Rio De Janeiro, Gontornews — Brazil, Jum’at (8/10/2021), menjadi negara kedua yang melewati 600.000 kematian, setelah Amerika Serikat, akibat Covid-19. Pada Jum’at (8/10/2021), Kementerian Kesehatan Brazil melaporkan 615 kematian Covid-19 sehingga mencatatkan total 600.425 kematian akibat Covid-19. Milestone ini sekaligus menjadi tonggak sejarah kelam bagi pemerintah Brazil yang salah dalam mengelola wabah.
Presiden Brazil, Jair Bolsonaro telah memicu kemarahan para ahli kesehatan karena gagal menerapkan langkah-langkah dalam mengatasi pandemi. Ia mencerca kebijakan penguncian, menyuarakan keraguan terhadap vaksin dan menolak penggunaan masker di depan umum.
Terlepas dari pencapaian 600.000 kematian akibat Covid-19, pemerintah Brazil mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan infeksi seiring dengan percepatan vaksinasi. Saat ini, lebih dari 70 persen warga Brazil telah menerima setidaknya dosis vaksin pertama.
“Tingkat penolakan vaksin sangat rendah. Itu membuat negara lain iri,” ungkap kepala epidemologi dari Sao Paolo State University, Naime Barbosa, sebagaimana dilansir Reuters.
“Itu sangat penting bagi Brazil untuk menahan pandemi,” sambung Barbosa.
Barbosa menduga Brazil telah melewati dampak buruk dari varian Delta. Meski varian tersebut lebih menular, daftar penambahan kasus positif dan kematian akibat varian tersebut tersu mengalami penurunan.
Angka kematian akibat Covid-19 turun 80 persen dari puncaknya yang mencatatkan 3000 kematian per hari pada bulan Apri lalu. Sejak saat itu, Brazil belum pernah lagi mencatatkan angka kematian harian tertinggi di dunia tersebut.
Pakar kesehatan menduga bahwa ledakan Covid-19 di Brazil terjadi karena varian Gamma, atau P1. Varian Gamma, mungkin, telah mempengaruhi masuknya varian Delta yang sangat menular dan mendorong lonjakan kasus secara signifikan.
“Kami harus membayar mahal karena hidup bersama (varian) Gamma telah mengakibatkan kekebalan masyarakat menjadi parsial ketika Delta menyebar,” ungkap ahli virologi dari Feevale University di Rio Grande do Sul, Fernando Spilki. [Mohamad Deny Irawan]






















