Makkah, Gontornews– Sebuah sekolah menerima ancaman dari orang-orang di lingkungannya, yang menyebabkan banyak guru menjadi khawatir tentang keselamatan mereka saat di sekolah. Seperti diakui oleh seorang guru di Salma Bint Hamza Primary School Principal Jawahir Howsawi mengatakan bahwa sekolah tempat ia mengajar terletak di distrik Al-Khaldiyah Makkah sering mendapat ancaman itu.
“Saya ditugaskan ke sekolah bersama dengan 14 guru Saudi sebagai bagian dari rencana untuk Saudize sekolah yang dikelola oleh masyarakat asing. Orang tua dari siswa yang sebagian besar Burma tidak senang dengan rencana Saudization, “kata Howsawi.
Dia menambahkan bahwa saat berada di sekolah dia sering menerima ancaman dari wali murid siswanya yang tidak diterima di sekolah karena kurangnya tempat.
“Mobil saya dibakar oleh remaja Burma. Sopir saya menemukan residu rokok di bagasi mobil. Saya melaporkan kejadian ini ke polisi dan ke Makkah Urusan Pendidikan. Ruang kelas sangat ramai oleh 60 siswa di setiap kelas, “katanya.
Rupanya, selain sering mendapat ancaman sekolah ini juga over kapasitas. Saat ini sekolah tersebut memiliki 420 siswa, sedangkan kapasitas gedung hanya 200 siswa.
“Beberapa siswa tidak memiliki kursi dan wajib untuk duduk di lantai,” kata Howsawi.
Dia menambahkan para guru tidak merasa aman datang ke sekolah setiap hari. Para guru yang terus menerima ancaman juga tidak akan datang ke sekolah lagi.
“Direktorat pendidikan harus mengambil tindakan untuk melindungi para guru. Kami menghadapi pelecehan dan vandalisme. Remaja di lingkungan melempar batu ke ventilasi kami menyebabkan kerusuhan, “kata Howsawi.
Sementara itu, Direktur Pendidikan Makkah Talal Al-Raddadi mengaku telah menerima laporan tindakan anarkis dan vandalisme dari kepala sekolah. Pihaknya akan segera menyelidiki motif insiden tersebut dan mencarikan solusinya.
“Kami mengambil tindakan untuk mengendalikan jumlah surplus siswa. Sekolah akan digunakan untuk siang hari dan untuk anak perempuan di malam hari,”kata Al-Raddadi, demikian saudigazette melansir (3/10). [Ahmad Muhajir]



















