Di Gontor, tidak semua yang menjadi pelajaran dibukukan. Banyak hal justru diajarkan dalam bentuk uswah dan pembiasaan. Dari cara-cara semacam inilah, seiring perjalanan waktu, nilai-nilai pondok dipahami dan tertanam dalam diri santri sebagai sebuah upaya, bahkan metodologi, pembentukan karakter Islami.
Nilai-nilai itu tidak lahir dari hafalan semata, melainkan dari pengalaman hidup. Ia meresap perlahan, bekerja diam-diam, dan membentuk watak tanpa banyak kata. Sepertinya, nilai-nilai yang selama ini tidak tertulis tersebut kini dirasa perlu untuk dibukukan. Begitulah informasi yang dijelaskan oleh salah seorang pakar, seorang penulis buku yang juga Ustadz Pondok Gontor serta dosen sekaligus Guru Besar UNIDA.
Nilai-nilai tersebut, salah satunya, Panca Jiwa Pondok Modern Darussalam Gontor beserta mottonya, yang selama ini menjadi fondasi ruhani kehidupan pondok. Isi dari Panca Jiwa yaitu Keikhlasan, Kesederhanaan, Berdikari (Kemandirian), Ukhuwah Islamiyah, Kebebasan. Sedangkan isi motto Pondok yaitu Berbudi tinggi, Berbadan sehat, Berpengetahuan luas dan, Berpikiran bebas. Nilai-nilai ini bukan sekadar jargon pendidikan, tetapi prinsip hidup yang dijalani sehari-hari.
Ada sesuatu yang menggelitik dalam pikiran saya, sebuah kegelisahan yang selama ini kerap mengganggu. Bila segala sesuatu memiliki dua sisi, yakni baik dan buruk, maka ketika mengupas sisi baik, semestinya sisi sebaliknya pun turut dibuka.
Jika ada upaya penting untuk mengelaborasi nilai-nilai luhur yang menjadi epistemologi dan perjalanan spiritualitas PMDG, maka tampaknya tidak kalah penting pula untuk mengupas secara jujur lawan pemahaman dari nilai-nilai esensial tersebut.
Pamrih, keserakahan, ketergantungan, fanatisme, dan pragmatisme. Demikian pula: tidak beradab, disiplidemia, kepicikan berpikir, dan liberalisme. Semua ini bukan sekadar daftar keburukan, melainkan potensi penyimpangan yang selalu mengiringi nilai-nilai luhur.
Sudah menjadi sunnatullah bahwa keberadaan sesuatu pasti memiliki penyeimbang, bukan hanya sebagai pembanding, tetapi juga sebagai pengingat. Ungkapan para malaikat ketika diberi tahu tentang rencana penciptaan makhluk baru bernama manusia adalah ekspresi kegelisahan atas dampak negatifnya. Dengan bahasa lain, keberadaan makhluk baru itu dipandang berpotensi membawa lebih banyak maḍarat daripada manfaat.
Mungkin dari sudut pandang seperti itulah cara berpikir yang saya gunakan ketika mencoba mengungkap tanda tanya yang selama ini berdiam dalam pikiran saya.
Kearifan Diksi Trimurti
Namun ketika sang pakar menanggapi kegelisahan tersebut, dengan piawainya beliau menjelaskan secara tersirat. Bahwa pemilihan diksi (keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, dan seterusnya) dipilih oleh Trimurti bukan tanpa kesadaran strategis.
Diksi-diksi tersebut sengaja dipilih agar tidak menimbulkan kesan progresif yang berpotensi memicu reaksi, kekhawatiran, atau ketakutan. Ia pilihan bahasa yang menenangkan, adem, namun bekerja jauh ke dalam kesadaran.
Pada poin kesederhanaan, penjelasan beliau menjadi semakin mendalam. Kesederhanaan dimaknai sebagai disiplin batin dalam konteks perlawanan terhadap kolonialisme. Ia refleksi zuhud kontemporer yang membebaskan manusia dari ketergantungan duniawi.
Kesederhanaan menjadi bentuk pendidikan sosial yang membunuh ego, manifestasi cinta universal yang melampaui batas-batas primordial, serta ekspresi kemerdekaan spiritual, emansipasi ruhani dari belenggu hawa nafsu dan keterikatan lahiriah.
Para tokoh Trimurti merupakan sosok-sosok manusia yang telah selesai dengan urusan dirinya sendiri, manusia yang telah meraih kebebasan. “Manusia yang selesai dengan dirinya sendiri” merupakan istilah bagi seseorang yang telah mencapai kematangan emosional dan penerimaan diri yang utuh. Ia berdamai dengan masa lalu, tidak lagi dihantui penyesalan atau dendam, serta menerima kekurangan dan kesalahan sebagai bagian dari proses belajar.
Ia mandiri secara emosional, mencapai kebahagiaan tanpa bergantung pada validasi, pujian, atau pengakuan orang lain. Egonya terkendali; ia tidak lagi merasa perlu membuktikan diri lebih hebat dari siapa pun. Orientasinya bergeser dari “apa yang bisa saya dapatkan” menuju “apa yang bisa saya berikan”.
Karena kebutuhan batinnya telah terpenuhi, ia memiliki energi lebih untuk berkontribusi, membantu sesama atau menekuni karya yang bermanfaat. Singkatnya, mereka orang-orang yang tenang di dalam, sehingga tidak lagi menciptakan drama atau kegaduhan di luar hanya untuk memuaskan ego.
Warisan dan Samudera Hidup
Oleh karena itu, memang sudah seharusnya apa pun yang lahir dari para tokoh Trimurti diabadikan dalam bentuk buku. Dengan demikian, mudah-mudahan buku-buku tersebut menjadi salah satu bentuk legacy tertulis dari para pemangku amanat PMDG saat ini.
Harapannya, ia dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi-generasi selanjutnya, yang mungkin tidak lagi memiliki kesempatan untuk merasakan secara langsung keluasan wawasan dan kedalaman nilai luhur para pendiri pondok. Walaupun demikian, sangat tepat ungkapan yang disampaikan sang Pakar: “Gontor adalah laboratorium hidup.”
Sesungguhnya, cukuplah dengan memetik buah-buah pengetahuan dari pohon besar laboratorium tersebut untuk memahami ide-ide besar para pendirinya. Gontor adalah samudera yang tidak pernah habis ditimba. Justru semakin ditimba, sang penimba akan semakin merasa haus. Hanya saja, Gontor bukanlah samudera yang mematikan, melainkan samudera yang menyegarkan dan menghidupkan, darinya tumbuh dan berkembang sebuah peradaban yang utama. []




















