Jakarta, Gontornews — Ada yang berbeda dengan minat santri terutama alumni Pondok Modern Gontor dan Tazakka yang menempuh studi di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir belakangan ini. Jika sebelumnya kebanyakan lulusan Gontor mengambil studi Islam sebagai pilihannya, belakangan studi di Fakultas Kedokteran Universitas Al Azhar Kairo Mesir juga diminati mereka.
Dan ini baru pertama kali terjadi dalam sejarah lulusan Gontor yang sudah berdiri sejak tahun 1926 lalu. Ya. Di tahun ajaran baru 2019-2020 ini ada 26 mahasiswa Indonesia yang menempuh studi Kedokteran di Universitas Al-Azhar Kairo. Ke-26 mahasiswa kedokteran tersebut 25 di antaranya adalah alumni Gontor dan 1 alumni Pondok Modern Tazakka.
Mereka adalah mahasiswa perdana asal Indonesia yang studi di kedokteran Al-Azhar sepanjang sejarah 10 abad lebih universitas itu. Umumnya, mahasiswa Indonesia bila ke Al-Azhar mengambil jurusan keagamaan. Berbeda dengan mahasiswa asal Malaysia, sejak beberapa tahun terakhir ratusan mahasiswanya masuk di kedokteran.
Untuk kuliah di Fakultas Kedokteran, maupun fakultas-fakultas sains lainnya, disyaratkan menggunakan ijazah yang telah disetarakan (akreditasi) oleh Al-Azhar untuk bidang sains. Seperti diketahui, Al-Azhar sebagai institusi telah menerbitkan penyetaraan ijazah untuk bidang adaby untuk ilmu-ilmu keislaman, dan ilmy untuk ilmu-ilmu sains dan teknologi seperti MIPA, kedokteran, farmasi, teknik, dan lain sebagainya.
“Alhamdulillah, beberapa pesantren telah mendapatkan penyetaraan itu dari Al-Azhar Kairo di antaranya Gontor, Darunnajah dan Tazakka serta beberapa yang lain,” ujar Ghifaria, salah seorang mahasiswa penerima beasiswa Al-Azhar. Dikatakannya, menempuh studi kedokteran di Universitas Al-Azhar yang identik dengan khazanah keilmuan Islami yang berkembang di Mesir bak menyelam sambil minum air, sembari mempelajari ilmu kedokteran di Al-Azhar, ilmu agama pun didapatkannya dari masyayikh Azhar.
Maka inilah yang seperti dikatakan salah satu Trimurti Gontor, KH Imam Zarkasyi, “Jadilah ulama yang intelek, bukan intelek yang tahu agama.” Karena menjadi dokter bukan sekadar menyembuhkan penyakit pasien, lebih dari itu, dokter akan memberikan fatwa kepada pasien, maka menjadi dokter yang santri dan santri yang dokter merupakan sebuah kebutuhan masa depan.
Mengutip apa yang pernah disampaikan Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi MA bahwa kaderisasi itu by designed, harus dirancang dan disiapkan betul kebutuhan pondok dan umat dalam 20 hingga 50 tahun mendatang. “Maka, perlu pemetaan kaderisasi dengan cermat dengan memperhatikan tren masa kini dan masa depan,” ujar Kiai Anang.
Kaderisasi adalah bagian dari menyiapkan masa depan, para kader itulah yang nantinya akan melanjutkan estafet perjuangan dan meneruskan cita-cita pendiri Pondok dan umat. Maka, mendesain kaderisasi hakikatnya adalah sedang mendesain masa depan.
Insya Allah, 6 hingga 7 tahun mendatang, dua puluh enam dokter perdana alumni Al-Azhar Kairo akan segera berkiprah untuk Indonesia. Dan, insya Allah akan disusul oleh mahasiswa-mahasiswi lainnya pada tahun-tahun mendatang.
“Jadi terngiang apa yang selalu disampaikan Kiai Anang di depan kami: Jadilah santri yang dokter, dokter yang santri; jadilah santri yang pengusaha, pengusaha yang santri; jadilah santri yang jenderal, jenderal yang santri.” @Hisyam Al-Faruq. []





















