Kilis, Gontornews — Sebuah truk bahan bakar meledak di pusat kota yang sibuk yang dikuasai pemberontak di dekat perbatasan Suriah dengan Turki pada hari Sabtu (7/1), menewaskan puluhan orang dan melukai puluhan lainnya.
Ledakan itu menghantam dekat pasar yang ramai di depan sebuah gedung pengadilan di Azaz, menewaskan sedikitnya 48 orang. Korban tewas diperkirakan akan meningkat. Demikian dikatakan Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris.
Rami Abdurrahman, kepala Observatorium, mengatakan ledakan itu disebabkan oleh tanker bahan bakar.
Perang Suriah yang berlangsung hampir enam tahun telah menciptakan ‘tambal sulam’ pengontrol keamanan di seluruh negeri. Kota Azaz merupakan kubu utama dari Tentara Pembebasan Suriah (FSA) yang didukung Turki. Sekitar 14 dari mereka yang tewas adalah pejuang pemberontak atau penjaga gedung pengadilan.
Gambar yang dishare secara online menunjukkan gumpalan besar asap hitam membubung tinggi di atas pasar. Suasana kacau, terdengar suara tembakan. Mayat berserakan di tanah. Tampak seorang ayah berlari dengan memeluk anaknya.
Sementara itu, kelompok aktivis lainnya, Azaz Media Center, menyebutkan korban tewas 50 orang. Operasi pencarian dan penyelamatan korban ledakan terus dilakukanuntuk setidaknya dua jam setelah ledakan terjadi.
Observatorium Suriah mengatakan, ledakan terjadi di dekat pengadilan setempat yang dikuasai oleh pemberontak.
Serangan itu adalah yang terbaru dalam serangkaian pemboman yang menghantam Azaz, 16 km selatan Kota Kilis, Turki.
Daerah ini merupakan kubu pemberontak Suriah yang didukung Turki. Mereka terlibat dalam operasi besar yang bertujuan membersihkan wilayah perbatasan kedua negara dari kelompok ISIS.
Aljazeera menyebutkan, sejauh ini belum ada yang mengaku bertanggung jawab atas serangan itu.
“Azaz adalah kota yang sangat strategis. ISIS menguasai kota itu sejak 2013, tapi kelompok itu digusur oleh Tentara Pembebasan Suriah baru-baru ini. ISIS berusaha untuk kembali menguasai kot itu,” tulis Aljazeera.
Banyak pemberontak dan warga sipil yang dipaksa keluar dari Kota Aleppo oleh pasukan pemerintah akhir tahun lalu, kini bermukim di Azaz.[Rusdiono Mukri]



















