sejak invasi AS di Irak yang berakhir dengan penggulingan pemimpin kharismatik Irak, Saddam Hussein, pada 2003 silam.
Sebelumnya, Presiden Donald Trump berencana menyerang 52 situs kebudayaan milik Iran andai Iran melakukan serangan balasan pasca kematian Suleimani. Seorang pejabat di kabinet pemerintahan Irak menyebt Trump sebagai Teroris.
“Mereka diizinkan membunuh orang-orang kita. Mereka diizinkan menyiksa dan melukai orang-orang kita. Mereka diizinkan menggunakan bom di pinggir jalan dan meledakkan orang-orang kita. Lalu kami tidak diizinkan menyentuh situs budaya mereka? Hal semacam itu tidak bisa terlaksana,” kata Trump di atas pesawat kenegaraan AS, Air Force One, Ahad (5/1).
Selian mengancam akan menyerang situs budaya Iran, AS, lanjut Trump, juga berencana untuk memberikan sanksi kepada Irak jika pasukan AS diminta untuk meninggalkan negara itu. Trump menambahkan jika Pemerintah Irak harus membayar biaya pangkalan udara di Irak kepada Washington.
“Kami akan menagih mereka sanksi seperti yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Itu akan membuat sanksi Iran terlihat mudah,” pungkas Trump kepada Reuters. [Mohamad Deny Irawan]

















