Mempersembahkan yang terbaik untuk guru yang pernah mendidiknya tentu menjadi dambaan setiap orang. Tak terkecuali dengan pemilik Restoran Sekar Seafood, Eddy Arya Adhi Lodra, kepada kiainya.
Berawal dari keinginannya untuk berbakti, kehadiran KH Hasan Abdullah Sahal di sela-sela Rapat Kerja Forum Bisnis (Forbis) IKPM Gontor, 6-7 Mei, di Hotel Bintang Griya Wisata Cikini Jakarta Pusat, mengetuk hati si pengusaha kuliner kelahiran Indramayu itu untuk melayani kiainya walaupun harus memasak di dapur hotel
“Saya bisanya masak. Itu yang baru saya lakukan,” ujar pria yang tinggal di Bandung itu. Uniknya, di zaman yang serba instan apalagi di hotel, memasak sendiri dengan menu yang berbeda tidaklah umum bagi orang lain. Namun tidak demikian bagi alumni Gontor tahun 2000 itu.
Atas lobi-lobi yang dilakukan Edoy demikian ia biasa dipanggil, ia bersama temannya diizinkan masak di dapur hotel. “Alhamdulillah pihak hotel mengizinkan kami masak kepiting lada hitam dan barakuda saos padang di dapur hotel,” ungkapnya kepada Gontornews.
Ia pun senang melihat kiainya lahap menikmati makanan hasil olahannya. “Pak kiai makan kepiting lada hitam sampai habis satu setengah ekor. Beliau bilang enak sekali makanannya. Dan rombongan Alhamdulillah juga lahap makan kepiting lada hitam Sekar Seafood buatan saya,” ucapnya bangga.
Selang berapa waktu kemudian Edoy diberi kabar oleh temannya untuk memasak lagi di tempat yang berbeda. Meskipun jadwal mengharuskannya pulang ke Bandung, namun demi kiainya, Edoy rela mengurungkan niatnya kembali ke Bandung.
“Saya dapat kabar dari Ustadz km Husni kalau Bu Hasan minta saya masakin lagi di rumah Gontor. Jadwal hari itu harusnya sya pulang ke Bandung, tapi demi pak kiai saya batalkan,” ungkapnya.
Sekitar pukul 16.00 Edoy bersama kawannya yang juga mengikuti rapat kerja Forbis, bergegas berbelanja keperluan. Tepat sebelum kiai beserta ibu tiba di rumah Gontor, Edoy bersama temannya tengah bersiap membuat formula saos lada hitam, asam manis dan telor asin untuk persiapan makan malam kiainya nanti.
Selang berapa waktu kemudian tibalah pak kiai dan bu nyai di tempat biasanya kiai-kiai Gontor singgah (rumah Gontor di Tebet). Grogi campur senang demikian yang dirasakan Edoy saat masak di dapur kiai. “Grogi juga masak ditemenin ibu, sampai-sampai harusnya gula, ternyata garam yang dimasukkan,” kenangnya.
Dengan dibantu beberapa temannya, Ust Aruman, Ust km Husni, Ust Iman Hilman, dan Ust Fauzi Irianto akhirnya persiapan santap malam mulai rapi terhidang di meja makan selepas. “Ba’da shalat Maghrib kami pun diajak menemani pak kiai makan malam. Alhamdulillah banyak wejangan dan nasihat yang saya dapatkan,” tutur pria kelahiran Indramayu, 19 Juni 1981, itu.
Kata demi kata terlontar di sela-sela makan malamnya itu. Keakraban guru dan santri timbul kala itu. Edoy pun tak sungkan untuk bertanya ke pak kiainya. “Pak Kiai bagaimana masakannya. Alhamdulillah enak. Pak Kiai sembari tersenyum bilang tidak suka makan banyak, tapi suka makan enak,” ungkapnya menirukan ucapan kiainya.
“Alhamdulillah, pak kiai bilang masakannya seperti restoran berbintang. Ust Edoy tolong dijaga pelanggannya, karena kalau dilihat masakanya saya sangat optimis,” pungkasnya menirukan pesan Kiai Hasan. (Muhammad Khaerul Muttaqien)




















