Istambul, Gontornews — Persatuan Internasional Ulama Muslim (IUMS) mengecam keras penggunaan senjata kinia oleh Rezim Assad di Kota Douma, Ghouta Timur, Suriah, Senin (9/4). Mereka sangat mengutuk serangan yang menggunakan gas beracun dan telah menewaskan 78 orang pada Sabtu (7/4) malam.
Dikutip laman Anadolu, menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh IUMS, organisasi tersebut mengutuk kejahatan mengerikan yang dilakukan Pemerintah Suriah dan sekutunya, Rusia. Serta meminta hukuman internasional ditegakan terhadap rezim kejam tersebut.
Pernyataan itu juga mengatakan bahwa rezim Assad tidak memperdulikan pertumpahan darah yang terjadi di negaranya. Rezim itu juga tidak menghormati Hak Asasi Manusia Warga Douma dengan mengabaikan kemanusian di wilayah tersebut.
Sekretaris Jenderal IUMS Ali al-Qaradaghi mengatakan dalam pernyataannya bahwa sikap apatis masyarakat internasional menjadi sebuah kesempatan bagi rezim penindas itu untuk terus melakukan kejahatan terhadap rakyat Suriah dan warga sipil dengan senjata terlarang.
Oleh sebab itu, Al-Qaradaghi menyerukan kepada masyarakat internasional untuk mendesak dan bersikap terhadap pelanggaran yang menimbulkan kejahatan kemanusiaan di Ghouta Timur.
Sebelumnya, pada 24 Februari lalu, Dewan Keamanan PBB sepakat mengadopsi Resolusi 2401, yang menyerukan gencatan senjata selama sebulan di Suriah, terutama di Ghouta Timur untuk memungkinkan pengiriman bantuan kemanusiaan.
Akan tetapi rezim Assad bulan lalu justru meluncurkan serangan darat yang didukung oleh Rusia dengan tujuan menangkap kubu oposisi terakhir Ghouta Timur, rumah bagi sekitar 400.000 orang.
Distrik ini tetap menjadi target pengepungan rezim dan telah melumpuhkan kelompok oposisi selama lima tahun terakhir. Rezim juga membuat pengiriman pasokan kemanusiaan sulit untuk masuk.
Bulan lalu, komisi penyelidikan PBB merilis laporan yang menuduh rezim melakukan kejahatan perang di Ghouta Timur, termasuk penggunaan senjata kimia terhadap warga sipil. [Devi Lusiana]





















