يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اٰمِنُوْا بِاللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلٰى رَسُوْلِهٖ وَالْكِتٰبِ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ ۗوَمَنْ يَّكْفُرْ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا ۢ بَعِيْدًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya (Muhammad) dan kepada Kitab (Al-Qur’an) yang diturunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang diturunkan sebelumnya. Barangsiapa ingkar kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sungguh, orang itu telah tersesat sangat jauh. (QS An-Nisa: 136)
Asbabun Nuzul
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Surat An Nisa Ayat 136 diturunkan berkenaan dengan Abdullah bin Salam, Asad dan Usaid yang keduanya putra Ka’ab, Tsa’labah bin Qais, Salam bin saudara perempuan Abdullah bin Salam, dan Yamin bin Yamin.
Mereka datang kepada Rasulullah SAW dan seraya berkata, “Kami beriman kepadamu dan kitabmu, kepada Musa dan Taurat, dan kepada ‘Uzair; tetapi kami ingkar kepada selain kitab-kitab dan rasul-rasul itu.”
Maka, Rasulullah SAW bersabda, “Bahkan, hendaknya kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, Muhammad, beserta kitab-Nya, Al-Qur’an, dan seluruh kitab yang diturunkan sebelum itu.” Mereka berkata, “Kami tidak akan melakukannya.”
Maka turunlah ayat ini, kemudian mereka semua beriman. (Ahmad Musthafa Al-Maraghi, Terjemah Tafsir al-Maraghi 5, hlm 301)
Interpretasi Mufasir
Berdasarkan buku Tafsir Al-Qur’anul Majid Jilid 1 oleh Prof Dr Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddieqy, maksud dari ayat ini yaitu memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk tetap dalam keimanannya. Yaitu beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan mengimani kitab-kitab yang turun pada rasul sebelumnya yaitu Taurat dan Injil.
Dijelaskan juga dalam Tafsir Al-Qur’anul Majid bahwa arti beriman kepada kitab Allah adalah membenarkan bahwa Allah telah menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad dan menghapuskan segala kitab sebelumnya, serta tidak ada lagi kitab yang diturunkan sesudah itu.
Maksud dari ayat ini juga merupakan perintah untuk beriman kepada Allah, malaikat, rasul, dan hari akhir serta menjadikan hal tersebut sebagai dasar agama. Oleh sebab itu, mereka yang kufur terhadap malaikat Allah, rasul-Nya, kitab, dan hari akhir maka dia benar-benar dalam kesesatan yang nyata.
Sedangkan Imam Ibnu Katsir memberikan penafsiran bahwa maksud konteks ayat di atas bukanlah perintah untuk beriman, melainkan perintah untuk lebih menyempurnakan iman dan memperkokohnya.
Menurut Sayyid Quthub dalam Tafsir Zhilalil Qur’an, seruan iman pada ayat tersebut merupakan seruan untuk mengimani unsur-unsur iman bagi orang-orang yang beriman. Yaitu, beriman kepada Allah dan rasul-Nya. Iman yang menghubungkan antara hati seorang Mukmin dengan Tuhan yang telah menciptakan mereka, dan telah mengutus kepada mereka, orang yang menunjukkan mereka pada keimanan itu, yaitu Rasulullah.
Di samping itu juga beriman kepada risalah Rasul dan membenarkan segala yang dibawa Rasul. Kemudian disusul dengan keharusan beriman kepada hari kiamat.
Menurut Sayyid Quthub, beriman kepada Allah, malaikat, kitab-kitab, rasul dan hari kiamat bagi orang beriman sudah merupakan fitrah di lubuk hatinya yang dalam.
Makna Ayat Menurut Imam Ar-Razi
Menurut Imam Ar-Razi, QS An-Nisa: 136 mengandung beberapa makna. Pertama, dalam surat ini umat Islam diperintahkan untuk memantapkan keimanan dalam setiap masa, baik di masa lalu, masa sekarang, maupun masa yang akan datang.
Kedua, umat Islam yang beriman secara taqlid, kemudian diperintahkan untuk beriman secara istidlal. Ketiga, umat Islam juga diperintahkan untuk beriman secara istidlal yang global dan terperinci.
Keempat, mereka yang sudah beriman secara istidlal dan terperinci, diperintahkan untuk beriman dengan meyakini bahwa esensi kebesaran Allah tidak mampu dijangkau oleh akal mereka. Kelima, melalui ayat ini, umat Islam juga diperintahkan untuk beriman kepada seluruh Rasul dan kitab-Nya.
Allah berfirman:
فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS Ar-Rum: 30)
Makna Iman
Iman menurut bahasa adalah al-Tashdiq, membenarkan atau mempercayai. Sedangkan menurut pengertian istilah harus memenuhi tiga komponen, yaitu: 1) Meyakini dalam hati, 2) Mengucapkan dengan lisan, dan 3) Merealisasikan keimanannya dalam segala aktivitas dan perbuatan.
Dengan demikian, apabila seseorang telah beriman, maka dia percaya kepada Allah dan segala firman-Nya.
Lalu apa pengaruh aman dalam berpuasa? Pertama, menguatkan keimanan dan ketakwaan seseorang. Kedua, menggetarkan hati seseorang untuk mencari ridha Allah. Ketiga, menjadikan pribadi yang sabar dalam menjalankan ibadah puasa.
Keempat, menjauhkan diri dari segala hal yang membatalkan puasa. Kelima, mendorong seseorang untuk terus melakukan amal shalih. Keenam, menjadikan hati tenteram.
Makna Takwa
Imam Ar-Raghib Al-Asfahani dalam kitab Al-Mufradat Fi Gharibil Qur’an mendenifisikan: “Takwa yaitu menjaga jiwa dari perbuatan yang membuatnya berdosa, dan itu dengan meninggalkan apa yang dilarang, dan menjadi sempurna dengan meninggalkan sebagian yang dihalalkan.”
Sedangkan Imam An-Nawawi mendenifisikan takwa dengan: “Menaati perintah dan larangan-Nya.” Maksudnya menjaga diri dari kemurkaan dan adzab Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Imam Al-Jurjani mendefinisikan: “Takwa yaitu menjaga diri dari siksa Allah dengan menaati-Nya. Yakni menjaga diri dari pekerjaan yang mengakibatkan siksa, baik dengan melakukan perbuatan atau meninggalkannya.”
Di dalam Al-Qur’an kata iman dan takwa banyak yang disandingkan untuk mengingatkan kita semua bahwa ada pertalian yang kuat antara iman dan takwa.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“ Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (Q Ali ‘Imran : 102)
Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat istimewa, karena Allah secara langsung mewajibkan kepada orang-orang beriman untuk menjalankan puasa seperti orang-orang terdahulu agar mencapai derajat manusia bertakwa.
Secara eksplisit, derajat manusia dalam perspektif Al-Qur’an terbagi menjadi lima tingkatan, yaitu: Muslim, Mukmin, Muhsin, Mukhlis, dan Muttaqin.
Keistimewaan orang bertakwa tergambarkan dalam surat Al-Hujurat ayat 13: “…..Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu…” Ayat ini mengajarkan bahwa takwa merupakan nilai hidup yang tertinggi.
Puasa
Syekh Abdurrahman menuturkan, puasa itu salah satu sebab terbesar menuju ketakwaan. Hal ini karena orang yang berpuasa telah melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya.
Allah berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)
Puasa Ramadhan adalah ibadah dahsyat yang bisa membuat orang menjadi lebih baik. Orang yang tidak mau ibadah, di saat Ramadhan menjadi mau beribadah. Seolah Ramadhan memiliki sebuah daya tarik untuk memaksa seseorang melakukan kebaikan.
Masing-masing orang memiliki kualitas yang berbeda dari ibadah puasanya. Imam Al-Ghazali, dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa umum yaitu menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Kedua, puasa khusus yaitu menahan telinga, mata, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa-dosa.
Ketiga, puasa paling khusus yaitu menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah. Untuk puasa yang ketiga ini dianggap batal apabila terlintas dalam hati pikiran selain Allah dan hari akhir.
Orang psikoanalisis berpuasa untuk menahan hasrat seksualnya semata. Sedangkan orang-orang behavioristik akan berpuasa untuk mendapat pujian, penghargaan, atau agar terhindar dari hukuman sosial. Orang humanistic berpuasa untuk memaksimalkan potensi kemanusiaannya.
Puncak puasa paling tinggi ada di orang Islam, yang bukan sekedar berorientasi pada tataran horizontal (personal dan sosial). Akan tetapi, sudah sampai pada tahap vertikal, semata-mata bukan sekedar untuk menahan diri atau agar dilihat dan dihargai penduduk bumi.
“Setiap amalan manusia untuknya kecuali puasa, sebab ia hanyalah untukku dan Akulah yang akan memberikan ganjaran padanya secara langsung.” (HR Bukhari dalam Shahihnya: 7/226 dari hadis Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Ada lima keterkaitan antara puasa dan ketakwaan. Lima keterkaitan itu yakni: Pertama, orang yang berpuasa menjauhkan diri dari segala yang diharamkan oleh Allah SWT. Kedua, orang yang berpuasa melatih dirinya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dengan menjauhi hal-hal yang disukai oleh nafsunya.
Ketiga, puasa itu mempersempit gerak setan dalam aliran darah manusia, sehingga pengaruh setan melemah. Akibatnya maksiat dapat dikurangi. Keempat, puasa itu secara umum dapat memperbanyak ketaatan kepada Allah dan ini merupakan tabiat orang yang bertakwa.
Kelima, dengan berpuasa orang kaya akan merasakan perihnya rasa lapar, sehingga dia akan lebih peduli kepada orang-orang fakir yang kekurangan. Menurut Syekh Abdurrahman, ini juga merupakan tabiat orang yang bertakwa.
Hubungan keimanan dan ketakwaan dilatih oleh amalan puasa. Dari hal ini kita menyadari bahwa hubungan antara ketakwaan dengan keimanan harus bersumber dari dalam hati. Jika tidak didasari dari hati, maka bisa jadi keimanan tidak membawa kapada ketakwaan dan sebaliknya ketakwaan tidak akan maksimal dan tidak akan menguatkan keimanan. Maka keimanan dan ketakwaan inilah yang diolah kualitasnya melalui ibadah puasa agar keduanya bisa tertancap dengan baik pada diri seorang Muslim.
Lalu bagaimana peran puasa dalam menguatkan iman dan takwa? Pertama, puasa adalah perisai yang dapat mengokohkan iman dan takwa. Rasulullah SAW bersabda:
قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ
“Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman: Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya.” (HR Ahmad, No 4308)
Kedua, berpuasa melatih seseorang untuk kuat, sabar, dan tabah untuk menguatkan iman dan takwa.
Allah berfirman:
قُلْ يٰعِبَادِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۗلِلَّذِيْنَ اَحْسَنُوْا فِيْ هٰذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗوَاَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةٌ ۗاِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu.” Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas. (QS Az-Zumar: 10)
Balasan bagi Orang yang Beriman dan Bertakwa
Orang-orang yang beriman akan memperoleh balasan ganjaran dari Allah SWT. Ganjaran itu antara lain, pertama, mendapat keberkahan di langit dan di bumi. Rasulullah SAW bersabda:
وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raf: 96)
Al-Qur’an memberi konsep bahwa al-barakah adalah yang berkesinambungan yang tidak bisa diukur oleh akal, karena Al-Qur’an mengawalinya dengan kata “lau”. Lau itu huruf pengandaian. Ada dua huruf pengadaian, yaitu “idza” dan “lau”. Idza artinya jika (bisa diukur oleh akal). Sedangkan lau artinya jika (tidak bisa diukur oleh akal, menurut akal tidak akan namun bisa terjadi).
Bulan Ramadhan disebut bulan yang penuh berkah karena datang di luar nalar keberkahan yang Allah berikan. Karena kata barakah itu asalnya untuk onta bukan untuk orang. Dada onta disebut Al-Barku karena mantap.
Sesuatu yang mantap disebut al-barakatu. Kebajikan yang berlimpah, yang mantap terus menerus maka disebut al-barakah. Sumur, bahasa Arabnya al-birkah karena sumur meskipun airnya diambil terus menerus namun airnya tidak habis, maka disebutlah al-birkah.
Perbedaan dasar dari bahasa Arab barakah itu pakainya kaf dari baraka artinya kebaikan. Jika barakah memakai qof yaitu baraqa artinya kerugian. Bulan Ramadhan itu bulan barakah berarti banyak kebajikan-kebajikan, pahala-pahala yang tidak bisa diukur oleh akal sehingga disebut bulan bil barkah.
Kedua, mendapat balasan pahala yang lebih baik. Allah berfirman:
وَلَوْ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ ࣖ
“Dan jika mereka beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, sekiranya mereka tahu.” (QS Al-Baqarah: 103)
Ketiga, memberikan jalan keluar dalam setiap kesulitannya. Allah berfirman:
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًا ۙ
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” (QS At-Thalaq: 2)
Kisah Teladan
Luqman (sosok manusia istimewa yang namanya diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an) memberikan petuah kepada anaknya: “Wahai anakku sungguh, dunia ini laksana samudera luas. Telah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Maka, jadikanlah di dalam perahumu ketakwaan kepada Allah, isinya iman, layarnya tawakkal kepada Allah. Semoga engkau selamat. Aku khawatir kamu tidak selamat.”
Betapa pentingnya iman dan takwa, sehingga Luqman, sosok manusia istimewa itu memberikan petuah kepada anaknya. Selain kedua hal ini sebagai modal, Luqman pun menegaskan tawakal kepada Allah.
اَللَّهُمَّ إنَّكَ عَفُوٌّ كَرِيْمٌ تُحِبُّ الْعَفْوَ فاَعْفُ عَنَّا
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Zat Maha Pengampun lagi Maha Pemurah, senang pada ampunan, maka ampunilah kami, wahai Zat yang Maha Pemurah.” (HR Tirmidzi) []


















