Cox’s Bazar, Gontornews — Pemerintah Bangladesh, Jum’at (10/12/2021), menghancurkan sekitar 1000 tokok milik pengungsi Rohingya di kamp Cox’s Bazar. Kelompok hak asasi manusia mengecam tindakan tersebut karena akan berdampak pada hilangnya mata pencaharian para pengungsi.
Pada tahun 2017, sekitar 850.000 etnis minoritas Rohingya pergi ke Bangladesh setelah militer Myanmar melakukan tindakan kekerasan di negara bagian Rakhine. Bangladesh lantas mendapatkan pujian dunia internasional karena menerima para pengungsi sekalipun banyak kelompok hak asasi internasional kerap mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah mulai dari pembatasan kamp pengungsian hingga relokasi ribuan pengungsi Rohingya ke pulau yang rawan banjir.
Wakil Komisaris Pengungsi Rohingya, Shamsud Douza, mengatakan otoritas terkait menghancurkan toko-toko yang berdiri secara ilegal di lingkungan kamp pengungsian. “Kami telah mengusir sekitar seribu toko ilegal. Kami menggusur toko-tokok ilegal untuk membangun tempat perlindungan bagi pengungsi Rohingya,” kata Douza sebagaimana dilansir Dhaka Tribune.
Ratusan pengungsi Rohingya hanya bisa meratapi upaya penggusuran tersebut sambil berderai air mata sementara pengungsi lainnya hanya bisa panik semata.
“Mereka merobohkan toko saya. Itu satu-satunya mata pencaharian saya. Dengan penghasilan itu, saya bisa menghidupi keluarga saya yang berjumlah tujuh orang,” kata Al-Amin.
“Saya tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Apa yang bisa saya katakan? Tentara Myanmar telah menghancurkan kekayaan kami. Sekarang, kami kehilangan kekayaan kami lagi,” sambungnya.
Seorang peneliti dari kelompok hak asasi manusia internasional memantau situasi pembongkaran toko yang berada di sekitar kamp pengungsian. Pihak berwenang berdalih bahwa penghancuran toko-toko ilegal tersebut merupakan upaya untuk mendorong para pengungsi agar setuju pindah ke ke pulau Bhashan Char di Teluk Benggala.
“Ribuan pengungsi berusaha mencari nafkah melalui toko-toko ini. Ini akan berdampak besar pada mata pencaharian mereka,” ucap peneliti tersebut.
Sejauh ini, pemerintah Bangladesh telah merelokasi hampir 19.000 pengungsi Rohingya ke pulau kontroversial tersebut. [Mohamad Deny Irawan]


















