Jakarta, Gontornews – Dalam berkomunikasi atau bertutur kata diperlukan akhlak yang baik. Karena itu dalam berkomunikasi diperlukan kesantunan berbahasa dan kemampuan memilih serta bertutur kata yang baik sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat. “Kesantunan Berbahasa harus menjadi program utama bagi pembinaan pola komunikasi bangsa,” ujar Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd, dalam bedah buku bertajuk “Pentingnya Bertutur Kata Santun (Sebuah pedoman untuk menerapkan nilai dalam kehidupan bangsa)” di Gedung Perpustakaan DPR RI, Jakarta, Selasa (24/5/2022).
Menurut Prof Sofyan, kesantunan dapat memperkokoh hubungan keakraban dan alat mengurangi perpecahan dalam interaksi antarpersonal. Karena itu, di era ketidakpastian seperti sekarang ini, segenap warga negara harus kembali kepada pedoman agama untuk pembinaan nilai, etika, dan agama.
“Untuk membendung disrupsi di dunia pendidikan, pengaplikasian ‘manajemen pendidikan nilai’ penting untuk selalu dilakukan. Norma dan etika bukan semata-mata peraturan abstrak, tetapi telah menjadi warisan tak benda bagi peradaban bangsa,” paparnya pada bedah buku yang digelar oleh Perpustakaan DPR RI bekerjasama dengan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Nusantara (Uninus), dan Nurani Hati Institute.
Bedah buku “Kesantunan Berbahasa” karya Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd itu dihadiri sejumlah tokoh dan politisi. Mereka antara lain Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr Ir Hetifah Sjaifudian MPP, Wakil Ketua DPR RI Kordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Periode 2014 – 2019 Fahri Hamzah, Wakil Rektor I UPI Prof Dr Didi Sukyadi MA, dan penceramah kondang Ustadz Erick Yusuf.
Lebih jauh Prof Sofyan menuturkan, Islam mengajarkan enam prinsip berkomunikasi. Pertama, Qaulan Sadida (Berbicara dengan Benar) seperti yang diungkapkan dalam Alquran surat An-Nisa ayat 9 dan Al-Ahzab ayat 70. Kedua, Qaulan Ma’rufa (Berbicara dengan Bahasa yang Menyedapkan Hati) diungkapkan Alquran dalam empat surat, yaitu QS An-Nisa ayat 5, QS An-Nisa ayat 8, QS Al-Baqarah ayat 235, dan QS Al-Mu’minun ayat 32.
Ketiga, Qaulan Baligha (Berbicara dengan Efektif) seperti diungkapkan dalam QS An-Nisa ayat 63. “Qaulan Baligha bisa diartikan sebagai pembicaraan yang fasih, jelas, dan terang maknanya, serta tepat mengungkapkan apa yang dikehendakinya,” papar Prof Sofyan.
Keempat, Qaulan Masyura (Berbicara dengan Baik dan Pantas) sebagaimana tersebut dalam QS Al-Israa ayat 28. “Secara bahasa, Qaulan Masyura berarti perkataan yang mudah,” terang penulis puluhan buku best seller itu.
Kelima, Qaulan Layyina (Berbicara dengan Lembut) seperti tersebut dalam QS Thaahaa ayat 44. “Secara bahasa, Qaulan Layyina berarti perkataan yang lemah atau lembut.”
Keenam, Qaulan Karima (Berbicara dengan Kata-kata Mulia) sebagaimana tersebut dalam QS Al-Israa ayat 23. Menurut dosen program pascasarjana Universitas Ibn Khaldun (UIKA) Bogor itu, Qaulan Karima berarti perkataan yang mulia.
Meski ajaran Islam untuk tuntunan dalam berkomunikasi sangat lengkap, namun faktanya, komunikasi yang terjadi di masyarakat sering mengakibatkan perselisihan. Ini karena ajaran Islam tidak dijadikan landasan dalam berkomunikasi dan akibat kebebasan tanpa nilai. “Ketika orang sudah menggunakan lidahnya secara bebas tanpa didasari pertimbangan moral, nilai dan agama, maka akan banyak orang tersinggung dan berselisih,” ujar Penerima Tanda Jasa Penghargaan Karya Bakti Satya 30 Tahun dari Presiden RI (2016) itu.
Selain itu juga kerap muncul kesenjangan komunikasi yang memprihatinkan. Menurutnya, banyaknya kekerasan, penyalahgunaan narkoba, dan tindakan kriminal di kalangan remaja disebabkan adanya komunikasi yang kurang baik di antara keluarga dan masyarakat.
Fakta lainnya, terjadinya generasi yang lepas kendali saat komunikasi. “Seringkali terjadi ucapan para remaja dalam berkomunikasi sehari-hari sudah jauh dari etika. Hal itu salah satunya dipengaruhi oleh perubahan perilaku berbahasa,” terang Prof Sofyan sembari menyebutkan saat ini banyak generasi yang kehilangan jatidiri.
Selain itu, remaja juga telah kehiangan perilaku santun baik di keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Padahal sikap santun merupakan citra Indonesia di dunia.
Berdasarkan problematika tersebut, penulis berhasil mengangkat permasalahan berbahasa tersebut menjadi permasalahan utama dalam pendidikan. Menurutnya, bahasa sebagai alat komunikasi manusia sejak awal penciptaannya harus dikembangkan mengikuti perspektif Islam. Dengan demikian, perlu adanya strategi pendidikan kesantunan berbahasa yang pegangannya berdasar kepada Alquran, Alhadis, dan nilai-nilai budaya religius di masyarakat Indonesia. Karenanya, kesantunan berbahasa harus menjadi program utama bagi pembinaan pola komunikasi bangsa.
Menurut Sofyan, semua warga negara harus kembali kepada pedoman agama untuk pembinaan nilai, etika, dan agama di era ketidakpastian seperti sekarang. Untuk membendung disrupsi di dunia pendidikan, pengaplikasian “manajemen pendidikan nilai” penting untuk selalu dilakukan. Norma dan etika bukan semata-mata peraturan abstrak, tetapi telah menjadi warisan tak benda bagi peradaban bangsa.
Apresiasi Dewan
Sementara itu Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dr Ir Hetifah Sjaifudian MPP mengaku senang sangat senang dengan acara bedah buku ini. Apalagi hal itu dilakukan di Perpustakaan DPR RI, sehingga bisa sekaligus menikmati suasana perpustakaan yang nyaman. “Saya berharap mudah-mudahan diskusi buku ini bisa dilakukan secara periodik oleh Perpustakaan DPR RI,” paparnya dalam sambutannya pada acara itu, dikutip laman dpr.go.id.
Politisi Fraksi Partai Golkar itu mengatakan, buku karya Prof Sofyan ini sangat bagus dan direkomendasikan untuk semua orang, tidak terbatas guru atau tenaga pendidik. “Buku ini mengajarkan bagaimana cara kita mengomunikasikan sesuatu dengan bahasa kita, tidak hanya dengan benar, namun dengan cara yang santun dan beretika,” ujarnya.
Menurutnya, Indonesia menjadi salah satu bangsa yang dikritik oleh negara lain karena dianggap tidak sopan dan tidak beretika. Banyak isi dari yang disampaikan menjadi berita yang sifatnya provokatif dan penuh dengan ujaran kebencian. “Ini yang harus diatasi salah sataunya, dengan mendidik anak-anak kita sejak dini bagaimana cara berbahasa yang baik dan benar, santun dan beretika,” tandasnya.
Sedangkan Wakil Ketua DPR RI Kordinator bidang Kesejahteraan Rakyat Periode 2014 – 2019, Fahri Hamzah, yang menjadi pembahas dalam bedah buku itu mengatakan, buku ini menuntun dunia akademik tentang bagaimana mengajarkan berbahasa yang santun.
Menurutnya, berbahasa tidak terlepas dari sejarah umat manusia. “Dalam Islam, bagaimana Nabi Adam diajarkan nama-nama, yang kemudian dari kata-kata tersusun kalimat dan bahasa. Bahkan sejarah setiap kata pun dijelaskan,” terangnya.
Kelebihan dan kekurangan buku
Salah satu kelebihan buku terbitan Royyan Press (2021) ini, temanya menarik, yaitu berkenaan dengan implementasi pendidikan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, referensinya lengkap. Tidak hanya menyajikan teori-teori Barat, penulis juga mengungkap nilai-nilai utama dalam pedoman umat Islam.
Meskipun hasil penelitian, buku ini menggunakan bahasa yang mudah untuk dipahami dan sangat komunikatif, gampang dibaca, dan sistematis. Antara bab satu dengan bab lainnya mempunyai kaitan sehingga relevan.
Sedangkan kekurangan dari buku ini, gambar pada lembar isi masih polos, karena itu bisa digunakan warna-warna variatif pada cetakan khusus berwarna.
Rekomendasi
Buku yang terdiri dari 8 bab ini perlu dibaca oleh para perancang regulasi pendidikan untuk dijadikan referensi saat menentukan kebijakan. Buku ini juga layak dibaca oleh para manajer di sekolah untuk dapat dijadikan pedoman program pembinaan pendidikan nilai.
Selain itu, buku ini penting bagi pegangan orang tua dalam mendidik anak. Sedangkan bagi para ademisi, buku ini dapat menjadi khazanah referensi untuk penelitian lain yang dinamis.
Identitas buku
- Judul Buku : Kesantunan Berbahasa (Kajian Nilai, Moral, Etika, Akhlak, Karakter, dan Manajemen)
- Penulis : Prof Dr H Sofyan Sauri, MPd
- Penerbit : Royyan Press
- Tahun Terbit : 2021
- Tebal Buku : 246 Halaman. []


















