Bogor, Gontornews — Prof Dr Dyah Iswantini Pradono, MSc Agr, adalah salah seorang doktor jurusan Biophysical Bioanalytical Chemistry yang lulus di Kyoto University, Jepang. Meski memiliki kesibukan yang luar biasa, guru besar IPB (Institut Pertanian Bogor) ini tidak pernah lupa untuk selalu menegakkan syariat Islam, walau saat tinggal di negeri non-Muslim sekalipun.
“Ketika di Jepang dulu, saya selalu menjalankan shalat lima waktu,” ujar ketua Program Studi S2 Kimia IPB (2014-2018) ini kepada Gontornews.com. Saya bahkan, lanjutnya, pernah mencuri waktu dan pergi ke tempat kosong hanya untuk shalat.
Wanita cantik ini memang sejak dulu ketika lulus Strata Satu di Universitas Gadjah Mada pernah berkata kepada salah satu dosen pengujinya bahwa ia bercita-cita ingin sekali bisa selalu menerapkan syariat Islam.
“Dulu dosen saya pernah bertanya ke saya, ‘Dyah kamu mau kerja di Pertamina atau dosen? Kalau dosen itu uangnya sedikit, tapi kalau di Pertamina banyak uangnya,'” kenang wanita kelahiran Sukoharjo, 30 Juli 1967 itu.
Namun saya menjawab, “Saya dari dulu bercita-cita ingin jadi dosen. Saya tidak mencari uang yang banyak.” “Sebab cita-cita utama saya ingin menerapkan syariat Islam,” tegasnya.
Dyah pun menjelaskan bahwa kalau dirinya kelak menjadi seorang ibu, maka ia juga akan menjadi madrasah bagi anak-anaknya. “Kalau saya hanya mencari duit banting tulang, dari pagi sampai malam, buat apa saya? Sedang nanti di akhirat saya akan diminta pertanggungjawaban sama Allah SWT,” tegasnya.
Karena itu Dyah lagi-lagi menekankan bahwa tugas utama seorang wanita bukan mencari uang, namun menjadi madrasah bagi anak-anaknya. “Jadi dari dulu saya sudah teguh pendirian ingin jadi dosen,” tutur guru besar IPB tersebut.
Dyah selain sibuk menjadi pengajar juga merupakan ibu dari dua orang putri yang berprestasi. Kedua putrinya yakni Muthia Khansa dan Raisa Zahra adalah para pemenang dalam berbagai ajang olimpiade matematika tingkat nasional maupun internasional.
Putrinya, Muthia pernah menjuarai Medali Perunggu (Bronze Prize) di International Mathematics Contest (Singapore), Agustus 2011. Sedangkan Raisa pernah memperoleh credit certificate in Australian Mathematics Competition tahun 2013. <Edithya Miranti>




















