Ada kalanya, kekuasaan bisa mengalahkan kebenaran (al-quwwah fauqa al-haqqi). Kita berdoa, mudah-mudahan nanti akan datang waktunya kebenaran mampu mengalahkan kekuasaan (al-haqqu fauqa al-quwwah).
Memang saat ini kita dalam keadaan lemah, karena itu kita harus terus berdoa. Kalau kita kembali kepada hadis Nabi, man ra’a minkum munkaran fal yughayyirhu bi yadihi. Artinya, barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Untuk itu, kita harus bertindak. Namun, kemampuan kita belum pada tingkat itu. Itu tugasnya orang yang bersenjata, bukan tugas kita.
Lanjutan dari hadis itu, fa in lam yastathi’ fa bi lisanihi. Artinya, kalau belum mampu, maka dengan lisannya. Dan itu tugas para juru penerang atau juru dakwah. Berbicara bukan asal bicara, diperlukan ilmu komunikasi massa dan strategi yang baik. Untuk tugas ini, perlu orang yang berkompeten.
Kemudian, hadis ini diakhiri dengan kalimat, fa in lam yastathi’ fa bi qalbihi. Artinya, kalau mampu, maka dengan hatinya, yaitu dengan doa-doa.
Saya ingin menekankan tafsir kata “dengan hatinya” (fa bi qalbihi) ini. Banyak orang yang menafsirkan kata fa bi qalbihi ini sekadar duduk lalu berdoa. Bagaimana kalau fa bi qalbihi itu berarti jangan ikut. Kalau ada korupsi tidak ikut, kalau ada program yang merugikan akidah tidak ikut, kalau bertemu kelompok yang tidak jelas tujuannya tidak ikut.
Kalau struktur kekuasaan menunjukkan dukungan kepada kemungkaran dan kita masih ikut, bagi saya itu belum termasuk dalam kategori fa bi qalbihi. Itu di bawah fa bi qalbihi. Namanya apa, itu terserah.
Jadi, mengapa berdoa dianggap sebagai iman yang paling lemah (adh’afu al iman) karena banyak orang yang tidak konsekuen dengan apa yang diucapkan dalam doanya. Itulah pengertian dan penafsiran saya tentang fa bi qalbihi.
Jika berdoa dipahami artinya dan dengan bacaan yang sesuai dengan ajaran al-Qur’an dan Hadis Nabi, niscaya akan menggugah kesadaran kita. Jika dicermati, doa-doa dalam al-Qur’an itu menyiratkan perlawanan terhadap kemungkaran, termasuk terhadap penguasa yang mungkar.
Contoh-contoh doa itu sebagai berikut:
1. Fa unshurna ‘ala al-qaumi al-kafirin, fa unshurna ‘ala al-qaumi azh-zhalimin. Fa unshurna ‘ala al-qaumi al-munafiqin. Artinya, menangkan kami atas orang-orang kafir, menangkan
kami atas orang-orang yang berbuat aniaya, menangkan kami atas orang-orang munafik.
2. Allahumma ahliki al-kafarata wa al-musyrikin. Artinya, Ya Allah hancurkanlah orang-orang kafir dan musyrik.
3. Wa zalzil aqdamahum wa ij’ali al-ra’ba fi qulubihim. Artinya, goyahkanlah pendirian mereka dan ciptakanlah ketakutan dalam hati mereka.
Sebagai ilustrasi, ada orang yang datang kepada saya dan berkata, “Pak, saya ini sebenarnya tidak apa-apa, cuma saya ini dibawa-bawa untuk menjadi pengurus Majelis Dakwah Islamiyah (MDI).” Kemudian, dia meminta fatwa kepada saya. Maka saya jawab, “Saya tidak bisa memberi fatwa, tetapi saya hanya mengingatkan, apakah doa seperti Allahumma a’izzal Islama wal muslimin (Ya Allah muliakanlah Islam dan kaum Muslimin) dan semacamnya sudah dipakai atau belum? Apakah doa-doa seperti itu sudah dipakai di masjid-masjid saudara?”
“Oh, ya…” jawabnya.
Orang itu baru ingat bahwa selama ini ia tidak memakai doa-doa semacam itu. Hal seperti ini hendaknya kita sadari.
Ini harapan saya, ini doa kita. Insya Allah, Allah akan menolong kita. Karena itu, mari kita berdoa, semoga dakwah Islam ini—pesantren kita, universitas kita—berjalan terus, meskipun dengan merangkak secara pelan-pelan.
Ketika Gubernur Jawa Timur Sunandar Priyo Sudarmo (1978-1983) datang ke Pondok Modern Darussalam Gontor, kita menyambutnya dengan pagar betis. Ketika melihat anak-anak, timbul ucapan yang sangat mengejutkan, “Wah, siapa tahu di antara anak-anak kita ini nanti ada yang jadi menteri, ada yang jadi presiden.” Mudah-mudahan ucapan
ini merupakan doa dan benar-benar menjadi kenyataan.
Mudah-mudahan Allah memberikan tambahan ilmu kepada kita. Dan mudah-mudahan kesadaran kita terus meningkat sehingga di mana pun kita berada, di bumi mana kita berpijak, kita selalu waspada dan berdoa. Pada akhirnya, cita-cita kebangkitan Islam bisa segara terwujud. []





















