Berbicara tentang Wuhan, baru-baru ini dunia digemparkan dengan penyebaran virus Corona yang diduga berasal dari Kota Wuhan, Cina. Berdasarkan data yang dirilis oleh Wuhan Coronavirus (2019-nCoV) Global Cases (by Johns Hopkins CSSE) per 28 Januari pukul 11.00 siang waktu Wuhan, virus Corona telah menyebabkan 132 orang meninggal dunia dan 5970 warga Cina terinfeksi virus penyebab pneumonia tersebut.
Alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor yang melanjutkan studinya di Huangshi, Provinsi Hubei, Cina, Annisa Irba Widyasari (20), yang tinggal di Kota Huangshi, sekitar 74 KM sebelah tenggara Kota Wuhan, mengabarkan bahwa kondisi Wuhan saat ini tidak seperti biasanya. “Kondisi Wuhan saat ini masih sepi. Hanya ada beberapa warga lokal yang berlalu lalang,” ungkapnya seperti dilansir Gontornews.com, (27/01/2020).
Wuhan, kota pedalaman yang terletak di tengah-tengah Cina ini merupakan titik persimpangan kereta cepat antara Guangzhou, kota nomor satu di selatan dengan Ibukota Beijing di utara, dan Kota Shanghai di timur laut, serta Chengdu di barat daya.
Islam pertama kali masuk ke Cina pada 650-651, yaitu saat Sa’ad bin Abi Waqqas kembali ke Cina untuk ketiga kalinya setelah diminta oleh Khalifah Utsman untuk memimpin delegasi ke Cina.Kehadirannya disambut hangat oleh Kaisar Tiongkok yang memerintahkannya untuk membangun sebuah masjid di Kanton, yang merupakan masjid tertua di negara ini, untuk mengenang Nabi.
Seiring berjalannya waktu, agama Islam menyebar di Cina dan masjid-masjid mulai didirikan, salah satunya di Wuhan. Namun demikian Wuhan bukanlah salah satu kota yang memiliki jumlah Muslim terbanyak, karena jumlah Muslim di Wuhan hanya 1,6 persen dari jumlah total 23 juta penduduk Muslim di Cina.
Dengan demikian kabar yang mengatakan bahwa Wuhan memiliki jumlah Muslim terbanyak adalah hoax. Kepada Gontornews.com, salah seorang warga negara Indonesia yang pernah berkunjung ke Kota Wuhan, Muslim Armas, mengatakan bahwa tidak benar kalau Wuhan adalah salah satu kota yang memiliki jumlah Muslim terbanyak. “Itu jelas keliru,” ungkapnya.
Menurut Muslim Armas, umat Islam Cina yang jumlahnya terbanyak adalah suku Hui yang merupakan suku asli Cina dan bertempat tinggal tidak jauh dari Beijing. Sedangkan yang di sebelah barat adalah suku Uyghur yang tinggal di Xinjiang. “Selain itu Muslim di Cina adalah minoritas termasuk yang di Wuhan,” bebernya.
Dikutip Tribun Jatim (20/01/2020), sebelum coronavirus mewabah, Kota Wuhan memiliki daya tarik tersendiri. Salah satunya adalah karena keindahan kehidupan perkampungan Muslim di Wuhan. Dalam unggahan video dokumenter di YouTube, Muhammad Hanif Hasballah bercerita tentang bagaimana keadaan perkampungan Muslim di Qiyi Street Wuchang, Cina.
Menurut penuturan Hanif, Qiyi Street adalah salah satu perkampungan Muslim yang ada di Kota Wuhan. Di sana logo halal pun tidak sulit ditemukan, karena hampir setengah dari penduduk perkampungan tersebut adalah Muslim. Dalam video itu, tampak salah seorang warga Muslim yang berprofesi sebagai pedagang daging halal, pembelinya tidak hanya orang Muslim. Siapa pun boleh membelinya.
Video yang diunggah Hanif tersebut juga memperlihatkan suasana pasar tradisional di sana. Selain makanan halal juga ada beberapa masjid di Kota Wuhan. Seperti dikutip NuOnline (10/11/2019) Ahmad Syaifuddin Zuhri, mahasiswa Central China Normal University (CCNU) Wuhan dan Wakil Rais Syuriyah PCINU Tiongkok, menjelaskan, ada empat masjid di Kota Wuhan yang terdeteksi yaitu Masjid Majiazhuang, Masjid Qiyi, Masjid Jiang An dan Masjid Min Quan Lu.
Masjid Min Quan Lu memiliki dua lantai yang digunakan untuk shalat Jumat. Diperkirakan satu lantai muat sekitar 50 jamaah. “Masjid ini yang terkecil yang saya temukan di antara masjid lainnya di Wuhan,” ungkapnya. Tidak seperti Masjid Min Quan Lu, Masjid Jiang An memiliki empat lantai dan cukup besar.
Namun demikian, menurut marbot atau penjaga Masjid Jiang An, Zaid, masjid ini akan dipindah pada musim panas tahun 2020. Dalam hal ini pemerintah setempat yang memfasilitasi dengan bantuan dan mengganti ke lahan baru yang jaraknya sekitar 1,3 KM dari masjid yang sekarang. “Bangunannya sudah jadi, tinggal nunggu tahap akhir dan perizinan keluar dari pihak yang berwenang,” jelasnya.
Masjid baru ini, kata dia, posisinya di pertigaan jalan besar yang cukup ramai. Relatif dekat dengan stasiun besar kereta api Hankou dan stasiun MRT line 1. Arsitektur bangunannya memadukan gaya arsitektur Eropa, Arab, dan China dengan tinggi bangunan enam lantai dan lahan parkirnya cukup luas.
Katanya pula, masjid ini akan menjadi masjid terbesar dan terindah di Kota Wuhan. “Saya cek di peta, lokasi masjid ini sekitar 20 kilometer dari Central China Normal University (CCNU), sekitar 30 KM dari tempat tinggal saya. Cukup jauh. Bersyukur, di dekat tempat tinggal saya ada satu masjid, di Masjid Majiazhuang,” ungkapnya. [Muhammad Khaerul Muttaqien/Aysha Athaaya Salsabila]





















