London, Gontornews — Perdana Menteri Inggris Boris Johnson telah mengumumkan penguncian (lockdown) virus korona empat pekan di Inggris. Sejumlah negara Eropa juga mengambil langkah serupa. Kecuali Slovakia yang mulai menguji seluruh penduduknya.
Jumlah terinfeksi di seluruh dunia mendekati 46 juta, dengan hampir 1,2 juta kematian. Eropa mengalami lonjakan kasus COVID-19 yang luar biasa.
“Sekarang saatnya untuk mengambil tindakan karena tidak ada alternatif lain,” kata Johnson dikutip Hurriyetdailynews.com.
“Kita harus rendah hati dalam menghadapi alam. Sayangnya, di negara ini, seperti di sebagian besar Eropa, virus menyebar lebih cepat daripada skenario kasus terburuk yang masuk akal dari para penasihat ilmiah kita.”
Di bawah penguncian baru, yang direncanakan dimulai pada Kamis dan berakhir pada 2 Desember, penduduk Inggris harus tinggal di rumah kecuali untuk bekerja, pendidikan atau olahraga. Semua toko akan tutup kecuali toko-toko penting untuk keperluan sehari-hari.
Sementara Pemerintah Skotlandia, Wales, dan Irlandia Utara telah memberlakukan penguncian parsial. Infeksi di Inggris melonjak melebihi satu juta pada 31 Oktober.
Perdana Menteri Portugal Antonio Costa juga mengumumkan penguncian parsial, 70 persen populasi kembali hidup dengan pembatasan.
Juga pada tanggal 31 Oktober, Austria melakukan penguncian kedua, sementara Yunani mengumumkan penguncian parsial. Langkah-langkah baru itu datang hanya sehari setelah Prancis memulai penguncian kedua dan Belgia mengatakan akan memperketat tindakannya.
Italia juga telah memberlakukan kembali beberapa pembatasan.
Kali ini di Eropa, terkadang ada aksi unjuk rasa memprotes pemberlakuan pembatasan atau penguncian.
“Kota ini akan bangkrut. Tidak akan ada yang tersisa darinya,” kata Roger Stenson, seorang pensiunan berusia 73 tahun di Nottingham, menjelang pengumuman penguncian Inggris. Ia menggemakan kekhawatiran tentang dampak ekonomi. []






















