Washington, Gontornews — Perusahaan pesawat terbang asal Amerika Serikat, Boeing inc, berhasil menerbangkan pesawat Boeing jenis 777X yang dinilai lebih besar dan efisien ketimbang Boeing 777 mini jumbo yang kini sukses di pasar penerbangan internasional.
Keberhasilan ini juga diharapkan dapat meningkatkan persaingan dengan perusahaan pesawat asal Eropa, Airbus, yang mengeluarkan Airbus A350-1000.
Pada Jumat (24/1), pesawat Boeing seri 777X berhasil melewati uji penerbangan pertama dari Seattle pada pukul 10.09 waktu setempat dan mendarat pada pukul 2.00 malam. Uji coba penerbangan kali ini adalah uji coba pertama dari tiga kesempatan. Dua kesempatan uji coba lainnya dibatalkan akibat angin kencang.
Seorang pejabat Boeing mengatakan bahwa dalam beberapa bulan ke depan, proses pengujian dan sertifikasi akan dilaksanakan. Maskapai penerbagan asal Dubai, Emirates, menjadi pembeli pertama pada 2021 atau setahun lebih lama dari yang dijadwalkan karena hambatan dalam pengembangan.
Pesawat ini diklaim lebih besar dari dua versi yang direncanakan Boeing sebelumnya. Secara resmi, pesawat jenis ini diberi nama Boeing 777-9 meski kode pengembangannya bernama Boeing 777X.
Salah satu fitur baru yang paling terlihat adalah ujung sayap pesawat yang terbuat dari karbon-komposit agar bisa dilipat saat masuk ke lokasi parkir.
Kesuksesan penerbangan Boeing 737-9 ini juga pendorong Boeing yang tengah bergulat dengan krisis pascakecelakaan fatal Boeing 737 MAX di Indonesia dan Ethiopia.
“Bagi saya, (pesawat jenis ini) lebih unggul dari maskapai besar yang ada di seluruh dunia. (Pesawat) ini merupakan langkah besar yang kita lakukan sebagai sebuah perusahaan,” ungkap Direktur Pemasaran Boeing 777X, Wendi Sowers, kepada Reuters.
Sowers juga menyampaikan bahwa hingga saat ini, pihaknya berhasil menjual sektiar 390 unit pesawat Boeing 777-9 senilai 442 juta dolar AS atau sekitar 6 triliun rupiah.
Boeing 777X akan bersaing dengan Airbus A350-1000 dengan kapasitas 360 penumpang. Keduanya merepresentasikan efisiensi jet bermesin ganda demi meninggalkan jenis pesawat bermesin empat.
Kedua pesawat tersebut terus bersaing untuk efisiensi dari mesit jet terbaru mereka. Namun, keduanya tengah berada dalam kekhawatiran terkait dengan permintaan serta tanda-tanda pelemahan ekonomi global. [Mohamad Deny Irawan]




















