Lahore, Gontornews — Harga sayuran dan buah-buahan di sejumlah pasar di Pakistan melonjak tajam. Kenaikan ini dipicu rusaknya tanaman serta terganggunya pasokan akibat banjir terburuk dalam beberapa dasa warsa terakhir yang terjadi di negara tetangga India tersebut.
Selain ancaman krisis pangan, Pakistan juga sedang menghadapi ancaman krisis ekonomi seiring terjadinya peningkatan inflasi. Harga konsumen di Pakistan naik hingga 24,9 persen pada bulan Juli. Kondisi ini semakin parah seiring dengan cadangan devisa nasional yang terus menipis serta rekor depresiasi mata uang rupee terhadap dolar Amerika Serikat.
Situasi ini juga membuat situasi di negara berpenduduk 220 juta orang tersebut sangat rentan seiring hujan munson ekstrem terjadi hingga akhir Agustus.
Sejauh ini, bencana banjir di Pakistan telah menewaskan lebih dari 1.100 orang. Tidak hanya itu, kerusakan rumah dan sejumlah infrastruktur kabarnya membuat kerugian material sementara akibat bencana mencapai miliaran dolar Amerika Serikat. Itu belum termasuk kerugian akibat banjir dari sektor pertanian yang perhitungannya belum selesai sepenuhnya.
Di Lahore, yang berbatasan langsung dengan India dan jauh dari wilayah paling terdampak banjir di Sindh, harga beberapa sayuran dan buah-buahan merangkak naik. “Pekan lalu saya bisa menjual bawang merah 90 rupee per kg. Hari ini, harga pemerintah menjadi 300 rupee per kg,” kata Ahmad Ali, seorang penjual sayur di Lahore, kepada Reuters.
Selain bawang merah, harga tomat dan bawang bombai, yang menjadi bahan masakan utama bagi warga Pakistan, juga mengalami kenaikan. “Pasokan sayuran dan buah-buahan ke Lahore semakin hari semakin berkurang karena banjir, hujan dan rusaknya infrastruktur jalan,” ungkap Malik Salim Awan, pemasok sayur dan buah-buahan di pasar buah dan sayur Lahore.
“Sebelum situasi ini terjadi, kami menerima lebih dari 100 truk setiap hari. Sekarang, kami hanya menerima 10 hingga 15 truk (saja),” sambungnya.
Para pejabat di lingkungan pemerintahan Pakistan menyebut ada lebih dari dua juta hektar lahan pertanian yang terendam banjir. Akibatnya, sejumlah tanaman hancur serta membuat petani mengurungkan rencana untuk menabur benih tanaman baru.
“Dulu, harga tomat 60 rupee per kg, sekarang harganya lebih dari 200 rupee. Bahkan, harga tepung naik dua kali lipat,” ucap Sain Bukash Husain, warga desa Garhi Yasin Provinsi Sindh, yang terdampak banjir parah. [Mohamad Deny Irawan]






















