Manila, Gontornews – Presiden Filipina Rodrigo Duterte menegaskan, negaranya tetap berkomitmen memerangi peredaran narkoba yang beredar di wilayahnya. Komitmen pemberantasan narkoba ini dipertanyakan setelah Duterte memerintahkan pihak kepolisian untuk membubarkan unit anti-narkoba.
Pembubaran unit anti-narkoba yang diperintahkan Duterte tidak lepas dari terjadinya kasus pembunuhan terhadap seorang pengusaha asal Korea Selatan yang dilakukan oleh oknum kepolisian anti-narkoba.
Atas tindakan ini, Duterte menyatakan penyesalannya sekaligus mengungkapkan rasa malunya sebagai orang pertama di pemerintahan Filipina. Ia pun meminta pihak kepolisian melakukan evaluasi internal terkait insiden tersebut.
“Bersihkan jajaran Anda. Tinjau kasusnya,” tegas Duterte sebagimana dilansir Time, Senin (30/1).
Meski unit anti-narkoba dibubarkan, Duterte tetap berkomitmen untuk mengampanyekan perang terhadap narkoba hingga masa jabatannya berakhir.
Pembunuhan pria bernama Jee Lh-Joo terjadi pada 18 Oktober 2016 silam. Jee tewas setelah dicekik di kantor kepolisian Manila. Dalam prosesnya, pihak kepolisian sempat meminta tebusan dari istri sang pengusaha, Choi Kyung-Jin.
Atas kejadian tersebut, Duterte meminta maaf kepada Korea Selatan dan berjanji mengusut masalah tersebut hingga tuntas.
Akibat pembunuhan tersebut, kritikan yang dialamatkan pada kampanye anti-narkoba Duterte terus bertambah. Pasalnya, sejak hukuman mati bagi pengguna dan pengedar narkoba diumumkan, tidak kurang dari 2000 orang ditembak mati oleh polisi dan 5000 lainnya dilakukan oleh warga. [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















