New Delhi, Gontornews – Kamis (6/9) kemarin, Pemerintah India menggelar pertemuan dengan para pejabat Amerika Serikat (AS). Dalam pertemuan tersebut kedua pihak membahas mengenai kerja sama militer di tengah sanksi Iran.
Pertemuan Kepala Pertahanan AS, James Mattis bersama Menteri Luar Negeri, Mike Pompeo menggelar diskusi dengan Menteri Luar Negeri India, Sushma Swaraj dan Menteri Pertahanan, Nirmala Sitharaman di Ibu Kota India, New Delhi. Dalam diskusi tersebut, kedua belah pihak mengaku senang dengan kemajuan yang dibuat sejauh ini antara AS dan India.
Pompeo mengatakan komunikasi yang selaras serta perjanjian keamanan merupakan tonggak sejarah dalam hubungan AS-India. Sedangkan Sitharaman mengatakan jika perjanjian yang terjalin itu akan meningkatkan kemampuan dan kesiapan pertahanan India.
Sementara itu, para pengamat mengatakan bahwa kesepakatan yang terjalin antar dua negara itu bisa menghasilkan transfer peralatan berteknologi tinggi AS ke India, seperti kelompok pengintai bersenjata Laut Guardian.
“Ini adalah perjanjian penting dan akan menjadi keuntungan bagi India di wilayah angkatan laut,” jelas Manoj Joshi, Analis Senior di Observer Research Foundation, Al Jazeera.
Namun demikian, menurut Joshi, ada mungkin terjadi komplikasi yang berkaitan dengan peralatan non-AS yang digunakan militer India dalam pesawat tempurnya yaitu rudal S-400 yang merupakan buatan Rusia.
“Apakah protokol akan berbagi informasi yang terkait dengan sistem non-AS itu, sesuatu yang belum jelas,” katanya.
Hubungan dagang India dengan Iran dan Rusia yang dijatuhi sanksi menjadi kunci terjalinnya kesepakatan kedua pihak tersebut. Perdagangan India secara ekstensif dengan Rusia dan Iran, yang saat tengah menghadapi sanksi Amerika.
Undang-undang AS, Melawan Adversaris Amerika melalui sanksi Undang-undang, mengancam akan menganggu perdagangan pertahanan besar India dengan Rusia.
“Hal itu tergantung dari kepentingan India sendiri, untuk mempertahankan hubungan penting dengan Moskow dan Teheran, serta membangun hubungan dengan AS,” katanya.
Dia mencatat jika akses impor minyak Iran ke India adalah sesuatu yang sangat penting bagi pertumbuhan negara itu dalam beberapa dekade mendatang. Sementara AS sendiri telah menuntut sekutunya itu untuk memotong perdagangan dengan Teheran.
Untuk itu, New Delhi, yang merupakan salah satu pembeli terbesar minyak mentah Iran, harus bisa menemukan langkah-langkah untuk membatalkan efek sanksi AS terhadap Iran.
Manurut Joshi, keengganan India untuk mengganggu impor minyak Iran berasal dari meningkatnya tekanan domestik pada pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi karena kenaikan harga minyak dan melemahnya rupee terhadap dolar.
India juga berusaha untuk menghindari sanksi AS yang diberikan kepada negara yang melakukan bisnis dalam sektor militer dan intelijen Rusia.
Sementara itu, data yang dihimpun Institut Riset Perdamaian Stockhol mengatakan perangkat keras militer Rusia telah menyumbang sebanyak 62 persen dari total impor senjata India selama lima tahun terakhir.
India juga telah melakukan pembicaraan dengan Rusia mengenai rencana pemembelian lima sistem rudal jarak jauh S-400 yang canggih milik Rusia. Namun kemungkinan kesepakatan tersebut akan menghadapi cuaca buruk di bawah sanksi baru AS. [Devi Lusianawati]



















