“Dan hendaklah takut orang-orang yang sekiranya meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka…” (QS An-Nisa: 9)
Dulu orang mengenal pesantren sebagai tempat yang sederhana. Cukup ada bangunan kayu, tikar, papan tulis, masjid, dan seorang kiai kharismatik. Para santri tidur beralas tikar, mandi di sumur bersama—bahkan kadang harus antre di sumur tetangga—dan makan dengan lauk seadanya.
Namun zaman terus berubah. Generasi baru datang dengan karakter yang berbeda. Dunia digital mendesak semua institusi untuk beradaptasi. Maka pesantren pun tidak bisa tinggal diam. Ia harus tetap berpegang pada nilai-nilai ruhaniahnya, namun juga berbenah dalam sistem dan fasilitasnya, agar tetap menjadi pilihan utama pendidikan masa depan.
Fenomena Turunnya Minat Santri
Beberapa tahun terakhir, berbagai pondok pesantren di sejumlah daerah mulai mengalami penurunan jumlah santri baru. Data di lapangan menunjukkan, penurunan itu bisa mencapai 30 hingga 40 persen di wilayah seperti Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur.
Salah satu penyebabnya yaitu munculnya sekolah-sekolah alternatif yang mengusung konsep baru Boarding School, seperti Sekolah Rakyat, Sekolah Garuda, bahkan kiai di Banten ada yang menyebut dengan jenaka: “Sekolah Burung Emprit”. Ditambah lagi, ada kebijakan pendidikan di beberapa daerah terutama di Jabar besutan KDM- yang memperbolehkan satu kelas diisi hingga 50 siswa. Padahal sebelumnya dibatasi maksimal 36 siswa. (Dengan Surat Keputusan No: 463.1/Kep.323.Disdik/2025)
Kondisi ini, secara tidak langsung, menggeser minat sebagian orangtua dari pesantren ke sekolah-sekolah umum.
Celakanya, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pesantren tradisional (salafiyah), tetapi juga mulai menyentuh pesantren modern (ashriyah).
Kisah Beberapa Pesantren yang Stabil Bahkan Cenderung Bangkit
Namun di tengah fenomena ini, beberapa pesantren justru mencatat kenaikan jumlah pendaftar secara signifikan. Apa rahasianya? Jawabannya sederhana, tapi mendalam: Fasilitas adalah bagian dari kualitas.
Banyak orang menyangka kualitas hanya diukur dari materi pelajaran, prestasi akademik, atau tokoh kiainya. Tapi hari ini, santri dan orangtuanya juga melihat aspek lain: Apakah kamar santri bersih dan sehat? Apakah ada jaminan anti-bullying dan keamanan? Apakah tersedia sarana belajar digital yang memadai? Apakah suasana pesantren terasa seperti rumah kedua?
Beberapa pesantren yang berhasil bertahan dan bahkan berkembang, menjawab tantangan itu dengan berbagai langkah konkret antara lain: Pertama, Asrama yang Nyaman, Kelas yang Sejuk. Bangunan pesantren yang sehat dan bersih menjadi kebutuhan utama. Asrama ditata agar layak huni, satu kamar diisi 10–12 santri saja, dilengkapi dengan kipas angin dan pencahayaan yang cukup. Fasilitas MCK diperhatikan betul: bersih, sehat, dan sebagian besar sudah menggunakan kloset duduk—bukan untuk bergaya, tapi demi kenyamanan dan kesehatan para santri.
Kedua, Tanpa HP, Tapi Tetap Terhubung. Aturan umum di pesantren biasanya melarang santri membawa HP pribadi. Namun isolasi digital bukanlah pilihan bijak di era sekarang. Maka solusi diberikan: tersedia akses WiFi, komputer, dan laptop untuk keperluan belajar dan informasi. Dengan sistem pengawasan yang ketat, pesantren tidak mengorbankan kedisiplinan, tapi tetap menjawab tuntutan zaman.
Ketiga, Zero Bullying, Zero Kekerasan. Kedisiplinan tetap dijaga, tapi tanpa pendekatan militeristik. Para pengasuh dan guru mengedepankan pendekatan Qur’ani: Hikmah (kebijaksanaan dan kelembutan), Mau’idzhah Hasanah (keteladanan yang nyata), dan Jidal Billati Hiya Ahsan (nasihat dan diskusi yang tegas namun santun). (QS An-Nahl: 125). Para ustadz dan pengurus di pesantren tidak hanya bertugas mendidik, tapi juga menjadi sahabat, kakak, ayah, dan ibu bagi para santri. Inilah yang membuat santri merasa diterima, dihargai, dan aman secara psikologis.
Keempat, Pesantren sebagai Rumah Kedua. Salah satu kunci keberhasilan pesantren yaitu kemampuannya menjelma menjadi rumah kedua (al-baituts tsani) bagi santri. “Home is not a place. It’s a feeling,” kata sebuah kutipan. Rumah bukan sekadar tempat tapi cita rasa hati yang damai. Maka pesantren hari ini tidak hanya dituntut menjadi tempat belajar agama, tapi juga tempat tumbuhnya rasa nyaman, kedekatan emosional, dan suasana kekeluargaan. Bagi santri yang rindu rumah, pesantren yang ramah akan menjadi pelipur lara. Bagi orangtua yang cemas, pesantren yang peduli akan menjadi tempat menitipkan harapan.
Ihtitam: Dari Generasi Z – Menuju Generasi K – Kemiri
Kita tak bisa lagi bertahan dengan metode dan fasilitas lama, jika ingin melahirkan generasi masa depan yang tangguh. Generasi Z generasi Stroberi yang cenderung rapuh harus diubah menjadi generasi K: Kemiri — Bibit Unggul Tahan Banting.
Fasilitas bukan sekadar pelengkap, tapi gambaran wajah pesantren hari ini. Jika ingin melahirkan pemimpin yang unggul dalam iman, ilmu, dan akhlak, maka kualitas pesantren harus dimulai dari yang paling dasar: lingkungan, fasilitas, dan sistem pengasuhan.
Saatnya pesantren berbicara lantang kepada dunia pendidikan: “Kami siap mendidik generasi terbaik—dengan cara terbaik- dalam menyongsong Indonesia Emas 2045. In syaa Allah.”
Wallahu A’lam bish-shawab. []
Darel Azhar, 16 Juli 2025






















