New Delhi, Gontornews — Bantuan darurat pertama dari AS tiba ke India pada 30 April ketika negara itu memerangi lonjakan kasus COVID-19 yang menghancurkan rumah sakit dan krematorium.
Pasokan tiba ketika India mencatat 385.000 kasus baru dalam 24 jam terakhir – rekor dunia baru – dan hampir 3.500 kematian, menurut data resmi yang dicurigai banyak ahli tidak mencapai jumlah sebenarnya.
Pengangkut militer Super Galaxy AS yang membawa lebih dari 400 tabung oksigen, peralatan rumah sakit lain, dan hampir satu juta tes cepat virus korona, mendarat di bandara internasional New Delhi pada 30 April.
Pengiriman bantuan, yang diterbangkan dari pangkalan militer Travis di California, menyusul pembicaraan pekan ini antara Presiden AS Joe Biden dan Perdana Menteri India Narendra Modi.
Pejabat AS mengatakan, penerbangan khusus lainnya, yang juga akan membawa peralatan yang disumbangkan oleh perusahaan dan individu, akan dilanjutkan hingga pekan depan.
Menteri Luar Negeri India, Harsh Vardhan Shringla, mengatakan kepada wartawan, Kamis (29/4), lebih dari 40 negara telah berkomitmen untuk mengirimkan bantuan medis penting, terutama pasokan oksigen, ke negara itu.
Bantuan yang dijanjikan dari Inggris, Rusia, UEA, Qatar, Australia, dan tempat lain termasuk hampir 550 pabrik penghasil oksigen, lebih dari 4.000 konsentrator oksigen, 10.000 tabung oksigen, serta 17 kapal tanker kriogenik.
Ratusan ribu dosis obat COVID-19 serta bahan baku pembuatan vaksin dan remdesivir, juga dikirimkan, tambahnya.
“Ini situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Shringla dikutip Hurriyetdailynews.com.
Jepang yang menjadi negara terbaru menawarkan bantuan, mengumumkan pada hari Jumat (30/4) bahwa mereka akan mengirimkan 300 konsentrator oksigen dan 300 ventilator ke India.
“Jepang mendukung India, teman dan mitra kami, dalam upayanya memerangi pandemi COVID-19 melalui bantuan darurat tambahan ini,” kata kementerian luar negeri.
Lebih dari 200.000 jiwa telah meninggal akibat virus di India, lebih dari 45.000 di antaranya pada bulan April, meskipun banyak negara lain menderita tingkat kematian yang jauh lebih buruk berdasarkan per kapita.
Brasil, dengan populasi sekitar seperenam India, telah mencatat lebih dari 400.000 kematian.
Di banyak daerah di luar hotspot utama New Delhi dan Maharashtra, rumah sakit kehabisan tempat tidur sementara kerabat pasien mati-matian mencari obat-obatan dan tabung oksigen.
Banyak krematorium kekurangan kayu bakar karena lonjakan kematian. Setiap tumpukan kayu (kremasi) membutuhkan antara 300 sampai 400 kilogram kayu.
Sejumlah orang di kota Surat sudah mulai menggunakan kayu yang tidak sepenuhnya kering dan sisa tanaman, menuangkan bensin di atas tumpukan kayu agar kayu yang basah tersebut terbakar dengan baik.
Kamlesh Sailor, manajer Krematorium Kurukshetra di Surat mengatakan, mereka sedang menyiapkan empat tegakan kayu baru.
“Ini akan menjadi tambahan dari delapan tiang tumpukan kayu yang ada dan lima tungku gas yang digunakan sepanjang waktu,” kata Sailor.
Pemerintah India akan membuka vaksinasi untuk semua orang dewasa mulai Sabtu, yang berarti sekitar 600 juta lebih orang akan divaksinasi. []




















