Pentagon, Gontornews — Fakta terbaru mengenai perang Irak terungkap. Hasil investigasi Biro Jurnalisme mengungkap bahwa Pentagon mengucurkan dana untuk membayar pembuatan film perang sebesar 540 USD atau Rp 7,1 triliun kepada perusahaan komunikasi asal Inggris Bell Pottinger.
Bell Pottinger mendapat perintah dari Central Intelligence Agency (CIA), National Security Council (NSC), dan Pentagon untuk menunjukkan sisi negatif Al-Qaeda. Bell Pottinger diminta membuat film propaganda terkait teroris Irak tahun 2007 dan 2011, termasuk menciptakan propaganda dalam operasi rahasia.
Rencana operasi itu dimulai sejak invasi Amerika Serikat ke Irak dan bertugas mempromosikan “pemilu demokratis” sebelum pindah ke operasi psikologis dan membuat informasi yang lebih menguntungkan bagi AS.
Fakta kecurangan ini diakui Martin Wells yang mengaku bekerja di Irak sebagai editor video Bell Pottinger. Dalam waktu 48 jam, ia mendarat di Baghdad untuk mengedit konten demi “operasi psikologis” rahasia di Camp Victory.
Tugasnya membuat film sebisa mungkin menunjukkan citra negatif Al-Qaeda di televisi, serta menciptakan konten itu seolah-olah disiarkan oleh TV Arab. Awak dikirim untuk mengambil film pemboman dengan video kualitas rendah, kemudian perusahaan akan mengeditnya supaya terlihat seperti cuplikan berita.
Perusahaan juga menciptakan video propaganda palsu Al-Qaeda, kemudian dipasang oleh militer di rumah mereka. Video palsu tersebut kemudian dikoneksikan ke internet yang menghubungkan ke Google Analytics yang memungkinkan militer untuk melacak alamat IP video yang dimainkan.
Menurut Wells, video tersebut kemudian terdeteksi muncul di Iran, Suriah dan AS. Jika muncul di bagian lain dunia, maka itu lebih menarik artinya propaganda berhasil.
“Dan itulah yang mereka cari lagi, karena yang memberikan jejak,” tuturnya seperti dilansir middleeastmonitor, Senin (3/10).
Diketahui pula, militer Amerika Serikat menggunakan propaganda untuk mengampanyekan misi perangnya di Irak tahun 2005. Peristiwa itu muncul setelah perusahaan komunikasi publik Lincoln Group mengirimkan artikel ke sejumlah media massa. Artikel itu ditulis secara rahasia oleh militer Amerika Serikat. [Ahmad Muhajir/Rus]





















