Bogor, Gontornews – Inilah Halal Bihalal yang ‘tak lazim’. Paling tidak ada dua alasan untuk itu. Pertama, Halal Bihalal ini digelar secara online. Kedua, Halal Bihalal ini dihadiri oleh peserta dari tiga negara. Ya, itulah Halal Bihalal yang diadakan oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Institut Agama Islam Sahid (INAIS) Bogor, Ahad (31/5).
Halal Bihalal dilaksanakan secara online karena pertemuan secara langsung tidak diperkenankan akibat pandemi coronavirus yang telah banyak menelan korban jiwa. Kendati dilakukan secara daring dengan aplikasi zoom, namun tidak mengurangi antusiasme civitas akademika INAIS untuk menyukseskan acara setahun sekali itu. Termasuk dosen-dosen INAIS yang sedang studi di mancanegara. Mereka didaulat oleh inisiator Halal Bihalal INAIS, Tita Hasanah MSi, untuk menyampaikan sharing pengalaman merayakan Idul Fitri di mancanegara.
Ketua Program Studi (Kaprodi) Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Zulfikar Ismail Lc MA yang sedang berada di Tunis mengisahkan pengalamannya berhari raya Idul Fitri di Tunisia. Sedangkan Muhammad Ahya Rafiuddin MSi, dosen INAIS yang sedang berada di Kumamoto menceritakan pengalamannya berlebaran di Jepang.
Bagaimana suasana Idul Fitri di Tunisia? Zulfikar menuturkan, lebaran Idul Fitri kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebabnya, sebagaimana di Indonesia, di Tunisia juga sedang diberlakukan pembatasan aktivitas social (PSBB) sehingga perayaan Idul Fitri kurang semarak.
“Kami melaksanakan shalat Idul Fitri di rumah, berenam,” ujarnya. Di Tunis, Zulfikar tinggal bersama lima mahasiswa lainnya. Semuanya asal Indonesia. “Di rumah saya ada enam mahasiswa pascasarjana. Semuanya kuliah di Universite Ezzitouna,” kata pria asal Aceh itu.
Usai shalat Idul Fitri, Zulfikar dan rekan-rekannya menyantap makanan bersama-sama. “Lebaran kali ini terasa sepi.”
Jika tak ada PSBB atau lockdown, Zulfikar biasanya merayakan Idul Fitri di Wisma Duta Besar RI di Les Berges du Lac, Tunis, bersama seluruh warga negara Indonesia (WNI) di Tunisia. “Usai shalat kita sambung Halal Bihalal dan makan-makan masakan Indonesia,” papar pria yang sudah sembilan tahun tinggal di Tunis itu.
“Lebaran di KBRI sangat terasa kekeluargaannya. Persaudaraan terasa erat karena di sini tidak ada orangtua dan keluarga dekat.”
Lalu bagaimana suasana hari raya Idul Fitri di Jepang? Pada kondisi normal tanpa coronavirus, suasana lebaran di Jepang sangat berbeda dengan di Tunisia. “Di sini tidak terdengar suara adzan. Panggilan adzan hanya terdengar kalau kita ke masjid,” ujar Muhammad Ahya Rafiuddin MSi, dosen INAIS yang sedang studi S3 di Kumamoto University.
Ahya menjelaskan, di Prefektur Kumamoto hanya ada satu masjid. Masjid itu berada di Kumamoto Islamic Centre. “Kalau tidak ada pandemi saya shalat Idul Fitri di masjid ini,” terang Ahya yang sudah empat tahun tinggal di Jepang bersama istri dan anaknya.
Tapi karena Jepang masih berada dalam kondisi emergency state (lockdown), Ahya shalat Idul Fitri di rumah. “Saya shalat Idul Fitri di rumah,” kata Ahya dalam acara Halal Bihalal yang dihadiri Rektor INAIS Dr HM Imdadun Rahmat SAg MSi.
Tampak hadir pula Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) Acep Nugraha MPd, Kepala Biro Administrasi Akademik dan Kepegawaian (BAAK) Dr Joko Trimulyo SH MPd, Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) M Zainal Arifin MPd, Kepala Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) Syamsul Huda MSi, Kaprodi Manajemen Pendidikan Islam (MPI) Muhzir Ihsan MPd, dan Kaprodi Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Tita Hasanah MSi.
Tak ketinggalan, juga hadir para dosen, mahasiswa, dan alumni INAIS. []




















