Gaza, Gontornews — Tim medis Klinik Indonesia untuk Palestina melaporkan pada dua pekan terakhir yakni dari tanggal 9-23 Januari 2020, lebih dari 800 orang berdatangan ke klinik untuk memeriksakan kesehatannya. Pasien yang berobat mengeluhkan sakitnya, mulai dari influenza sampai kehamilan berisiko tinggi.
Korban luka saat aksi damai Great return March juga tetap banyak yang memeriksakan keadaannya. Andi Noor Faradiba melaporkan, sebagian besar pasien luka yang memeriksakan kesehatan adalah korban tembak tentara Israel. Sebab itu, pasien Klinik Indonesia didominasi laki-laki sebanyak 77 persen dan perempuan 23 persen.
Baca Juga
βPasien paling banyak berasal dari kalangan remaja, usia mereka 18-25 tahun. Disusul paruh baya, usia 45-50 tahun, lalu balita sampai anak-anak, baru dewasa muda dan lansia,β jelas Faradiba dilansir dari laman actnews. Senin (27/1).
Klinik Indonesia telah menerima kerja sama seluruh gubernuran di Gaza, terutama untuk melayani korban luka serangan Israel. Adanya dokter spesialis menumbuhkan syukur warga Gaza Utara yang membutuhkan perawatan intensif.
Di bidang kesehatan, selain pelayanan medis, ACT juga mendukung warga difabel Palestina dengan membagikan bantuan kursi roda. Desember lalu, sebanyak 100 kursi roda diserahkan ke penduduk Palestina yang mengalami cacat fisik akibat serangan Israel.
Middle East Monitor pada Mei 2019 menyebut Israel sedikitnya membunuh 267 warga Palestina selama Great Return March. Lebih dari 30.000 jiwa terluka. Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan, korban luka tersebut termasuk 50 anak-anak, enam perempuan, dan satu lansia. Di antara para korban itu juga ada dua orang jurnalis dan tiga paramedis. [Hafidh]





















