Ponorogo, Gontornews — Sabtu (3/9) pagi, ribuan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor berdatangan dari berbagai pelosok negeri menghadiri Reuni Akbar dalam rangka memperingati dan mensyukuri 90 tahun usia pondok. Dalam kesempatan itu hadir Ketua Dewan Pertimbangan MUI Pusat Prof Din Syamsuddin memberikan sambutan.
Dalam sambutannya Mantan Ketua Umum MUI itu mengatakan kebersamaan kita, saya yakin tidak dapat ditunjukkan oleh lulusan alumni dari lembaga-lembaga lainnya. Kebersamaan mereka lebih tampil secara lahiriah, kegembiraan dan keceriaan.
Menurut Din, pertemanan di antara kita penuh dengan rasa persaudaraan, kekeluargaan dan kita terlahir dari ibu ideologis yang sama. βIbu ideologis yang satu itulah Gontor. Kalau bukan karena tinta tak kan ku lupa sebuah puisi. Kalau bukan karena cinta tak kan ada di tempat ini. Karena cintalah kita ada di tempat ini. Karena cinta inilah kita bisa bersama-sama berjuang untuk mengestafetkan nilai-nilai keutamaan untuk kegemilangan dan kejayaan umat dan bangsa,βtandasnya.
Bung Karno pernah berkata beri aku sepuluh pemuda. Aku akan ubah dunia. βSebelas ribu hadir saat ini sesungguhnya terlalu banyak untuk mengubah dunia, untuk mengubah Indonesia. Dunia sekarang menangis Indonesia juga sedang meratap merajalela di dunia ini berbagai bentuk kerusakan. Organisasi mantan kepala negara mengatakan yang kita hadapi dunia saat ini bukan terorisme belaka, bukan perubahan iklim dan pemanasan global. Melainkan kerusakan dunia yang bersifat akumulatif yang terjejawantahkan dalam bentuk kemiskinan, kebodohan, keterbelakangan, ketidakadilan, diskriminasi, kekerasan, sunami kebudayaan dan peradaban. Inilah yang terjadi pada dunia saat ini. Kalau kita mau sedikit mendalami itu berpangkal pada sistem dunia yang rusak.
Yang terjadi pada dunia dewasa ini kalau tidak ada langkah-langkah bersama, kerusakan dunia yang bersifat akumulatif tidak disertai problem solving maka skenario buruk kiamat kecil tidak mustahil tidak terjadi. Ini pulalah yang membawa dampak ke dalam negeri Indonesia, dunia yang porak poranda dan terutama dunia Islam yang sudah porak poranda sejak terjadinya Arab Springs di dunia Arab, Arfrika Utara, dan bagian lain.
Tidak berlebihan jika saya katakan Indonesia menjadi harapan Indonesia, Indonesia dituntut untuk menjadi penyanggah dari keporakporandaan dunia Islam yang terjadi saat ini. Din berpendapat bahwa telah terjadi sebuah rekayasa, skenario, yang dimainkan oleh pihak-pihak lain dalam bentuk proxy war, perang perwakilan yang mengadu domba di antara negara-negara Islam, yang mengadu domba di antara kelompok-kelompok umat Islam di luar sana dan Indonesia relatif bertahan.
Namun saya menengarai ternyata imbasnya juga menakuti Indonesia. Terjadi sektarianisme, dan ekstrimisme, terjadi kecenderungan untuk saling menyalahkan, ini kalau tidak segera diawasi maka scenario tadi bisa saja terjadi. Karena itu saatnyalah estafeta nilai-nilai kegontoran untuk tujuan mulia, mewujudkan kemuliaan umat dan bangsa liizzil Islam wal muslimin liizzil ummah sangat-sangat dinantikan untuk itu saya menawarkan perlunya alumni Gontor menjadi problem solver. βKita harus tampil menjadi penyelesai masalah Indonesia bahkan masalah dunia. Kita dituntut untuk bisa menyelesaikan masalah, menjadi problem solver,βtandasnya.
Lanjut Din mengatakan perlu sebuah budaya di kalangan umat Islam ini yang bersifat al hanifiyah. Menurutnya, perilaku ‘hanif’ itu penting, karena ‘hanif’ itulah inti dari ajaran agama, bahkan inti dari ketiga agama samawi (langit), yakni Yahudi di zaman Musa, Nasrani di zaman Isa, dan Islam di zaman Muhammad saw. “Semua agama itu berpusat kepada Ibrahim, karena semuanya merupakan cicit dari Ibrahim dan ‘hanif’ itu merupakan ajaran Ibrahim. Dalam Islam, istilah ‘hanifan Musliman’ itu ada dalam iftitah (awal shalat) dan Ibrahim itu juga ada dalam tahiyat (akhir shalat),” katanya. (Muhammad Khaerul Muttaqien)





















