Yerevan, Gontornews — Bentrokan baru meletus pada hari Kamis (16/7) di perbatasan antara Azerbaijan dan Armenia setelah jeda sepanjang hari. Bentrokan ini memupus harapan akan berakhirnya percekcokan kedua negara.
Setidaknya 16 orang di kedua pihak telah tewas sejak bentrokan meletus pada hari Ahad antar mantan Uni Soviet, yang telah terlibat konflik selama beberapa dekade atas wilayah separatis barat daya Azerbaijan Nagorny Karabakh.
Separatis Etnis Armenia merebut wilayah itu dalam perang 1990-an yang menewaskan 30.000 orang, meskipun pertempuran baru-baru ini pecah di bagian perbatasan bersama kedua negara, jauh dari Karabakh.
Pertempuran itu berpusat di wilayah utara Tovuz di Azerbaijan dan Tavush di Armenia, dan penduduk desa setempat mengatakan kepada AFP bahwa mereka mengkhawatirkan nyawanya.
“Tembakan artileri menghantam halaman kami, 10 meter dari rumah,” kata Shain Abiyev, warga Desa Dondar Quscu, Azerbaijan, dekat perbatasan.
“Untungnya keluarga saya tidak di rumah, tetapi jika mereka berada di rumah akan ada tragedi.”
Bentrokan pecah pada hari Ahad. Kedua pihak bertukar tembakan artileri dan mortir selama tiga hari hingga jeda pada hari Rabu setelah ada seruan internasional untuk menahan diri.
Kementerian Pertahanan kedua negara mengatakan penembakan telah dimulai kembali pada Kamis dini hari. Kedua belah pihak saling menyalahkan.
Jurubicara Kementerian Pertahanan Armenia Sushan Stepanyan mengatakan, pasukan Azerbaijan “menembaki desa-desa Armenia dengan mortir dan howitzer” di Tavush.
Pasukan Armenia merespons dan “menghancurkan posisi tank dan artileri musuh tempat mereka menembaki desa-desa Armenia,” kata Stepanyan.
“Kami mengendalikan situasi,” kata Perdana Menteri Armenia Nikol Pashinyan.
Pada pertemuan cabinet dia mengatakan, βada yang terbunuh dan terluka di pihak musuh” tetapi “tidak ada kerugian di antara prajurit kami atau warga sipil.”
Kementerian pertahanan di Baku menyalahkan pasukan Armenia atas pertempuran baru itu, dengan mengatakan bahwa bentrokan dimulai di utara setelah “warga Armenia menembaki desa-desa Azerbaijan dengan senjata kaliber besar.” []






















