Dhaka, Gontornews — Berbeda dengan perayaan Idul Adha di dunia, komunitas Rohingya terus berusaha untuk menciptakan momen spesial dalam situasi ketidakpastian dan kekurangan makanan. Pasalnya, Badan Pangan Dunia, World Food Programme (WFP) memotong bantuan makanan bagi komunitas Rohingya di Bangladesh mulai Juni mendatang.
Tetapi, ibu-ibu Rohingya di kamp-kamp pengungsian Cox’s Bazar berusaha untuk tetap membuat perayaan hari raya Idul Adha meriah.
“Semuanya terbatas dan pemotongan jatah (bantuan) membuat kami merasa sangat tertekan. Itu mempersempit pilihan kami,” kata Shahida Begum, ibu dua anak Rohingya kepada Arab News.
“Kami saat ini hidup dalam kesulitan yang ekstrem. Tetapi, peringatan Idul Adha merupakan sesuatu yang sangat istimewa bagi kami umat Islam,” sambung Shahida.
“Apa pun yang terjadi, meskipun saya tidak memiliki sesuatu yang istimewa. Saya dapat bertukar salam dengan keluarga dan teman. Senyum di wajah anak-anak membuat saya sangat bahagia meskipun saya hanya bisa memberi mereka sangat sedikit pada kesempatan yang baik ini,” paparnya.
Hari raya Idul Adha merupakan momentum berharga bagi umat islam di seluruh dunia karena diikuti dengan penyembelihan hewan kurban. Beberapa warga Rohingya bahkan sempat mengingat momen peringatan Idul Adha sebelum kekerasan dan penganiayaan membuat mereka melarikan dari Myanmar enam tahun lalu.
“Kami biasa mengundang tetangga pada hari raya Idul Adha untuk berbagi daging sapi dan kambing,” kata Noor Shehera, ibu empat anak berusia 43 tahun.
“Tapi sekarang, di sinilah kita, terpaksa menjalani hidup tanpa harapan,” imbuhnya.
Sementara itu, pihak berwenang di Cox’s Bazar mengatakan mereka membagikan daging kurban ke kamp-kapm Rohingya.
“Seperti tahun-tahun sebelumnya, kami juga mengelola hewan kurban untuk Rohingya di Idul Adha kali ini. Sebanyak 2500 ternak telah didistribusikan di kamp-kamp pengungsi,” ungkap Shamsuddouza Naya, Komisioner bantuan pengungsi dan repatriasi di Cox’s Bazar. [Mohamad Deny Irawan]






















