Ahmad Sastra, Cendikiawan Muslim
Seperti biasa, pagi-pagi saya membeli koran Republika, sebab selain koran langganan, saya juga sering mengirimkan tulisan ke koran tersebut. Ada yang menarik melihat cover utama Republika, Kamis [10/01] yakni tiga sosok yang sangat dikenal di negeri ini. Adalah sebelah kiri, Jokowi dengan sunyum khasnya sedang menjenguk Arifin Ilham yang sedang duduk di atas tempat tidur rumah sakit. Adapun photo sebelah kanan berhimpitan adalah photo Prabowo dengan penuh serius dan pertatian seolah mendengarkan suara Arifin Ilham dalam kondisi berbaring . sebagaimana diketahui jamak, bahwa ulama kharismatik, pimpinan majelis Az Zikra tengah berbaring sakit.
Dengan judul kecil ‘MENJENGUK’, Harian Umum Republika menulis, “ Dua calon presiden RI, Joko Widodo [kiri] dan Prabowo Subianto [kanan] menjenguk Ustadz Arifin Ilham yang dirawat di Pavilium Kencana RSCM, Jakarta, Rabu (9/1). Mereka berdua mendoakan agar pengasuh Majelis Zikir Az Zikra itu cepat sembuh dan dapat segera beraktivitas kembali.
Islam memang mengajarkan umatnya untuk menjenguk saudaranya yang tengah dirundung sakit dan mendoakan kesembuhan kepada Allah. Islam tidak membedakan siapakah yang sakit, apakah ulama atau rakyat biasa, tetap disunnahkan untuk dijenguk. Menjenguk adalah sebuah amal sholeh, dengan niat semata-mata ikhlas karena Allah, bukan karena ada tujuan yang lain, agar dilihat masyarakat misalnya.
Namun, karena yang menjenguk adalah calon presiden negeri muslim terbesar ini, maka otomatis menjadi berita dan berbincangan nasional, terlebih di tengah tahun politik bangsa ini. Banyak analisa beredar di sosial media atas sudut pandang Republika mengambil gambar kedua tokoh tersebut. Banyak netizen yang menganalisa dari sisi spiritual, namun tidak sedikit pula yang menganalisa secara politis.
Bahkan ada yang menganalisa secara politis bahwa kedatangan calon presiden menjenguk Arifin Ilham dikaitkan dengan upaya pencitraan diri. Hal itu dikaitkan dengan upaya kriminalisasi ulama saat aksi 212 dimana Arifin Ilham salah satu peserta aksi yang mendapat perlakuan yang tidak etis dari aparat penegak hukum. Sementara saat sakit justru ditengok saat menjelang pilpres tiga bulan ke depan. Itu analisa yang berkembang, terlepas dari pro kontra.
Namun, ada yang lebih menarik juga, bersamaan dengan sakitnya ulama kharismatik itu, beredar video Arifin Ilham berdurasi 56 detik yang berisi pesan spiritual dakwah untuk bangsa ini. Isi video berjudul KH Arifin Ilham : Inilah Puncak Perjuangan Umat Islam Indonesia, berisi pesan berikut :
“ Al Lhughoh al masyhuroh, bahasa itu rasa, umat itu bisa merasakan, mana yang main-main kata dan mana yang serius dalam berdakwah, mana yang istiqomah, mana yang dalam setiap kata-katanya yang tulus mencintai umat. Maaf ya ikhwah, kalo ana ingin menyampaikan ini, inilah keadaan sekarang. Semoga Arifin dan semua ikhwah, Allah bersamakan dalam ridhoNya dalam rahmatNya, dalam ampunan dan hidayahNya, dalam berkahNya. Dalam harakah dakwah kita bersama, walaupun kita tidak harus duduk bersama, satu saat kita duduk bersama, lalu kita bersama-sama. Puncak perjuanganan kita adalah tegaknya syariah Allah di negeri yang kita cintai ini dan tegaknya khilafah Islamiyah…”.
Ustadz Arifin Ilham menutup nasihatnya dengan membaca doa kafarotul majlis dan permintaan maaf sebelum mengakhiri dengan salam. Inilah nasihat ulama kharismatik tentang hakekat dakwah dan perjuangan Islam yakni tegaknya hukum Allah dibawah naungan institusi khilafah islamiyah.
Pesan dakwah ideologis ini keluar dari lisan seorang ulama. Ulama adalah pewaris para nabi. Dalam sejarah Islam, perkataan ulama adalah bagian dari pondasi tegaknya peradaban Islam. Maka selayaknya, perkataan ulama adalah diikuti. Sebab dengan tegaknya syariah Allah dalam institusi khilafah, maka negeri ini dan juga negeri-negeri kaum muslimin akan merdeka dan terbebas dari segala bentuk penjajahan.
Khilafah akan mewujudkan syariah secara kaffah, dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia dan akan mewujudkan ukhuwah atau persatuan umat Islam seluruh dunia. Khilafah dengan syariahnya juga akan mewujudkan kesejahteraan, kebahagiaan dan keselamatan seluruh rakyat tanpa pandang ras, agama, dan suku bangsa. Sebab khilafah adalah ajaran Islam, maka semestinya pesan Arifin Ilham ini patut menjadi renungan anak bangsa ini.
Bukan malah sebaliknya, ulama dan ajaran Islam dipersekusi. Sebagimana diketahui selama ini telah dengan gamblang terjadi berbagai persekusi terhadap ulama, ajaran Islam hingga simbol persatuan Islam. Persekusi terhadap ulama yang kritis, pembubaran ormas HTI yang bersama umat memperjuangkan syariah dan khilafah serta terjadinya terjadinya pembakaran panji tauhid beberapa tahun ke belakang.
Pembubaran ormas HTI, menurut pakar politik Australian National Univercity (ANU) Greg Fealy merupakan hal buruk yang dilakukan oleh resim Jokowi. Menurutnya, Jokowi telah menggunakan negara untuk melarang dan menindas oposisi Islam. Padahal telah diketahui secara jelas, bahwa HTI berdiri justru ingin memperbaiki bangsa ini dari penindasan ideologi komunisme dan kapitalisme serta membangun kejayaan peradaban bangsa ini dengan Islam. Niat HTI terhadap negeri ini sangat mulia, bahkan cinta HTI kepada Indonesia tak bisa diragukan lagi.
Nah karena itu, melalui momen menjenguk Arifin Ilham, semestinya Jokowi sadar akan kesalahan yang telah dilakukan. Semestinya, jika memang tulus menghormati ulama, menyesal telah mengkriminalisasi ulama dan membubarkan ormas HTI yang tidak ada kesalahan sama sekali. Semestinya Jokowi sadar dan taubat untuk kembali kepada ideologi Islam dalam menyelamatkan negeri ini dan membuang ideologi penjajah aseng dan asing yakni kapitalisme sekuler dan komunisme ateis.
Begitupun dengan Prabowo, hikmah pertemuan dengan Arifin Ilham yang mendukung tegaknya syariah dan khilafah semestinya menyadarkan kepadanya untuk juga menjadi pejuang agama Allah di negeri ini. Sebab, bumi Indonesia adalah milik Allah yang semestinya hukum Allah lah yang diterapkan di negeri ini agar terwujud kesejahteraan untuk seluruh bangsa ini.
Menghormati dan mencintai ulama bukan hanya menjenguk saat sakit, tapi lebih dari itu adalah mengikuti ajarannya. Sebagaimana cinta kepada Allah dan Rasulullah adalah dengan tunduk patuh terhadap hukum Islam yang berasal dari Allah dan dibawa oleh Rasulullah sebagai rahmat bagi alam semesta.
Dengan tulisan ini, saya mengajak kepada Jokowi dan Prabowo agar kembali kepada Islam dan membuang kapitalisme komunisme. Mari kita semua tunduk kepada Allah dan Rasulullah dan apa yang dibawa. Jangan sampai kita menolak hukum Allah, sebab akan mendapat ancaman dari Allah. Renungkan firman Allah berikut :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan Pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. [QS An Nisaa’ : 59]
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut], Padahal mereka telah diperintah mengingkari Thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. [QS An Nisaa’ : 60]
Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu Lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. [QS An Nisaa’ : 61]
Dan Barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam Keadaan buta. [QS Thahaa : 124]
Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS Al A’raf : 96).
Alhamdulillah, saksikan seruan ini sudah hamba sampaikan ya Allah. Semoga Engkau senantiasa memberikan keberkahan atas negeri ini berkat penerapan syariatMu secara kaffah. Jadikan kami sebagai pejuang-pejuang agamaMu ya Allah. Amiin.
[AhmadSastra,KotaHujan,10/01/19 : 15.42 WIB]





















