Jakarta, Gontornews — Penembakan enam laskar khusus FPI yang dilakukan aparat Kepolisian hingga kini masih menyisakan pertanyaan, termasuk bagi keluarga korban. Lantas apa yang bisa dijelaskan pemerintah kepada mereka, melihat usia para korban masih terbilang muda.
Hal itu disampaikan Ketua DPP PKS Netty Prasetyani Aher dalam sebuah keterangan pers, Rabu (9/12) kepada media.
“Tentu mengenaskan bagi keluarga mereka untuk menerima kematian dengan cara seperti itu. Sebagai seorang ibu, saya dapat membayangkan bagaimana perasaan ibu atau keluarga mereka. Jadi, negara harus memberikan penjelasan yang transparan dan jujur kepada keluarga almarhum,” kata Netty.
Ia juga menyesalkan tindakan aparat tersebut. Menurutnya hal itu merusak citra Kepolisian RI. Sebab, apa yang dilakukan Kepolisian merupakan pelanggaran HAM berat yang harus dijelaskan dan dipertanggungjawabkan di hadapan publik.
Netty menambahkan, dalam bertugas, seharusnya aparat mengutamakan cara persuasif, apa pun kasusnya itu. Jika mereka menganggap sebagai ancaman, ada prosedur lain yang bisa dilakukan sebelum menembak mati, yaitu melumpuhkan.
Selain itu, Netty juga meminta agar dibentuk Tim Pencari Fakta Independen atas insiden tersebut. Kepolisian juga harus terbuka dan transparan tanpa ada hal yang ditutup-tutupi.
“Ada banyak pertanyaan publik yang belum terjawab. Misalnya, kenapa kejadian ini berbarengan dengan matinya CCTV di sekitar lokasi? Apalagi di media sosial beredar cerita kejadian dengan versi berbeda,” tambah Netty.
Terakhir Netty mengingatkan bahwa aparat Kepolisian adalah pangayom masyarakat yang sudah seharusnya melindungi dan memberikan rasa aman. “Penembakan ini justru menggambarkan aksi kesewenangan yang dapat menimbulkan kesan menakutkan bagi masyarakat. Aparat yang harusnya jadi pengayom dan dekat dengan masyarakat justru menjadi momok,” tandasnya. [Devi]





















