Bandung, Gontornews – Guru Besar Ilmu Sejarah Universitas Padjadjaran Bandung, Ahmad Mansur Suryanegara, menyebutkan dalam karyanya, ulama antipenjajah dan penjajahan. Ironisnya, peran ulama di era pra kemerdekaan justru dilupakan.
Penjajah Indonesia yang berasal dari Portugis, Belanda dan Inggris, berlomba-lomba memecah belah ulama karena sadar kekuatan penting Indonesia bermula dari perjuangan ulama. Mulai dari perang Perang Aceh hingga perang Batak. Perjuangan dari kalangan ulama semisal Teuku Tjik Di Tiro, Tengku Oemar, Tjoet Nja Dhien (Aceh) dan Si Singamangaradja XII di Medan urung diapresiasi.
Peperangan di atas terjadi setelah kerajaan Protestan Belanda melakukan perjanjian kerjasama penjajahan dengan Kerajaan Protestan Anglikan Inggris bertajuk Treaty of London pada tahun 1870.
Salah satu faktor yang menyebabkan semangat perjuangan para ulama dan santri berlobar adalah melemahnya Kesultanan Turki dan Kesultanan Mongol di India.
“Melemahnya Kesultanan Turki di Timur Tengah dan Kesultanan Mongol di Asia sangat besar pengaruhnya terhadap perjuangan menegakkan nasionalisme yang dipimpin para ulama dan santri di Indonesia dalam membendung banjir imperialisme Barat,” kata penulis buku Api Sejarah itu.
Setelah penjajahan Kerajaan Protestan Belanda berakhir, balatentara Jepang mengambil alih wilayah Indonesia. Ulama mendapatkan momentum berharga berupa diberikannya kepercayaan untuk membentuk Tentara Pembela Tanah Air yang lantas dimanfaatkan oleh Oemar Said Tjokroaminoto untuk membangkitkan jiwa keprajuritaan pemuda di Congres National Centraal Syarikat Islam di Bandung pada tahun 1916.
Tidak hanya memercayakan pembentukan tentara Pembela Tanah Air, KH Zainal Moestofa oleh PM Koiso dijanjikan kemerdekaan. Meski demikian, janji tersebut urung terlaksana karena bom atom jatuh di Hiroshima dan Nagasaki dan mengakibatkan Kaisar Hirohito menyerah pada 14 Agustus 1945.
Tepat tiga hari setelahnya, dengan dukungan para ulama di Jalan Pengangsaan Timur 56 Jakarta, pada tanggal 9 Ramadhan 1364, Jumat Legi, 17 Agustus 1945, proklamasi kemerdekaan dibacakan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta.
Sehari setelah proklamasi kemerdekaan dibacakan, KH Wahid Hasjim (NU), Ki Bagoes Hadikusumo (Muhammadiyah), Kasman Singodimejo dan Teuku Mohammad Hasan (Aceh) berkumpul untuk merumuskan Ideologi Bangsa, Pancasila dan Konstitusi Undang-Undang Dasar 1945. Ironisnya, peran para ulama ini ditiadakan.
“Peran ulama ini dalam penulisan sejarah Indonesia ditiadakan,” pungkas Mansur. [Mohamad Deny Irawan/Rus]




















