Lisbon, Gontornews — Pemerintah Portugal, Kamis (2/6/2022), menyebut sub-varian Omicron sebagai penyebab utama penyebaran Covid-19 di wilayahnya. Portugal mencatat rata-rata 2.447 kasus baru per satu juta orang dalam tujuh hari terakhir. Angka ini lebih tinggi dibanding Spanyol dengan 449 kasus per-satu juta orang atau Inggris dengan 70 kasus per-satu juta orang.
Meski demikian, penambahan kasus Covid-19 di Portugal sedikit mereda dalam beberapa hari terakhir. Saat ini, kasus yang terkonfirmasi hanya sepertiga kasus puncak Omicron yang mereka konfirmasi pada 31 Januari lalu.
Center for Systems Science and Engineering (CSSE) di Johns Hopkins University (JHU) mencatat penambahan kasus Covid-19 di Portugal mencapai 691.245 kasus dan 795 kematian dalam 28 hari terakhir.
Portugal memiliki tingkat kematian tertinggi kelima di dunia akibat Covid-19 serta peningkatan kebutuhan ruang rawat inap.
Beberapa pengusaha bisnis pariwisata di Portugal menyatakan kekhawatirannya terhadap lonjakan kasus Covid-19, meski belum ada pembatalan yang terjadi. Jumlah turis asing pada bulan April telah mendekati level yang terlihat sebelum pandemi. Beruntung, 90 persen penduduk Portugal telah mendapatkan vaksinasi lengkap.
Lembaga kesehatan masyarakat Ricardo Jorge melaporkan, Selasa (31/5/2022), bahwa sub-varian Omicron BA.5 bertanggungjawab atas hampir 90 persen infeksi Covid-19 yang baru. Tidak hanya sub-varian BA.5 yang terkonfirmasi, lembaga tersebut juga berhasil mendeteksi sub-varian BA.4 di negara asal Cristiano Ronaldo tersebut.
“Portugal mungkin adalah negara Eropa dengan prevalensi tertinggi dari sub-garis keturunan ini. (Laporan) ini juga menjelaskan tingginya jumlah (kasus) yang kami lihat,” kata Menteri Kesehatan Portugal, Marta Temido, sebagaimana dilansir Reuters dari RTP.
Meski penambahan kasus masih terjadi, pemerintah telah mencabut sebagian besar pembatasan Covid-19, termasuk mencabut kewajiban pengguna masker di ruang publik dan di dalam ruangan. Namun, Temido masih menambahkan pemerintah masih merekomendasikan penggunaan masker. Pemerintah juga akan terus mengkampanyekan dosis vaksin penguat (booster) kepada kelompok rentan. [Mohamad Deny Irawan]




















