Kolombo, Gontornews — Militer Sri Lanka, Ahad (19/7/2022), terpaksa melepaskan tembakan untuk menahan kerusuhan di sebuah pom bensin di Visuvamadu, 365 km sebelah utara Kolombo. Juru bicara militer Sri Lanka, Nilantha Premaratne, menjelaskan sekelompok demonstran melempari batu ke arah pos penjagaan di Visuvamadu.
“Sekitar 20 hingga 30 demonstran melempari batu dan merusak sebuah truk milik tentara,” kata Premaratne sebagaimana dilansir Channel News Asia dari AFP.
Polisi menambahkan empat warga sipil dan tiga tentara terluka ketika tentara melepaskan tembakan untuk pertama kalinya. Demonstrasi berubah menjadi aksi anarkis seiring terjadinya protes antar pengendara pasca kehabisan stok bensin di stasiun pengisian bahan bakar di Visuvamadu. Situasi meningkat setelah para warga yang mengantre bentrok dengan tentara di lokasi yang sama.
Sebagai informasi, Sri Lanka menderita krisis ekonomi terburuk sepanjang sejarah. Negara kepulauan tersebut tidak memiliki simpanan valuta asing untuk mengimpor kebutuhan pokok dalam negeri seperti makanan, bahan bakar dan obat-obatan.
Akibatnya, 22 juta penduduk negara tersebut terpaksa mengalami kekurangan pasokan kebutuhan pokok akut sementara antrean panjang tidak terelakkan. Presiden Sri Lanka, Gotabaya Rajapaksa, menolak untuk mundur dari jabatannya karena salah urus pemerintahan.
Terbaru, Sri Lanka mengerahkan pasukan keamanan yang terdiri dari polisi dan militer untuk menjaga stasiun pengisian bahan bakar.
April lalu, pihak kepolisian menembak mati seorang pengendara mobil di pusat kota Rambukkana saat bentrokan meletus seiring dengan penjatahan bensin dan solar.
Pihak kepolisian menginformasikan jika kerusuhan di sekitar stasiun pengisian bahan bakar terjadi di tiga lokasi yang berbeda. Dalam kerusuhan tersebut, setidaknya enam anggota kepolisian terluka dalam satu bentrokan dan tujuh pengendara ditangkap oleh pihak berwenang.
Sebagai upaya penghematan, pemerintah mengumumkan penutupan operasional lembaga-lembaga negara dan sekolah dalam rentang dua pekan ke depan. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat mengurangi frekuensi perjalanan serta menghemat stok bahan bakar yang semakin menipis setiap harinya. [Mohamad Deny Irawan]






















