Istanbul, Gontornews — Hijaber cantik asal Turki Kubra Dagli membuktikan bahwa jilbab bukan halangan untuk meraih prestasi dunia. Perempuan berusia 20 tahun ini berhasil menorehkan prestasi pada kejuaraan taekwondo dunia yang digelar di Lima, Peru. Dagli mempersembahkan medali emas mewakili negaranya.
Prestasi ini tentu membuat publik Turki bangga. Selain usianya masih muda, Dagli turut mengubah pandangan masyarakat yang menganggap jilbab sebagai halangan bagi perempuan untuk berprestasi. Lebih dari itu, prestasi ini juga menjawab penyudutan yang dilakukan kelompok Islamphobia terhadap Muslimah di wilayah Eropa dan sekitarnya.
Namun sikap penganut faham sekuler dan agama di Turki terpecah soal jilbab yang digunakan atlet berbakat tersebut. Seperti dilansir theindependent, Senin (31/10), kelompok yang tak senang dengan pakaian jilbab menghujani Dagli dengan kritikan tajam. Kelompok masyarakat dari negeri Turki sendiri ini menganggap bahwa jilbab merupakan simbol keterbelakangan.
โMengapa Anda menutup kepala sementara kaki Anda terbuka pada setiap posisi. Anda bisa melakukannya dengan kepala terbuka pula. Cara ini tentu akan bermasalah, semoga Allah memberikan akal sehat,” bunyi salah satu komentar.
Warga lain menyarankan supaya Dagli menghabiskan waktunya di rumah saja supaya menjadi juara baca al-Qurโan sebagai gantinya.
Menanggapi komentar tersebut Dagli menegaskan bahwa dirinya menentang setiap bentuk diskriminasi. Prestasi yang telah ditoreh untuk negerinya merupakan hasil kerja keras dan profesionalismenya.
โMereka tidak bicara tentang kesuksesan saya, tapi soal hijab saya. Saya tidak ingin seperti ini. Kesuksesan kita harus disampaikan. Kami berusaha keras, kami membuat negara dan tim kami menjadi juara dunia. Inilah kebanggaan kami,” kata Dagli.
Dagli mengakui tak sedikit atlet perempuan berjilbab yang mendapat tekanan dan kecaman dari publik yang tak senang. Tapi ย apa yang dilakukan sudah sesuai peraturan badan pengawas olahraga dunia.
Sang juara dunia ini menuturkan, sebagai atlet tantangan terbesar yang dihadapi adalah latihan saat bulan Ramadhan, karena harus menahan makan dan minum. Semua itu dilakukan demi mengukir prestasi dunia yang dipersembahkan untuk negaranya. [Ahmad Muhajir/Rus]




















