Ankara, Gontornews — Organisasi Pangan Dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), Jumat (4/3/2022) mengatakan harga pangan dunia telah mencapai titik tertinggi sepanjang masa pada Februari. FAO mengatakan indeks harga pangan rata-rata mencapai 140,7 poin di Februari atau naik 3,9 persen dari Januari. Sepanjang tahun 2021, indeks harga pangan meningkat signifikan hingga 24,1 persen.
Badan pangan PBB tersebut menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan dipicu oleh peningkatan harga minyak nabati dan produk susu global.
Indeks harga minyak nabati naik 8,5 persen dari bulan sebelumnya ke level tertinggi baru. Sebagian besar didorong oleh kenaikan kuotasi untuk minyak sawit, kedelai dan biji bunga matahari.
Sementara indeks harga susu rata-rata naik 6,4 persen lebih tinggi di Febaruari dibanding bulan sebelumnya. Secara bulanan, indeks harga sereal naik 3 persen. Sementara indeks harga daging naik 1,1 persen. Sedangkan harga gula turun 1,9 persen dibandingkan indeks serupa di bulan Januari.
Sebelumnya, Presiden Indonesia, Joko Widodo, telah memprediksi, secara bertahap, harga-harga barang akan mengalami kenaikan. Kenaikan ini dipicu semakin langkanya kontainer, kelangkaan pangan hingga kelangkaan energi.
“Artinya apa? Harga barangnya ikut naik. Kalau harganya naik artinya harga konsumen lebih mahal dari biasanya. Hati-hati dengan ini. Ini baru urusan kontainer,” kata Presiden Jokowi saat memberikan arahan dalam rapat pimpinan TNI-Polri di Plaza Mabes TNI Cilangkap Jakarta Timur, Selasa 1 Maret 2022.
“Masih ditambah lagi yang ketiga kenaikan inflasi. Apa yang terjadi kalau inflasi naik? Artinya harga-harga semua naik. Artinya apa? Beban masyarakat dalam keinginan untuk membeli barang itu juga semakin tinggi,” tambahnya sebagaimana dilansir Tempo.
“Karena kelangkaan, ditambah perang, naik lagi. Sekarang, harga batubara sudah di 100. Sebelumnya hanya 50-60. Di semua negara, harga BBM naik semua LPG naik semua. Hati-hati dengan ini,” jelasnya. Memprediksi.
“Plus harga di pabriknya jadi jauh lebih tinggi. Terus dikirim ke pasar berarti harga konsumen juga akan naik. Ini efek berantainya seperti ini. Oleh sebab itu, sekarang kerja makro saja tidak mungkin,” tutupnya. [Mohamad Deny Irawan]






















