Idul Adha, hari raya ketika umat Islam di seluruh dunia melaksanakan Shalat Id dan ibadah kurban, menjadi momen yang paling dinanti setelah Hari Raya Idul Fitri berlalu. Walaupun berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pelaksanaan Shalat Idul Adha selama pandemi COVID-19 ditekankan untuk menerapkan protokol kesehatan, banyak umat Islam yang melaksanakannya dengan sukacita. Tidak terkecuali dengan ibadah kurban. Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) misalnya, pada tahun 2020 menyelenggarakan penyembelihan hewan kurban dalam Program Kurban Online BAZNAS di 58 titik penyaluran di 229 desa, 54 kabupaten/kota di 24 provinsi di Indonesia.
Direktur Utama BAZNAS Mohamad Arifin Purwakananta mengatakan, dalam kondisi sulit akibat pandemi COVID-19 ternyata masih banyak masyarakat yang saling membantu terutama dalam momentum kurban.
“Kedermawanan masyarakat Indonesia dalam berkurban telah terbukti. Kami percaya kondisi ini bisa menggugah masyarakat terutama kelas menengah ke atas untuk meningkatkan semangat berbagi dan berkurban,” ungkapnya kepada Majalah Gontor.
Berbicara tentang kurban di masa pandemi, Wartawan Majalah Gontor Muhammad Khaerul Muttaqien berkesempatan mewawancarai Direktur Utama BAZNAS Mohamad Arifin Purwakananta. Berikut petikan wawancaranya:
 Apa filosofi di balik syariat kurban dan apa manfaatnya?
Saya kira kita memahami bahwa kurban adalah syariat Islam yang dicontohkan oleh Nabi Ibrahim AS, Nabi Ismail AS, dan keluarganya. Pengurbanan menjadi suatu kekuatan bagi kehidupan atau keluarga dalam mengarungi bahtera kehidupan dan nilai-nilai ini masih sangat relevan hingga hari ini. Namun BAZNAS mencoba memberikan value tambahan atas makna kurban ini yaitu agar kurban yang menjadi ketaatan, simbol pengurbanan, simbol kepedulian itu dapat dimanfaatkan untuk pemberdayaan dengan mengangkat tema kurban yang memberdayakan desa. Jadi BAZNAS mendorong kurban-kurban itu dengan membeli dari peternak-peternak yang ada di desa kemudian memotong di desa dan membagikannya di desa untuk mereka yang membutuhkan. Dengan demikian maka kurban yang merupakan momentum pengurbanan kita kepada Allah juga memiliki nilai pemberdayaan. Peternak-peternak kecil di desa bisa mendapatkan berkahnya yang tidak saja kambing, domba dan sapinya dibeli untuk kurban, tapi juga dagingnya dipotong di desa-desa sehingga banyak keluarga dhuafa dapat menikmati daging-daging kurban. Bahkan juga kulit, tulang, dan sebagainya, yang dapat mendorong ekonomi kreatif seperti usaha kulit di desa-desa.
Menurut Anda apakah ada ketidaktepatan dalam pelaksanaan kurban yang terjadi selama ini? Bagaimana solusi mengatasinya?
Saya kira pelaksanaan kurban di Indonesia sudah berjalan dengan baik. Memang kita bisa menyaksikan penumpukan daging kurban di beberapa daerah dan kota-kota tertentu. Tetapi hal ini bukanlah masalah, karena ini merupakan syiar dakwah dan keberkahan tersendiri bagi kaum Muslimin dengan banyaknya yang menjalankan ritual ibadah khusus pemotongan hewan kurban ini. Alangkah baiknya umpama bisa diperbaiki dengan mendistribusikan hewan kurban itu ke tempat-tempat atau daerah yang lebih membutuhkan. Tentu saja hal ini akan meningkatkan keberkahan apabila para pekurban yang berada di kota atau daerah yang makmur bisa membeli hewan kurban untuk dibagikan ke daerah-daerah yang miskin dan lebih membutuhkan asupan gizi untuk mengatasi stunting dan lain sebagainya.
Apakah ada ketentuan khusus tentang bagaimana kurban itu didistribusikan? Kapan saat yang tepat untuk mendistribusikan daging kurban?
Dari sisi fiqh sudah diketahui bahwa pendistribusian daging kurban memiliki waktu tertentu dengan hikmahnya agar daging hewan kurban tersebut tidak rusak dan masih dalam kondisi baik (thayyib). Saya kira pelaksanaan kurban di hari tasyrik sesuai dengan ajaran dari Rasulullah yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat Muslim Indonesia dan dunia. Apabila pemotongan hewan kurban berada di luar hari tasyrik tersebut maka akan bernilai seperti sedekah biasa.
Apakah lembaga zakat juga berperan dalam memfasilitasi masyarakat yang ingin berkurban dan mendistribusikan kurban dari masyarakat?
Saat ini banyak panitia kurban termasuk juga di dalamnya ada BAZNAS dan berbagai Lembaga Amil Zakat yang memfasilitasi masyarakat untuk pemotongan hewan kurban, juga membantu untuk pendistribusiannya. Saya kira ini merupakan tradisi yang baik. Lebih mendorong masyarakat untuk lebih berdaya dan menambah jumlah masyarakat yang terdorong untuk berkurban. Sehingga dari tahun ke tahun jumlah para pekurban semakin meningkat.
Kalau untuk membayar zakat infak sedekah, ada yang mengatakan sebaiknya di lembaga zakat karena bisa digunakan untuk program pengentasan kemiskinan kalau untuk ibadah kurban ini di mana sebaiknya umat Islam berkurban?
Perihal zakat, infak dan sedekah, BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat resmi lainnya memang mendorong masyarakat Indonesia khususnya para muzakki untuk melaksanakan zakatnya melalui BAZNAS atau Lembaga Amil Zakat lainnya yang tepercaya. Karena lembaga tersebut sudah terdaftar, teraudit dan memiliki laporan perkembangannya. Sehingga dana yang dihimpun dapat disalurkan dengan baik sesuai ukuran serta ada pendampingan dan bimbingan yang baik. Begitu pula dengan pengelolaan kurban, BAZNAS dan beberapa Lembaga Amil Zakat lainnya juga menyediakan unit pengelolaan kurban untuk pemberdayaan yang tidak hanya di satu daerah yang merasakan tapi semua daerah bisa merasakan manfaat kurban secara merata.
Dalam banyak penjelasan katanya selama pandemi ini jumlah ZIS yang dihimpun OPZ mengalami peningkatan, apakah kurban juga demikian?
Mengenai pandemi, pandemi ini menghasilkan berbagai model dalam kurva zakat di Indonesia. Beberapa BAZNAS dan juga Lembaga Amil Zakat yang tidak siap dalam mengelola digital yang hanya melayani zakat melalui konter, pertemuan-pertemuan itu akhirnya pada masa pandemi menjadi sulit dalam mengajak masyarakat untuk berzakat maupun melayani zakat. Tetapi BAZNAS yang menyiapkan lebih baik layanan digitalnya, ternyata donasi yang dihimpun zakat, infak, sedekah dan dana sosial keagamaan lainnya itu meningkat 30 persen bahkan 35 persen dari tahun lalu. Karena pada masa pandemi masyarakat menghindari kontak, menghindari penggunaan uang kertas, dan melaksanakan zakat dan kurbannya melalui digital. Dengan demikian tidak ada halangan bagi BAZNAS dan beberapa Lembaga Amil Zakat yang sudah siap dengan pengelolaan digital ketika melayani masyarakat dalam melaksanakan zakat, infak, sedekah dan juga kurban.
Berapa hewan kurban dari masyarakat yang didistribusikan lewat BAZNAS?
Saya kira di seluruh Indonesia banyak sekali hewan kurban yang disalurkan melalui BAZNAS. Di BAZNAS pusat misalnya kami bisa menghimpun sekitar 8.000 ekor kambing. Dari sekitar 500 BAZNAS dan Lembaga Amil Zakat (LAZ) bisa menghimpun kurban di seluruh Indonesia sekitar 5 juta hewan kurban per tahun. Selebihnya masyarakat berkurban melalui masjid-masjid dan berbagai kepanitiaan kurban lainnya yang jumlahnya lebih besar lagi dibandingkan yang dihimpun oleh lembaga-lembaga amil zakat yang resmi. Saya kira ini menjadi kenyataan di Indonesia. Kami selaku BAZNAS sangat mendukung program-program yang dilakukan BAZNAS, LAZ dan juga yang dilakukan masyarakat selama sesuai dengan syariah dan memiliki dampak yang baik bagi masyarakat Indonesia
Selama ini ke mana BAZNAS mendistribusikan daging kurban dan dalam bentuk apa kurban itu didistribusikan apakah daging fresh atau sudah diolah menjadi makanan kaleng?
Karena kami menggunakan kurban sebagai alat untuk pemberdayaan maka fokus kami bukan pada pengalengan daging kurban, tapi pada berapa banyak jumlah peternak mustahik yang dapat dibeli kambingnya, dombanya, dan sapinya. Setelah membeli hewan kurban dari peternak-peternak desa, kami juga memotong hewan kurban tersebut di desa-desa dan dibagikan di desa-desa. Jadi tidak perlu harus mengerahkan kambing-kambing, domba-domba dan sapi-sapi ke kota untuk dikalengkan. Tetapi kami berfokus pada pemberdayaan peternak-peternak di desa-desa dan membagikannya di desa-desa. Harus diketahui bahwa selama ini ketika kurban, desa-desa memasok kambing, domba, sapi ke kota-kota dan kemudian dipotong oleh orang-orang kota untuk kurban di kota dan sekitarnya, kami ubah sedikit dengan membeli dari peternak-peternak desa tapi kami potong di desa untuk menggerakkan peternakan dan memberikan bantuan pangan kepada masyarakat desa dengan memperoleh daging kurban.
Bersamaan dengan masa pandemi COVID-19 apa harapan yang ingin Anda sampaikan terkait ibadah kurban ini?
Pada intinya BAZNAS mendorong pelaksanaan kurban dilakukan sesuai dengan protokol kesehatan. Sehingga pelaksanaan kurban tetap terjaga syiarnya dan tidak menimbulkan cluster baru penyebaran Covid. Kami berharap dan juga menghimbau kepada para peternak, pekurban, panitia kurban dan semua yang ada dalam ruang lingkup kurban untuk menerapkan protokol kesehatan agar pelaksanaan pembagian kurban ini dapat dilakukan dengan selamat, sehat dan memberikan dampak yang baik bagi masyarakat desa. []


















