Gaza City, Gontornews — Jurubicara Kementerian Dalam Negeri Pemerintah Hamas, Iyad al-Bozom, pada konferensi pers hari Sabtu (28/4) di Gaza, menuduh seorang perwira intelijen senior di Otoritas Palestina (PA) terlibat dalam ledakan bom yang menyasar konvoi Perdana Menteri Palestina, Rami Hamdallah, bulan lalu.
Konvoi mobil Rami Hamdallah – termasuk di dalamnya kepala intelijen PA Majed Faraj – diserang setelah melintasi pos pemeriksaan Erez yang dikuasai Israel, yang dikenal orang Palestina sebagai Beit Hanoun, di Gaza utara, 13 Maret.
Hamdallah dan Faraj – yang kemudian kembali ke Ramallah di Tepi Barat – tidak terluka tapi tujuh pengawalnya terluka dalam ledakan itu.
Seperti dikutip Aljazeera, Bozom tidak secara eksplisit menuduh Dinas Intelijen Umum Palestina sebagai institusi yang terlibat, namun oknum di dinas intelijen itu berada di belakang ledakan itu.
“Investigasi kami jelas dan lengkap. Kami tidak menuduh Intel Palestina, tetapi dalam penyelidikan kami, kami menemukan Brigadir Jenderal Baha Balousha dari departemen intelijen mengatur serangan itu,” kata Bozom.
Balousha bekerja sebagai penasihat Faraj, katanya.
Bozom mengatakan penyelidikan Kementerian Dalam Negeri itu menyeluruh dan luas dan mengakibatkan penangkapan para pelaku utama di balik serangan itu.
Dia mengatakan, para tersangka mengaku direkrut oleh perwira intelijen Palestina tingkat tinggi untuk menanam bahan peledak di sisi jalan dalam upaya untuk membunuh Hamdallah.
Namun Osama al-Qawasmi, juru bicara Fatah, membantah tuduhan itu, dan menuduh Bozom terlibat dalam “teatrikal yang menyesatkan”.
Sedangkan Presiden Palestina Mahmoud Abbas menuduh Hamas mengatur ledakan yang menargetkan konvoi Hamdallah.
“Kami tidak ingin mereka menyelidiki, kami tidak ingin informasi dari mereka, kami tidak menginginkan apa pun dari mereka karena kami tahu persis bahwa mereka – gerakan Hamas – adalah orang-orang yang melakukan insiden ini,” kata Abbas pada pertemuan pimpinan Palestina di Ramallah setelah serangan itu. [Rusdiono Mukri]






















