Amman, Gontornews — Pengadilan terhadap kerabat jauh Raja Yordania Abdullah dan mantan kepala pengadilan kerajaan, yang dituduh mengacaukan monarki, akan dimulai pekan depan di negara itu. Media pemerintah melaporkan pada hari Ahad dikutip laman dw.com.
Sharif Hassan Zaid dan Bassem Awadallah ditangkap pada awal April pada saat yang sama ketika mantan pewaris takhta, Pangeran Hamzah, ditempatkan di bawah tahanan rumah.
Hamzah sedang diselidiki karena menjadi bagian dari komplotan internasional melawan monarki sampai dia berjanji mendukung Raja Abdullah beberapa hari kemudian.
Sekutu AS, Yordania, yang sering dianggap sebagai salah satu negara paling stabil di Timur Tengah, menjadi sorotan pada 4 April, ketika mantan pewaris takhta Pangeran Hamzah ditempatkan di bawah tahanan rumah.
Dalam sebuah video dia menyangkal semua tuduhan kepadanya, dan berkata, “Apa yang telah dikatakan secara resmi bukanlah cerminan dari apa yang sebenarnya terjadi di lapangan.”
Pangeran Hamzah kemudian berjanji setia kepada Raja Abdullah dan menyelesaikan perselisihannya dengan raja Yordania.
Hampir 20 orang ditangkap dalam penyelidikan yang disebut sebagai rencana yang “terorganisasi dengan baik” terhadap Raja Abdullah II.
Sebagian besar negara Timur Tengah termasuk Arab Saudi serta Amerika Serikat mendukung Raja Abdullah.
Awadallah yang berpendidikan AS telah menjadi anggota istana kerajaan hingga 2008 dan memimpin serangkaian reformasi ekonomi sebagai menteri keuangan untuk raja Yordania.
Sedangkan Sharif Hassan Zaid, seorang yang relatif tidak dikenal, sebelumnya adalah utusan Raja Abdullah untuk Arab Saudi. Dia diyakini saudara dari Kapten Ali bin Zaid, yang terbunuh oleh bom bunuh diri tahun 2009 di markas intelijen AS di Afghanistan. []






















