Washington, Gontornews — Sebanyak 278 sarjana lintas disiplin dari sejumlah negara menyerukan kepada dunia untuk mengutuk tindakan penahanan masal 1 juta etnis minoritas Muslim Uighur di negara bagian Xinjiang, Cina.
Mereka menambahkan bahwa penahanan masal tersebut telah dianggap sebagai kekerasan psikologis warga sipil yang tidak bersalah.
“Situasi ini harus diatasi untuk mencegah citra peraturan negatif terkait penindasan yang dilakukan negara terhadap penduduknya baik atas dasar etnis atau agama di masa mendatang,” ungkap pernyataan resmi kelompok tersebut, Senin (26/11).
“Kami meminta agar negara-negara bisa menjadi ujung tombak bersama pemerintah Amerika Serikat untuk menyelidiki sistem penahanan masal dan menutup kamp-kamp (penahanan) itu,” tambah pernyataan tersebut sebagaimana dilansir Reuters.
Sebagaimana diketahui, sejumlah kelompok Hak Asasi Internasional tengah menyoroti langkah pemerintah Cina yang menahan 1 juta etnis minoritas Uighur dan beberapa etnis lainnya di Xinjiang. Panel HAM Amerika Serikat pun mengamini temuan tersebut.
Meski demikian, Pemerintah Cina berdalih, mereka tidak melakukan penahanan melainkan melakukan re-edukasi bagi warga yang terindikasi terlibat dengan kasus teroris atapun gerakan separatis.
Pemerintah Cina juga menyatakan bahwa tidak ada aksi penahanan masal di kamp militer Xinjiang melainkan pelatihan kejuruan dan keterampilan kerja serta mempelajari pengetahuan hukum untuk membatasi aksi militansi.
Tidak hanya itu, Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi meminta kepada masyarakat internasional untuk mengabaikan gosip tersebut serta mempercayai pernyataan resmi pemerintah Cina.
“Kami dengan tegas menentang kekuatan asing yang mencoba mengganggu urusan dalam negeri Xinjiang dan politik domestik Cina,” ungkap juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, Geng Shuang. [Mohamad Deny Irawan]


















