Sumenep, Gontornews — Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, Sumenep, Jawa Timur, pada Sabtu (12/7/2025) sukses menghadirkan 9285 peserta Apel Tahunan Al-Amien Prenduan 2025. Bertempat di lapangan sepak bola Al-Amien Prenduan, kegiatan itu pun turut dimeriahkan dengan sejumlah penampilan santri dan parade konsulat yang menumpahkan decak kagum ribuan mata yang memandang.
Kepada Gontornews.com, Dr KH Ahmad Fauzi Tidjani MA menjelaskan, “Bagi para santri, Apel Tahunan berfungsi untuk memperkuat identitas dan loyalitas santri kepada pondok, para kiai, dan guru.” Apel Tahunan, tambah Pimpinan dan Pengasuh PP Al-Amien Prenduan tersebut, melatih santri untuk disiplin waktu, kerapihan, serta tanggung jawab dalam menjalankan tugas, dan peran masing-masing.
Apel Tahunan ini bukan sekadar seremoni, sebab kegiatan ini adalah manifestasi semangat perjuangan, kebersamaan, dan cinta pesantren untuk umat dan dunia. Beragam penampilan penuh makna dan energi, semua menyatu dalam satu panggung kebanggaan Apel Tahunan Al-Amien Prenduan 2025 tersebut. Mulai dari grand opening, aksi pencak silat, tangkisan karate, semangat marching band, hingga puncaknya yakni teater perjuangan rakyat Gaza yang menguras emosi dan menggugah kesadaran penonton akan pentingnya kepedulian dan keberanian.
Kiai Fauzi juga menuturkan bahwa proses latihan menjelang Apel Tahunan turut mengasah komitmen dan konsistensi santri terhadap amanah yang diberikan. “Pagelaran Apel Tahunan ini menjadi salah satu contoh terbaik bagaimana nilai-nilai pendidikan diinternalisasikan ke dalam diri para santri,” terangnya.
Dalam Apel Tahunan ada proses memimpin dan dipimpin, ada proses mengatur dan diatur, ada proses sinergi dan kolaborasi, ada proses toleransi dan saling memahami, ada proses kreativitas dan inovasi, ada proses kerjasama dan gotong royong.
Dalam Apel Tahunan ini pula daya dorong, daya juang, daya tahan, daya suai, dan daya kreasi, semuanya terintegrasi dalam diri para kiai, nyai, mudir, ustadz/ustadzah, panitia, santri dan santriwati. “Kelima daya itulah yang kemudian membentuk para santri menjadi generasi yang tangguh, kreatif, dan inovatif, bukan generasi yang cengeng, apalagi bermental krupuk,” pungkas putra KH Moh Tidjani tersebut. [Edithya Miranti]




















