Ponorogo, Gontornews — Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Muhammad Fachir berbagi pengalamannya menjadi diplomat di hadapan ribuan santri dan alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, dalam acara reuni akbar yang berlangsung pekan lalu.
Tugas duta besar, ujar Fachir, selain bisa mewakili Pemerintah Indonesia dalam urusan kenegaraan, juga harus bisa membantu memecahkan berbagai persoalan teknis di wilayah tugasnya. Dalam kaitan hal inilah Fachir lebih dikenal sebagai diplomat ‘spesialis pengungsi’.
“Saya dinilai sebagai diplomat spesialis pengungsi,” terang pria yang hadir menggunakan kemeja batik itu.
Ia mengisahkan, ketika terjadi Perang Teluk pertama di Bagdad, ia mengemban tugas berat yaitu mengungsikan WNI dari wilayah konflik tersebut. “Modalnya nekad dan kemauan yang sungguh-sungguh,” tuturnya.
Dulu ketika di pramuka Gontor, ujarnya, ia diajarkan membaca peta buta, morse, informasi rahasia yang diterapkan untuk menyelamatkan para pengungsi. Maka untuk menyelamatkan para pengungsi, ujar Fachir, ia membawa pengungsi melalui daerah-daerah yang dianggap aman. Dari Kuwait dan Irak ke arah Amman, Jordania.
“Jadi jangan dikira pelajaran pramuka tidak ada gunanya. Termasuk antara lain belajar rahasia informasi morse dan semapur yang menggunakan berbagai macam kode. Alhamdulillah 300 WNI di Kuwait dan 100 WNI di Irak selamat diungsikan gara-gara pelajaran pramuka,” paparnya.
Demikian juga ekstrakurikuler yang diajarkan pondok seperti olahraga, muhadarah dan konsulat. Dengan main olahraga golf, ujar Fachir, ia berhasil mengumpulkan dana untuk anak yatim. Dengan golf Fachir membawa para duta besar negara sahabat berkeliling ke berbagai daerah di Indonesia yang ada lapangan golfnya. Dengan golf pula ia bisa mengundang investor bermain golf dan menghasilkan banyak transaksi.
“Mulanya hanya sekedar olahraga dan minat, tapi kalau bisa dikembangkan hasilnya luar biasa,” tuturnya.
Fachir menegaskan, semua pendidikan di Gontor mulai dari pramuka, olahraga sampai muhadharah berpengaruh pada karirnya. Termasuk keberhasilannya meraih gelar doktor (S3) di UGM di sela-sela menjalankan tugas negara sebagai Dubes RI di Mesir, dirjen, Dubes di Saudi, dan Wakil Menteri Luar negeri.
“Saya ke UGM dengan berdarah-darah, dapat S3 dalam waktu lima tahun, empat jabatan,” paparnya. [Ahmad Muhajir/Rus]





















