Pengaruh sekulerisme semakin menampakkan taringnya dalam beberapa waktu terakhir. Penggunaan istilah ‘semua agama sama’ hingga persekusi ulama menjadi syiar di sejumlah jaringan pemberitaan nasional. Masyarakat pun semakin permisif. Bagi mereka, ‘asalkan mereka tidak mengganggu, kami tidak masalah’. Pertanyaannya, sadarkah masyarakat bahwa virus sekulerisme itu sudah menyebar bak ‘cancer’ dalam pemikiran kita?
Direktur At-Taqwa College Indonesia, Dr Nirwan Syafrin Manurung, tidak segan menyebut bahwa masyarakat, secara tidak sadar, rupanya sudah terpapar virus sekulerisme itu. Bahkan, ada sekelompok akademisi maupun intelektual yang terang-terangan mendukung ide sekulerisme tersebut.
“Ada yang secara sadar menganut ideologi tersebut, tapi banyak juga yang tidak menyadari bahkan di kalangan intelektualnya. Banyak kaum intelektual Muslim di negeri ini, saat ini, yang kalau mereka bicara terlihat betapa kentalnya nuansa sekuler itu dalam omongannya,” ungkap Direktur Eksekutif At-Taqwa College Indonesia, Dr Nirwan Syafrin Manurung, kepada Majalah Gontor.
“Sayangnya banyak yang tidak sadar bahwa ini adalah dampak dari sekulerisasi,” sambungnya.
Wartawan Majalah Gontor, Mohamad Deny Irawan, berkesempatan mewawancarai menantu Pimpinan Pondok Pesantren Husnayain, KH Cholil Ridwan, itu seputar dampak negatif paham sekulerisme di sektor kehidupan masyarakat dewasa ini. Berikut petikan wawancaranya:
Apa hakikat dari ideologi sekuler bagi tatanan masyarakat?
Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus kembali dulu ke makna sekuler dan sekulerisasi itu sendiri. Seperti yang dinyatakan Harvey Cox bahwa sekulerisasi adalah pembebasan manusia dari kungkungan agama dan kungkungan metafisika terhadap bahasa dan akalnya. Berangkat dari definisi ini, kita bisa pastikan bahwa masyarakat yang di bangun atas sekuler ialah masyarakat yang bebas nilai atau kalaupun punya nilai, nilainya dibangun atas pikiran, syahwat dan kepentingan manusia semata. Atau dalam kata lain hanya pertimbangan duniawi dan sesaat saja.
Mengapa ideologi sekuler itu bisa muncul di tengah-tengah masyarakat?
Kalau konteksnya masyarakat Barat, kemunculan ideologi ini bisa kita pahami. Sebagaimana kita tahu bahwa sebelum lahirnya peradaban modern, Barat dikuasai oleh gerejawan. Otoritas gereja sangat kuat, bahkan, cenderung otoriter. Kisah inkuisisi menjadi bukti atas otoritarianisme gereja. Seiring dengan perkembangan sains, teknologi, dan juga filsafat, sikap gereja ini direspons dengan sangat keras oleh cendekiawan, saintis, dan filsuf Barat. Gereja akhirnya dikritik keras, bahkan ditinggalkan. Di sisi lain, arus perubahan yang disebabkan oleh revolusi sains dan teknologi ternyata memberikan dampak agama yang sangat signifikan terhadap Kristen, begitu juga Yahudi. Untuk menjaga relevansi agama ini dengan perkembangan, maka kaum agamawan pun menyerukan perubahan dalam doktrin-doktrin agama. Mereka menafsir ulang ajaran-ajaran yang selama ratusan tahun dianut. Mereka khawatir jika hal tersebut tidak dilakukan, maka Kristen akan ditinggalkan. Akibat dari sikap ini, Profesor Muhammad Naquib Al-Attas menyebut bahwa Kristen telah terbaratkan, bukan Barat yang terkristenkan. Kristen telah berubah total. Profesor Al-Attas menyebutnya sebagai western version of christianity bukan true version of christianity.
Apakah masyarakat menyadari bahwa mereka telah menjadi seorang yang sekuler?
Ada yang secara sadar menganut ideologi tersebut, tapi banyak juga yang tidak menyadari bahkan di kalangan intelektualnya. Banyak kaum intelektual Muslim di negeri ini, saat ini, yang kalau mereka bicara terlihat betapa kentalnya nuansa sekuler itu dalam omongannya. Salah satu contoh yang sangat jelas ketika para cendekiawan Muslim ramai-ramai menyerukan pada relativisme kebenaran. Mereka selalu mendengungkan bahwa tidak ada nilai yang mutlak, semua relatif. Kita tidak bisa menangkap kemutlakan. Inilah salah satu dampak sekulerisasi, yang oleh Max Webber disebut sebagai deconsecration of values atau menisbikan nilai. Sehingga agama itu sendiri pun dianggap nisbi/relatif. Sayangnya banyak yang tidak sadar bahwa ini dampak dari sekulerisasi.
Mengapa umat Islam sangat mudah terpengaruh ideologi sekuler?
Banyak faktor di balik alasan mengapa umat ini mudah terpengaruh ideologi sekuler. Faktor utama pendidikan. Seperti kata almarhum Profesor Ismail Raji Al-Faruqi, banyak anak muda Muslim di sekolah-sekolah terasingkan dari agamanya, dari nilainya, dari gaya hidup Islami, bahkan dari warisan leluhur mereka. Dan Barat sangat mengerti sekali tentang ini. Maka penjajah Barat setelah mereka berhasil menguasai sebuah negara, maka hal pertama kali yang diubah ialah sistem pendidikan negara yang mereka jajah. Baru kemudian struktur hukumnya. Makanya tidak heran hingga saat ini dunia Islam terus bergumul dengan dua isu ini. Bagaimana sistem pendidikan sekuler ini bisa diubah dan dibangun sebuah sistem pendidikan yang integral dengan agama.
Faktor yang tidak kalah pentingnya ialah pemahaman masyarakat terhadap agamanya. Banyak masyarakat Muslim, termasuk kelompok elitnya, yang tidak paham dengan baik seluk beluk agama mereka, sehingga begitu ada ide yang memesonakan, mereka dengan mudah disusupi ideologi tersebut. Dari sini kita lihat faktor ketiga yaitu keterpesonaan atas kemajuan Barat. Mereka menyangka bahwa untuk bisa maju seperti Barat, maka umat Islam harus menapaki jejak seperti Barat, meninggalkan agama, atau menyekulerkan agama mereka. Ini yang diserukan oleh orang seperti Taha Hussein.
Apa saja bentuk sekulerisasi di sektor pendidikan kita saat ini?
Di sektor pendidikan banyak sekali. Dari orientasi pendidikan saja misalnya. Pendidikan kita seolah ingin dihilangkan dimensi spiritualnya. Pendidikan hanya diarahkan untuk bisa melahirkan pekerja. Tamat langsung bisa kerja. Nilai moralitas tidak lagi jadi pertimbangan, meski di Undang-Undang Pendidikan Nasional kita perbaikan akhlak menjadi salah satu tujuannya. Tapi dalam praktiknya sangat jauh sekali. Belum lagi kita bicara tentang bahan ajar yang disampaikan kepada anak didik, yang sangat sarat ideologi sekulernya. Bahkan lembaga pendidikan berbasis Islam pun sekarang menjadi basis penyebaran sekulerisme. Belakangan ini kita disuguhi dengan tesis atau disertasi yang jelas-jelas menyebarkan kemunkaran. Misalnya menghalalkan hubungan intim di luar nikah, membenarkan pluralisme agama yang menyatakan semua agama sama benarnya, membenarkan LGBT, dan lain sebagainya. Jadi sebenarnya dunia pendidikan kita sangat mengkhawatirkan.
Bagaimana pengaruh sekulerisasi di sektor politik?
Di sektor politik, aroma sekulernya menusuk tajam sekali, sehingga siapa pun tahu bahwa politik di negeri kita bukan lagi untuk kepentingan negara, apalagi masyarakat. Dunia politik nyaris kehilangan kompas moral dan etika. Yang ada hanya kepentingan, kalau bukan golongan, ya pribadi. Politik kita sangat pragmatis dan hanya berorientasi pada kekuasaan. Agama, kata mereka, tidak boleh jadi pertimbangan dalam memilih pemimpinnya. Agama jangan dibawa ke politik, begitu mereka selalu tegaskan. Namun kenyataannya, merekalah yang kerap mempraktikkannya. Begitu masuk Pemilu atau Pilkada, para calon tadi berubah jadi sangat religius.
Apakah ada pengaruh sekulerisasi di bidang hukum?
Di bidang hukum pengaruh ideologi sekuler paling terlihat jelas. Bahkan bisa dkatakan salah satu inti dari sekulerisme ini ada di bidang hukum. Sekulerisme menolak intervensi ‘Tuhan’/agama dalam kehidupan manusia. Orang sekuler tidak mau diatur atau didikte oleh agama. Mereka mencabut hak Tuhan untuk mengaturnya, padahal hidup mereka semua bergantung pada Tuhan. Hukum bagi mereka apa yang disepakati manusia saja, terlepas hukum tersebut sesuai dengan aturan Tuhan atau tidak. Bahkan tidak jarang hukum-hukum tersebut bertentangan dengan hukum Tuhan. Kita lihat misalnya adanya usaha sekelompok orang untuk memberikan legalitas pada praktik LGBT. Ini kan tentu sangat berbahaya sekali.
Apakah sekulerisasi dapat mempengaruhi budaya terkhusus pada negara dengan kebudayaan yang kuat seperti Indonesia?
Budaya juga tidak terlepas dari pengaruh sekulerisme dan sekulerisasi ini. Ketika kehidupan masyarakat sudah sangat permisif, itu bukti sekulerisme telah menghujam dalam kehidupan masyarakat. Halal-haram, baik-buruk, benar-salah bukan lagi dirujuk pada agama, tapi dimensi pragmatis misalnya, atau kepentingan-kepentingan tertentu. Itulah sekulerisasi. Saat ini kehidupan banyak masyarakat di Indonesia sudah tidak peduli lagi dengan aturan agama. Bahkan aturan agama diperolokan, diejek, dibuat jadi momok yang menakutkan. Mereka lebih rela diatur oleh hukum dari Barat daripada hukum agamanya. Saat ini yang menjadi kitab suci banyak orang ialah Hak Asasi Manusia, yang intinya kebebasan mutlak individu. Apa pun yang anggap bertentangan dengan kebebasan individu bisa dianulir. Kesesatan dan kekufuran harus ditolerir atas dasar kebebasan individu tadi. Inilah yang saat ini diagungkan oleh para sekuleris.
Bagaimana sekulerisasi mempengaruhi kehidupan beragama di Indonesia?
Dalam konteks agama, seperti yang saya sebutkan di atas, kesesatan dan kekufuran tidak jadi masalah lagi. Karena salah satu inti sekulerisme dan sekulerisasi ialah relativisme. Jadi tidak ada bagi mereka kebenaran mutlak. Kebenaran terus berevolusi, berkembang seiring dengan perkembangan manusia. Oleh sebab itu, tidak ada seorang pun yang berhak mengklaim dirinya benar atau memiliki kebenaran, sementara yang lain dianggap salah dan sesat. Di bawah payung sekulerisme benar dan salah semua sama. Namun anehnya, meski mereka selalu mendengungkan kesamaan tadi, pada realitasnya hal tersebut tidak terjadi. Penyeru kemungkaran dan kemaksiatan diberi pembelaan, hak mereka dipertahankan, tapi orang yang menyerukan kebaikan, yang mengajak pada agama selalu disalah-salahkan, bahkan cenderung dianggap radikal. Kita sedang berhadapan dengan ekstrem sekulerisme.
Bagaimana solusi menghadapi bahaya sekulerisasi?
Menghadapi sekularisme haruslah dengan ilmu. Karena dengan ilmulah seseorang bisa membedakan mana yang benar dan salah, memilah dan memilih mana yang hak dan yang batil. Dan ilmu pertama yang harus ditanamkan yaitu ilmu tentang agama atau yang disebut dengan ilmu fardu ‘ayn. Salah satu persoalan mendasar umat kita saat ini mereka tidak tahu tentang agama, sehingga mereka kehilangan percaya diri pada agama mereka. Mereka tidak yakin dengan apa yang diimani. Ini yang menjadi judul buku Dr Abdul Qadir ‘Audah berjudul al Islam bayna Jahli abna’ihi wa ‘ajza ulamaihi. Jadi umatnya bodoh, ulamanya lemah. Apalagi kita lihat saat ini banyak ulama yang lebih memprioritaskan urusan dunia.
Apakah fenomena persekusi terhadap ulama merupakan bagian dari efek buruk dari sekulerisme?
Persekusi ulama tentu hal yang sangat menyedihkan. Di tengah umat Islam mayoritas, tapi ulamanya malah tidak bisa bebas dan terjaga untuk menyampaikan amar ma’ruf nahi munkar. Anehnya yang melakukan itu juga umat Islam, ormas Islam, kalau pun yang mempersekusi kelompok non-Muslim tapi dapat dukungan dari kelompok Islam. Ini tentu sangat menyedihkan. Ini efek tidak langsung dari sekulerisme. Masyarakat kita kehilangan adab terhadap ulama. Kalau ulama sudah tidak dipandang, maka umat akan kehilangan rujukan. Kalau umat tidak mengetahui kepada siapa harus bertanya, maka mereka akan berbuat berdasarkan hawa nafsu. Hal ini sepertinya yang sedang dikampanyekan oleh para intelektual sekuler di negara ini. Mereka menanamkan kebencian pada lembaga-lembaga keulamaan. Mereka ingin membubarkan MUI misalnya. Benar kata Profesor Al-Attas bahwa krisis yang dialami umat saat ini ialah krisis adab. Mereka tidak tahu siapa yang harus dijadikan ulama panutan atau pemimpin. Apalagi di era digital sekarang ini, mudah sekali memoles seseorang jadi ulama atau pemimpin. Akhirnya tampillah ulama dan pemimpin palsu yang menggiring manusia pada kesesatan.
Apakah paham sekulerisme mendukung ideologi-ideologi terlarang di Indonesia seperti Komunisme, Leninisme, Marxisme?
Sudah pasti ideologi sekuler akan memberikan ruang kepada ideologi apa saja untuk berkembang termasuk komunisme dan sejenisnya. Dan hal itu mulai bisa kita endus. Atas nama relativisme kebenaran, atas nama kebebasan individu, ideologi terlarang apa pun bisa bebas hidup. Anehnya ideologi terlarang seperti ini diberi kesempatan, tapi ideologi yang mereka anggap “ekstrem kanan” dihabisi. Ini yang disebut di atas tadi bahwa mereka sebenarnya tidak liberal kaffah. Mereka liberal hanya untuk kemaksiatan tapi tidak untuk kebaikan dan kebenaran.
Apa pesan Anda bagi masyarakat?
Pesan saya sederhana saja. Bahwa kita semua akan mati. Tidak ada satu pun yang kekal abadi. Karl Marx mati, Lenin mati, Mao Zedong mati, Soekarno mati, Soeharto juga mati. Setiap kita akan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kita lihat banyak orang yang tadinya ketika berkuasa, populer, begitu sombong dan angkuh terhadap agama. Tapi di akhir hayat, mereka ternyata harus kembali pada agamanya. Karena itu fitrahnya. Karena agamalah yang bisa memberikan kedamaian dan ketenangan. Sekulerisme yang menafikan peran hidup manusia hanya akan membawa kesengsaraan. Berpeganglah pada Islam, hidup kita akan bahagia.[]





















