Oleh: Nindira Aryudhani, S.Pi, M.Si
(Koordinator LENTERA, Relawan Opini dan Media)
Tragedi muslim Uighur di Xinjiang, masih berlangsung. Dalam beberapa bulan terakhir, sejumlah dari mereka menghilang tanpa jejak atau peringatan. Semua orang sebenarnya tahu di mana mereka telah diculik dan ditahan. Tetapi tidak ada yang tahu berapa lama mereka akan ditahan, juga tidak tahu apakah mereka akan kembali ke rumah.
Sebagian besar dari mereka masih belum kembali. Sementara mereka yang kembali adalah tinggal jasad saja. Hal ini tentu seolah memperingatkan bagi orang lain tentang hal yang akan diterima bagi orang-orang Uighur yang menolak untuk mengingkari Islam.
Pada bulan Agustus, sebuah panel hak asasi manusia PBB melaporkan bahwa hampir 1,1 juta Muslim Uighur ditahan di kamp-kamp konsentrasi di Xinjiang, sebuah wilayah otonomi di Cina barat, yang menampung sekitar 11 juta warga Uighur.
Gay McDougall, yang menjadi komisioner di Komite PBB tentang Penghapusan Diskriminasi Rasial, mengklaim bahwa populasi muslim Uighur yang dipenjara mungkin berjumlah mencapai 2 juta orang. Tanpa menghiraukan perkiraan itupun, jumlah Muslim Uighur yang ditangkap, dipisahkan dari keluarga dan hidup mereka, dan dipenjarakan di kamp-kamp konsentrasi, tanpa alasan lain selain karena mereka adalah Uighur dan Muslim, semakin meningkat setiap harinya.
Tidak lama setelah PBB memecahkan berita tentang kamp konsentrasi di Xinjiang, Sigal Samuel dari Harian The Atlantic melaporkan bahwa para tahanan dipaksa untuk meninggalkan Islam, mengkritik keyakinan Islam yang mereka peluk dan mencela orang-orang Muslim sesama narapidana, serta membaca lagu propaganda Partai Komunis selama berjam-jam setiap hari. Belum lagi para tahanan laki-laki dipaksa untuk mencukur jenggot mereka dan dicekoki makanan dari babi dan alkohol, yang dilarang keras oleh ajaran Islam.
Kamp-kamp konsentrasi ini adalah tempat Muslim Uighur diberi pendidikan menjadi subyek Cina atheis. Ini tak ubahnya tempat yang mengerikan di mana ketakutan dan kekerasan fisik, trauma psikologis dan pelecehan emosional adalah alat yang digunakan untuk mendorong narapidana Uighur untuk meninggalkan Islam. Islam sendiri telah disebut oleh Cina sebagai “penyakit mental” atau “sakit jiwa”.
Lebih dari itu, untuk anak-anak dan generasi muda, Cina mengoperasikan panti asuhan untuk anak-anak Muslim Uighur yang diambil dari orang tua mereka. Di panti asuhan tersebut, terjadi proses memutuskan hubungan mereka dari iman Islam dan warisan etnis mereka yang sebelumnya sangat tertanam dalam pendidikan mereka. Di panti asuhan ini, Cina mengubah generasi masa depan anak-anak Muslim Uighur menjadi subyek setia yang memeluk atheisme. Juga mendorong mereka untuk berpaling dari keluarga mereka dan menuju visi Beijing untuk menghancurkan orang-orang Muslim Uighur.
Sudah sangat jelas, target rezim komunis Cina memang untuk menghancurkan identitas Islam dari diri warga Uighur. Cina melakukan pembunuhan karakter dan kepribadian Islam. Cina juga telah luar biasa ganas membersihkan negaranya dari populasi yang dianggap bertentangan dan berlawanan dengan identitas nasionalnya. Cina menindas Muslim Uighur, tanpa jeda. Ini jelas-jelas Islamophobia atas nama visi rasis dan populis.
Inikah umat Rasulullah ﷺ? Umat yang telah dijamin Allah SWT sebagai umat terbaik? Ya beginilah adanya. Muslim Uighur, tak ubahnya Rohingya, sama-sama korban genosida akibat syahwat kekuasaan yang sekularistik. Mereka dihilangkan hak hidupnya hanya karena beraqidah Islam.
Karena itu, kita tak dapat menutup mata atas Uighur. Atas nama kemanusiaan dan hak asasi manusia saja pembantaian terhadap mereka tidak dapat dibenarkan. Atas nama aturan Sang Khaliq, yang menciptakan kita semua termasuk saudara-saudara Uighur, bahwa sungguh tertumpahnya darah seorang muslim tanpa disertai alasan yang dibenarkan syariat adalah sesuatu yang jauh lebih berat dibandingkan hancurnya dunia dan seisinya. Terlebih adanya motif adikuasa ekonomi Cina dalam mengeruk keuntungan nominal melalui proyek Jalur Sutra, genosida Uighur sama sekali tak bisa dibenarkan.
Mari gencarkan beragam kepedulian kita demi membela kemashlahatan hidup sebagian kaum muslimin, yakni Uighur. Demi perlindungan nyawa umat Rasulullah ﷺ seluruhnya, yang termasuk di antaranya adalah warga Uighur.






















