Ponorogo, Gontornews — Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Muhammad Fachir berbagi cerita pada saat menjadi duta besar RI di Mesir. Fachir menjadi sosok penting di balik berdirinya empat asrama mahasiswa di Kampus al-Azhar, Kairo Mesir, sumbangan dari masyarakat Indonesia.
Ide pembangunan asrama ini disampaikan Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia di Republik Arab Mesir (2007-2011), ini kepada pihak al-Azhar yang langsung disambut positif. Saat itu, ujar Fachir, al-Azhar memberikan lokasi tanah untuk dibangun dan diberi nama, setelah itu diserahkan kembali kepada al-Azhar.
“Kami yang mengelola asramanya, kami yang mendidik anak-anak dan kami yang memberi makan,” ujar Fachir menirukan kata-kata Syekh al-Azhar. “Hanya bermodal gedung kita mendapat banyak,” lanjutnya.
Namun ada syarat lain, hanya 50 persen mahasiswa Indonesia yang bisa masuk di asrama. Sementara 20 persen diisi mahasiswa Mesir dan 30 persennya diisi mahasiswa dari beberapa negara. Syarat ini menurut Fachir ditetapkan supaya ada interaksi antara mahasiwa Indonesia dan mahasiswa dari negara lain.
“Alhamdulilah sudah diputuskan bahwa yang akan di sana mahasiswa putri semua. Alhamdulillah bisa menampung 1.200 mahasiwa,” tuturnya.
Sebelumnya, alumni Gontor tahun 1976 ini melihat kenyataan bahwa 60 persen mahasiswa Indonesia gagal dalam studinya. Maka pada tiga bulan pertama bertugas, Fachir ‘blusukan’ menemui mahasiswa dan menanya apa persoalan sebenarnya.
Persoalanya, selama ini Universitas al-Azhar Kairo memberikan kemudahan kepada semua orang untuk masuk tapi kriteria kelulusan yang ditetapkan universitas tidak gampang. Untuk mengatasi masalah ini, Fachir mengumpulkan tokoh-tokoh Indonesia yang menjadi panutan dari Mesir di antaranya KH Abdullah Syukri Zarkasyi, Menteri Agama KH Maftuh Basyuni, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Din Syamsuddin, yang semuanya keluarga besar Gontor.
Para tokoh ini berpidato di depan para mahasiswa untuk mengubah mindset supaya semangat belajar dan tidak mencontoh senior yang gagal. Hasilnya, banyak mahasiswa yang berhasil dalam studinya bahkan meningkat prestasinya.
“Dalam waktu tiga tahun, dari yang gagal 60 persen menjadi 70 persen yang berhasil,” tuturnya.
Fachir menegasan, ‘Gontor connection’ memiliki kekuatan khusus untuk turut menyelesaikan berbagai persoalan umat di tingkat nasional dan internasional. Ia berharap peranan ini terus ditingkatkan para alumni yang tersebar di berbagai bidang dan di berbagai belahan dunia.
“Itu semua yang saya terapkan dalam perjalanan karir hidup saya,” ujarnya. [Ahmad Muhajir/Rus]





















