Kebanyakan pemuda pemudi, mahasiswa dan mahasiswi, malam Minggu menjadi kesempatan untuk menikmati kesenangan jasmani. Jarang malam Minggu digunakan untuk kesempatan meningkatkan kebahagiaan ruhani. Banyak tempat hiburan, mal, cafe dan tempat kongkow lainnya termasuk di pinggir jalan, penuh dengan pemuda pemudi di malam Minggu. Menghadirkan suasana ilmiah dengan pembahasan yang tinggi dan mendalam secara istiqamah di malam Minggu masih merupakan sesuatu yang jarang dilakukan kalangan akademisi.
Namun, suasana malam Minggu berbeda terjadi di Raja Zarith Sofiah Centre for Advanced Studies on Islam, Science & Civilisation (RZS-CASIS), Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur. Perbedaan ini terjadi namun masih sebulan sekali. Bagi para pecinta ilmu yang merindukan berulangnya kejayaan Islam masa lalu agar bisa kembali berulang di masa sekarang, sangat disarankan untuk bisa menyimak Kuliah Umum yang disampaikan Prof Dr Wan Mohd Nor Wan Daud, intelektual sekaligus pejuang terkemuka gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer. Prof. Wan memberi Kuliah Umum Sabtu Malam sebulan sekali. Kuliah Umum ini (Saturday Night Lecture) diselenggarakan oleh RZS-CASIS, Universiti Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur.
Di dalam Kuliah Terbuka ini, Prof Wan menyampaikan pemikiran dalam bukunya berjudul The Educational Philosophy of Syed Muhammad Naquib al-Attas (Kuala Lumpur: ISTAC, 1998). Buku yang telah terbit sekitar 21 tahun yang lalu ini memaparkan berbagai persoalan keilmuan yang penting seperti bahaya konsep keilmuan yang rusak, mengingatkan bahaya keilmuan yang telah mengenyampingkan Wahyu sebagai sumber ilmu dan fenomena sekularisasi dan dikotomisasi ilmu yang terstruktur, sistemik dan massif yang membawa kerusakan besar kepada kehidupan manusia dan beberapa persoalan penting lainnya. Buku ini bukan hanya merupakan pemikiran tapi sekaligus juga pengalaman hidup Prof Wan dalam memperjuangkan konsep Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer dalam aktivitasnya sebagai akademisi terkemuka.
Eksplorasi Prof Wan terhadap gagasan Gurunya sekaligus Sahabat karibnya, yaitu Prof Dr Syed Muhammad Naquib al-Attas, pendiri ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization), tentang Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh para muridnya di ISTAC, yaitu Dr Hamid Fahmi Zarkasyi, Dr Arifin Ismail dan Dr Iskandar Arnel. Elaborasi Prof Wan tentu saja diperkaya terutama dengan pengalaman hidupnya sebagai Wakil Direktur ISTAC, yang dahulu Direkturnya adalah Prof al-Attas. Tentu banyak pengalaman Prof Wan lainnya, selama memperjuangkan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, yang perlu untuk diketahui para pecinta ilmu.
Kuliah Sabtu Malam Prof Wan merupakan salah satu bentuk budaya ilmu. Kuliah Sabtu Malam ini melanjutkan budaya keilmuan yang telah dilakukan Prof al-Attas sejak 30 tahun lalu. Prof al-Attas mengadakan kuliah terbuka setiap Sabtu Malam sekitar awal tahun 1990-an. Para dosen dari mancanegara di ISTAC dan dari beberapa kampus datang menghadiri kuliah terbuka tersebut. Selain mahasiswa ISTAC, pecinta ilmu dari beberapa kampus juga menyimak kuliah itu. Penulis yang saat itu masih belajar di International Islamic University Malaysia (IIUM), sangat bersyukur karena biarpun masih belum menjadi mahasiswa di ISTAC, namun secara rutin setiap Sabtu Malam menghadiri Kuliah Umum Prof al-Attas.
Tahun 1994, penulis yang saat itu mengambil jurusan filsafat di IIUM, bersama beberapa mahasiswa IIUM lainnya menghadiri secara rutin Kuliah Umum Sabtu Malam itu. Secara mendalam, Prof al-Attas memaparkan berbagai persoalan keilmuan yang penting bagi para pecinta ilmu seperti ideologi sekular yang telah menceraikan ilmu dari Wahyu sehingga mengakibatkan persoalan ontologis, epistemologis dan aksiologis kepada ilmu pengetahuan. Prof Wan selalu menemani Prof al-Attas (suhbatu ustadzin) dengan menjadi moderator selama belasan tahun pada setiap acara Sabtu Malam itu. Dalam konteks keilmuan Islam, keberkahan dan berbagai aspek yang lebih mendalam, ada pada kedekatan. Dalam konteks tasawuf disebut irfan. Bukan sekedar mengetahui, tapi ada pengalaman, kedekatan, keberkahan, unsur-unsur ruhani, yang tersampaikan dalam kedekatan dengan guru.
Kuliah terbuka Prof al-Attas dimulai jam 9.00 malam tepat dan berakhir jam 11.00 malam. Setelah acara diskusi selesai, refreshment dihidangkan. Kue karipap dan lainnya beserta teh/kopi hangat tersedia. Prof al-Attas juga menyempatkan diri untuk duduk bersama para pecinta ilmu melanjutkan diskusi informal, sembari menikmati kopi dan kue. Terkadang penulis ikut duduk mendengarkan dan menyimak pertanyaan peserta dalam diskusi itu. Setelah diskusi informal, suasana akan berakhir sekitar jam 12 malam. Di Malaysia, jika sudah jam 12 malam, transportasi publik hanya tinggal taksi. Ongkos taksi di tengah malam naik 50 persen. Kami rutin berjalan kaki menuju asrama mahasiswa di Bangsar yang berjarak sekitar 5 km. Setiap Sabtu Malam, kami berjalan kaki sekitar 1 jam untuk pulang ke asrama sambil diskusi. Kami menyebut seperti di Zaman Aristoteles, belajar juga dilakukan sambil berjalan kaki (peripatetik/al-mashaiyyun, yang artinya orang-orang yang berjalan kaki).
Namun, sekitar tahun 2001, otonomi ISTAC dicabut akibat persoalan politik di Malaysia saat itu. Akibatnya, budaya Kuliah Umum Sabtu Malam Prof al-Attas berakhir. Padahal, budaya Kuliah Umum Sabtu Malam, merupakan wadah terbuka, bermanfaat bagi semua pecinta ilmu. Mereka bisa hadir tanpa harus menjadi mahasiswa di institusi khusus.
Terinspirasi budaya ilmu Sabtu Malam oleh Prof Al-Attas di ISTAC, INSISTS (Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations) yang didirikan oleh para mahasiswa yang pernah belajar di ISTAC, mengadakan diskusi Sabtuan di Jakarta sejak tahun 2006. Diskusi Sabtuan INSISTS sebelumnya digelar di Malaysia. Belasan tahun telah berlalu, INSISTS hingga kini masih mengadakan Diskusi Sabtu. Beberapa tahun terakhir ini, Diskusi INSISTS dibuat menjadi Diskusi Dwi-Pekanan. Diskusi Sabtuan atau Dwi-Pekanan dilakukan di siang hari.
Saat ini, Prof al-Attas sudah berusia 88 tahun sehingga tidak memungkinkan mengisi Kuliah Umum secara rutin. Apalagi ISTAC yang didirikan oleh Prof al-Attas juga sudah tidak ada lagi. Namun, bagi yang merindukan pemikiran Prof Al-Attas, bagi yang tertarik dan yang sudah membaca buku Prof Wan, bagi yang tertarik memperjuangkan gagasan Islamisasi Ilmu Pengetahuan Kontemporer, maka Kuliah Umum Prof Wan di RZS-CASIS, UTM Kuala Lumpur, bagaikan air yang menghilangkan dahaga di gurun. Para pencari ilmu perlu menempuh perjalanan panjang untuk mencari ilmu. Dalam tradisi keilmuan Islam, dalam rihlah ilmiyah, tidak ada pencari ilmu yang tidak keluar jauh untuk mencari ilmu. Kuliah Umum Prof Wan akan ada lagi pada Hari Sabtu tanggal 24 Agustus, 28 September, 19 Oktober, 30 November dan 14 Desember 2019. Kuliah Umum ini gratis. Para pecinta ilmu di Indonesia khususnya, mungkin Anda ingin melakukan rihlah ilmiyah, maka Sabtu Malam, kajian terbuka Prof Wan, bisa menjadi salah satu tujuan Anda. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, termasuk melakukan rihlah ilmiyah. Silakan merujuk ke (facebook.com/CASIS.UTM atau [email protected] atau www.utm.my/casis). []




















