Roma, Gontornews — Italia pada 5 Juli mengizinkan kapal amal Ocean Viking untuk memindahkan 180 migran yang diselamatkan di Mediterania ke sebuah kapal di Sisilia untuk karantina.
“Kami telah menerima instruksi dari otoritas maritim Italia untuk menurunkan mereka yang ada di Porto Empedocle,” kata jurubicara badan amal SOS Mediterranee kepada AFP.
“Kami sangat bahagia! Kami telah menempuh perjalanan jauh, Libya seperti neraka dan sekarang setidaknya kami bisa terbebas akhirnya. Saya perlu memberi tahu keluarga bahwa saya masih hidup,” kata Rabiul (27) dari Bangladesh.
Ocean Viking sekarang menuju pelabuhan untuk memindahkan para migran ke kapal yang disewa pemerintah Moby Zaza selama 14 hari karantina.
“Saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka berhak untuk pindah ke Moby Zaza, kemungkinan besok pagi,” kata jurubicara Kementerian Dalam Negeri Dino Martirano kepada AFP.
Mereka telah berada di Ocean Viking selama lebih dari sepekan. Akibat adanya perkelahian dan upaya bunuh diri di atas kapal, mendorong badan amal untuk menyatakan keadaan darurat pada 3 Juli.
Ocean Viking, yang berada di Mediterania selatan Sisilia, telah menunggu izin dari Italia atau Malta untuk menurunkan para migran di pelabuhan yang aman.
Ketegangan meningkat dalam sepekan terakhir, seperti disaksikan oleh reporter AFP. Para migran semakin putus asa untuk mencapai daratan. Yang lain bingung karena tidak dapat menelepon keluarga untuk memberi tahu bahwa mereka aman.
Seorang anggota kru, Ludovic, mengatakan kepada AFP bahwa dia belum pernah menyaksikan kekerasan semacam itu di atas kapal penyelamat. Ada serentetan pertikaian antara migran dan ancaman bunuh diri.
Para migran, termasuk dari Pakistan, Afrika Utara, Eritrea, Nigeria dan lainnya, diselamatkan setelah melarikan diri dari Libya dalam empat penyelamatan terpisah oleh Ocean Viking pada 25 dan 30 Juni.
“Sekarang, kehidupan kedua ada di depan kita, setelah semua yang kita lalui di Libya. Terima kasih Italia karena menawarkan kita kehidupan kedua, dan kepada SOS Mediteranee karena telah menyelamatkan kami,” kata Emmanuel (32) dari Ghana.
Para migran termasuk 25 anak, yang sebagian besar tidak ditemani oleh orang dewasa, dan dua wanita, salah satunya sedang hamil.
Kadang-kadang, anggota tim penyelamat SOS Mediterranee berada di geladak untuk menenangkan situasi yang tegang. Beberapa ancaman ditujukan kepada penyelamat itu sendiri.
Pada tanggal 2 Juli, dua migran menceburkan diri ke Mediterania, tetapi berhasil diselamatkan.
Lebih dari 100.000 migran berusaha melintasi Mediterania tahun lalu, lebih dari 1.200 di antaranya meninggal dalam upaya itu, menurut Organisasi Internasional untuk Migrasi. []























