Brasilia, Gontornews — Pemerintah Brazil, Senin (15/05/2023), mengonfirmasi temuan kasus flu burung Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pertama yang menginfeksi unggas liar di wilayahnya. Pemerintah berharap temuan ini tidak memicu larangan impor unggas asal Brazil sebagaimana tertuang dalam pedoman Organisasi Kesehatan Hewan Dunia atau World Organization of Animal Health (WOAH).
Reuters mencatat Brazil sebagai negara pengekspor ayam terbesar di dunia. Tahun lalu, ekspor ayam asal Brazil naik 27 persen hingga mencapai 9,76 miliar dolar Amerika Serikat seiring merebaknya wabah virus global tersebut. Namun, negara Amerika Selatan tersebut tidak mencacatkan satu pun kasus flu burung sampai sekarang.
Secara rinci, pemerintah Brazil mengonfirmasi virus influenza subtipe H5N1 pada dua burung laut dari spesies Thalasseus auflavidus di negara bagian Espirito Santo di tenggara Brazil. Negara bagian Espirito Santo merupakan negara bagian penghasil telur terbesar ketiga di Brazil. Sementara penghasil unggas utama di Brazil terdapat di ujung Selatan dan Barat Tengah.
Akibat temuan ini, pemerintah juga mengintensifkan layanan pengawasan epidemiologis untuk mendeteksi potensi kasus pada hewan liar dan komersial di daerah yang dekat dengan tempat kasus terkonfirmasi. Pada saat yang bersamaan, Kementerian Pertanian Brazil memastikan bahwa temuan kasus ini tidak mempengaruhi status Brazil sebagai negara bebas HPAI.
Miguel Gularte, CEO BRF, perusahaan pengekspor ayam terbesar di dunia asal Brazil, mengatakan pihaknya tidak terkejut dengan temuan virus HPAI di wilayahnya. BRF, kata Gularte, bahkan siap mengikuti skenario apapun yang digulirkan oleh pemerintah.
Pada bulan April, importir utama produk ayam Brazil pada bulan April adalah Cina, Jepang, Afrika Selatan dan Arab Saudi. Sementara itu, Cina telah melarang impor unggas dari hampir 40 negara bagian Amerika Serikat karena wabah flu burung di peternakan unggas komersial.
Sedangkan Argentina, tetangga Brazil, menangguhkan ekspor unggasnya pada akhir Februari setelah mencatat kasus pertama flu burung di industri unggasnya di provinsi Rio Negro.
Sejumlah besar ayam, kalkun dan unggas lain telah mati akibat wabah yang menyerang Amerika Serikat, Eropa, Inggris, Amerika Selatan, Afrika hingga Asia. Hilangnya kawanan unggas ini telah menyebabkan harga telur dan daging ayam melonjak tinggi di beberapa tempat. [Mohamad Deny Irawan]























