Dunia ini memang beragam. Ada yang membangun, ada yang merusak. Ada yang mengajari berprestasi, ada yang mengajar korupsi. Baik korupsi materi maupun korupsi nilai. Ada program car-free day, tapi juga muncul juga kampanye childfree by choice.
Childfree dengan pengertian niat menikah tapi tidak mau punya anak pada hakikatnya adalah perilaku generasi pendek akal, pendek cita-cita, pesimis dan antimasa depan.
Dulu ada international childfree day atau hari tanpa anak internasional. Gerakan itu dikampanyekan setiap 1 Agustus oleh national organization for non parent (NON) di Amerika Serikat sekitar 1972 atau 1973. Tujuan childfree day awalnya untuk mengumpulkan dan menghibur kumpulan pasangan yang menghadapi kritik dan cemooh di Amerika Serikat, sebab mereka memutuskan tidak mau punya anak. Perayaan 1 Agustus ini juga bertujuan agar masyarakat Amerika mau menerima secara terbuka bagi pasangan yang ingin menikmati hidupnya tanpa beban anak.
Prinsip hidup mau enak tanpa anak ditopang paham individualisme dan feminisme pada akhirnya melandasi pola individualistis masyarakat Barat.
Isu-isu ketubuhan perempuan yang tertuang dalam slogan, “My body my right”, atau “My body my choice”, khususnya hak mutlak mengelola organ reproduksi sendiri tanpa intervensi agama dan negara yang menjadi pandangan hidup (worldview) kaum feminis kian marak digaungkan. Faktor fertility atau kesuburan yang selalu ditunjuk-tunjuk aktivis gender sebagai penyebab perempuan mengalami diskriminasi, marginalisasi dan kekerasan rumah tangga seolah-olah menambahkan pembenaran kampanye childfree.
Provokasi feminis bahwa perempuan dijajah oleh laki-laki karena mengandung dan berketurunan berdampak negatif dalam kehidupan bernegara. Provokasi itu membuat pertumbuhan penduduk merosot. Bahkan di beberapa negara di Barat mencapai angka minus; jumlah yang mati lebih banyak daripada angka yang lahir.
Padahal, beragam benefit diberikan negara bagi kaum wanita yang mau punya anak. Di antaranya meliputi pra dan pascamelahirkan seperti layanan kesehatan gratis, cuti kerja bergaji, hingga tunjangan uang pengasuhan dan pendidikan anak.
Namun dampak provokasi childfree dan paham individualisme serta feminisme terlanjur mengakar kokoh dalam gaya hidup masyarakat barat.
Dulu ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan bertanya, “saya telah mendapati atau berkenalan dengan perempuan yang tinggi status sosialnya dan dia juga sangat cantik, (inni ashabtu imra’atan dzata hasabin wa jamalin), tetapi ia tidak ingin melahirkan. Apakah saya menikahinya?”
Nabi bersabda, “tidak!” Lalu pemuda itu mendatangi Nabi untuk kedua kalinya. Nabi pun tetap melarangnya. Kemudian ia datang lagi kepada Nabi untuk ketiga kalinya. Baginda Nabi lalu bersabda, “Menikahlah dengan wanita yang penuh sifat kasih dan sangat produktif, yaitu berpotensi melahirkan banyak keturunan, sesungguhnya kelak, aku akan melebihi jumlah pengikut dibanding nabi-nabi lain, karena kalian.” (HR Abu Dawud).
Pernikahan dalam Islam adalah ibadah yang menyempurnakan agama bagi kedua mempelai. Sedang anak adalah investasi orang tua yang melanjutkan aliran amal jariyah. Keluarga adalah mihrab untuk bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah sebagaimana mihrab shalat. Mendidik anak perempuan merupakan pintu yang sangat luas sebagai media bertaqarrub kepada sang pencipta.
Islam mengajarkan bahwa keluarga adalah kesatuan terkecil yang bertanggung jawab mewujudkan terciptanya masyarakat yang damai dan berkeadaban. Keluarga harus menjadi benteng yang melindungi dan terlindungi.
Membangun keluarga adalah setengah agama. Menjaga keluarga adalah implementasi dari keimanan. Memerangi segala wabah yang mengancam keluarga adalah jihad. Merawat buah yang terlahir darinya, putra-putri, adalah bentuk syiar agama.
Kampanye tidak mau punya anak hanyalah produk generasi pendek akal, pendek cita-cita, dan anti masa depan. Mereka terlalu yakin bakal muda terus, kuat terus, dan tidak menua. Ingat, musim semi pasti berlalu, seiring dengan datangnya badai salju yang menyelimuti kulit keriput sepasang orang tua renta di pojok ruang musim dingin.
@henrishalahuddin, Istanbul summer 23-8-2021



















