Guatemala City, Gontornews — Presiden Guatemala, Alejandro Giammattei, mengatakan deportasi 234 warga Guatemala dari Amerika Serikat berisiko terkena COVID-19. Pemerintah, lanjut Giammattei, memutuskan untuk mengkarantina seluruh warga yang terdeportasi di sebuah pusat olahraga di Guatemala City.
Pernyataan ini disampaikan Presiden Giammattei menyusul pengujian acak yang dilakukan Pemerintah. Hasilnya, 12 orang warga terdeportasi dinyatakan positif COVID-19. Mereka yang positif COVID-19 pun langsung dirawat intensif di rumah sakit di Guatemala City. Giammattei pun menyarankan otoritas terkait untuk memperbanyak pengujian terhadap para warga terdeportasi dari Amerika Serikat.
Setidaknya 234 warga Guatelama yang terdeportasi dari Amerika Serikat dikarantina di kompleks olahraga Ramiro de Leon Carpio di Guatemala City. Pasca pendeportasian, Pemerintah Guatemala menangguhkan penerbangan dari dan menuju Amerika Seriakt untuk proses pengujian lebih lanjut.
“Kami tidak ingin berada di sini. Kami lebih memilih untuk melakukan karantina di rumah,” kata seorang warga yang dideportasi, Daniel, dilansir Reuters.
Daniel mengungkapkan karantina di pusat olahraga di Guatemala tidak menerapkan aturan jarak sosial atau social-distancing. Daniel menambahkan bahwa kamar-kamar di ruang karantina itu terdiri dari 20 tampat dan tempat tidur susun.
“Mereka memeriksa suhu kami di tengah malam, pukul empat pagi, lalu siang dan sore dan malam hari,” tambah Daniel. Daniel sendiri mengaku belum melakukan tes COVID-19.
Berdasarkan data statistik penyebaran COVID-19 yang dilansir John Hopkins University, Guatemala melaporkan 257 kasus infeksi tanpa kematian. [Mohamad Deny Irawan]






















