Wellington, Gontornews — Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, Kamis (19/1/2023), mengumukan pengunduran diri dari jabatannya dalam beberapa pekan mendatang. Wanita berusia 42 tahun ini mengatakan tidak lagi memiliki tangki yang cukup untuk memimpin negara tetangga Australia tersebut.
“Saya manusia. Kami memberikan sebanyak yang kami bisa selama kami bisa dan kemudian tiba waktunya dan, bagi saya, inilah saatnya,” kata Ardern dalam pertemuan anggota Partai Buruhnya.
“Saya hanya tidak punya tangki yang cukup untuk empat tahun lagi,” sambungnya sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Rencananya, Ardern akan mundur paling lambat pada 7 Februari mendatang atau kurang dari tiga tahun setelah ia memenangkan suara dengan telak guna mengamankan masa jabatan keduanya.
Sejak memuncak pada tahun 2020, kepemimpinan Ardern di dalam negeri mengalami goncangan seiring lonjakan inflasi, resesi serta kebangkitan kembali kelompok oposisi konservatif.
“Saya percaya bahwa memimpin suatu negara adalah pekerjaan paling istimewa bagi siapa pun, tetapi juga salah satu (pekerjaan) yang paling menantang,” ucap Ardern.
“Anda tidak dapat dan tidak boleh melakukannya kecuali Anda memiliki tangki penuh, ditambah sedikit cadangan untuk tantangan tidak terduga,” imbuhnya.
Nama Ardern sontak mendapatkan atensi internasional saat berhasil menunjukkan empati dari kasus pembantaian 51 jamaah Muslim dan 40 jamaah terluka di Masjid Christchurch. Ardern, bahkan, mendapatkan pujian seiring kemampuannya untuk memberikan kebijakan yang menentukan selama letusan gunung berapi White Island yang sangat fatal.
Ardern masih tercatat sebagia perdana menteri kedua di dunia yang melahirkan saat menjabat setelah Benazir Butho dari Pakistan pada 1990. Setelah mundur dari jabatannya, dia berharap dapat memiliki banyak waktu untuk putrinya, Neve, yang mulai sekolah pada akhir tahun ini. [Mohamad Deny Irawan]




















