Tangerang, Gontornews — Manusia, informasi, dan teknologi pasti akan terus berkembang. Selain bisa berfungsi sebagai alat perbaikan perekonomian global, ternyata teknologi juga bisa dijadikan sebagai media perusak perilaku anak bangsa jika salah digunakan.
Saat ini, orangtua merasa bangga karena dapat membelikan anak mereka media elektronik yang canggih dan mahal tanpa turut mengawasi proses penggunaannya. Sedangkan anak-anak merasa bebas bergerak dan bermain dengan dunia maya karena jauh dari pantauan orang sekitar.
Menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia, Seto Mulyadi (biasa dipanggil Kak Seto), orang tua harus berperan aktif dalam memberi perhatian dan menjaga anak-anak walau dengan kesibukan yang menyita waktu. Bahkan, kalau perlu titipkan anak kepada orang yang bertanggung jawab penuh.
Kepeduliannya yang cukup besar terhadap dunia anak-anak khususnya terkait keterlibatan mereka dalam penggunaan media teknologi dan informasi, akan semakin membuat lulusan program pascasarjana Psikologi UI ini gerah untuk terus berkomentar. Berikut petikan wawancara eksklusif kru Gontornews.com, Edithya Miranti dengan pria pendiri dan ketua Yayasan Mutiara Indonesia, Kak Seto Mulyadi:
Apa dampak positif dan negative kemajuan Informasi dan Teknologi (IT) bagi anak Indonesia?
IT atau apapun hasil kemajuan teknologi ibarat sebilah pisau yang bisa digunakan untuk menggunting kertas atau bahkan bisa untuk menusuk orang lain. Semua ini sangat tergantung pada si penggunanya. Dampak positifnya, IT sangat cepat membantu anak menjelajahi dunia. Negatifnya anak juga bisa menyalahgunakannya untuk tindak kekerasan, penyimpangan seksual dan lainnya.
Bagaimanakah peran orang tua menyangkut hal ini?
Orang tua dan guru harus dapat menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Dan tidak lantas bangga karena dapat membelikan anak mereka media teknologi canggih, lantas merasa tenang anaknya duduk manis di rumah dan tidak tawuran, padahal mereka tidak tahu jika anaknya ternyata juga ikut terlibat dalam tindakan criminal seks bebas, bullying, dan sebagainya akibat penggunaan media teknologi yang tak terkontrol.
Contoh berkomunikasi yang baik seperti apa?
Orang tua harus mulai belajar untuk bisa menjadi pendegar yang baik. Saat ini 80 persen orang tua cenderung lebih banyak berbicara, sedangkan 20 persennya untuk mendegnar. Anak yang ingin bercerita soal permasalahannya kemudian tertahan akibat perkataan orang tua yang tidak mau sabar mendengarkan.
Akhirnya, mereka lari ke sahabat terdekat yang ternyata sama-sama korban ketidakpedulian, kekerasan, hingga mengambil nilai-nilai kehidupan dari apa yang didapat selama ini.
Apa solusi tepatnya?
Di dalam keluarga, jadikanlah perangkat IT ini sebagai milik bersama seluruh anggota keluarga. Letakkan laptop, computer, atau lainnya di tempat yang umum dan tidak bersifat privasi, hingga memudahkan kita semua untuk saling mengawasi kegiatan satu sama lain.
Bagaimana cara melatih kedekatan dengan anak?
Saya selalu mengajak anggota keluarga untuk menyempatkan berkumpul bersama. Saat bekerja, di beberapa kesempatan saya juga kerap melatih anak-anak saya untuk turut terjun ke lapangan. Saya pernah bilang ke anak saya, “Ayah dulu pernah menjadi gembel, ayo kamu sekarang ikut ayah merasakan menjadi gembel dan kita pergi ke tempat pembuangan sampah!”.
Sama halnya seperti saat saya harus mengangkut jenazah korban tsunami, Aceh, tidur di tenda pengungsian saat gempa di Padang, dan lainnya, di mana mereka juga mau ikut bersuka duka bersama ayahnya. Tapi sebaliknya, di saat anak ingin menonton konser music rock yang memekakkan telinga misalnya, yang jaraknya hanya satu meter dari panggung, maka saya juga berusaha untuk bisa menikmatinya. Di sini saya belajar untuk bisa saling memahami dan menjadi sahabat bagi anak-anak saya.
Bagaimana tentang kasus kekerasan dari bermain game?
Adanya tindak kekerasan dalam bersosialisasi dengan teman bermain akibat pengaruh game karena kurang pengawasan orang tua. Orang tua hanya memberikan sesuatu ‘hasil kemajuan teknologi’ tapi tidak mendampingi. Sehingga anak yang merasa sudah pintar bermain game tersebut tidak tahu nilai-nilai kekerasan, arogansi, yang terkandung dalam permainan IT tadi. Begitu juga guru. Jangan hanya mengenal pepatah, “Hormatilah gurumu!” tapi juga, “Hormatilah muridmu!”, sehingga murid dekat dengan guru dan kasus kekerasan di sekolah bisa teratasi.
Seberapa besar pengaruh game online ke perilaku anak?
Semua perilaku terbentuk dari lingkungan. Dimulai dari keluarga di mana ada peniruan baik suara, perilaku di bawah sadar. Lalu, media seperti televise, cd, game online, atau apa-apa yang melampiaskan agresifitas dengan cara memukul, memenggal kepala, atau berkelahi yang membangun naluri agresifitas yang konkrit di lingkungan ramahnya. Dan ini yang harus lebih diperhatikan
Jadi, tawuran termasuk akibat dari pengaruh IT?
Iyah, tawuran, bullying, pelecehan seksual, semua bisa dipengaruhi oleh penyalahgunaan IT.
Bagaimana dengan warnet yang buka 24 jam dan malah dipenuhi anak-anak di dalamnya?
Hal ini sama dengan kemudahan memperoleh senjata tajam di Amerika yang menyebabkan tingginya kasus kriminalitas. Saya memohon kepada pemerintah daerah untuk tidak memberi ijin kepada warnet-warnet yang buka secara bebas tanpa ada pendampingan seperti dari pihak kepolisian atau lainnya.
Berarti anda tidak setuju adanya warnet buka 24 jam?
Betul, saya tidak setuju. Karena membuka kemungkinan terjadinya penyalahgunaan
Setujukah anda jika ada lembaga pemantau penggunaan perangkat IT pada anak-anak?
Setuju. Apalagi orang tua banyak mengalami kesulitan dalam penanganannya. Jadi, jika ada lembaga yang khusus mengontrol dan mempublikasikan adanya dampak positif dan negative dari IT maka akan sangat diperlukan.
Saat ini, apakah sudah ada lembaga pemantau IT tersebut?
Sejauh ini saya belum pernah mendengar. Tapi setelah ini akan ada rapat dari Universitas Gunadarma tentang cyber psikologi, ilmu psikologi yang mempelajari dampak dari dunia maya, yang tergabung dalam Asociasi Psikologi Cyber Indonesia. Dan ini yang akan mengkampanyekan para pendidik untuk bisa mengontrol.
Apa Kominfo bisa memilah dan mengurangi program yang ditampilkan kepada anak?
Iya mungkin kominfo, Kementrian pendidikan, perlindungan anak, dan lembaga lainnya perlu bersinergi, bekerjasama untuk membentuk lembaga-lembaga tadi. Kemudian pihak kepolisian untuk mengirimkan anggotanya juga hingga kemungkinan terbukanya situs porno dan kekerasan dapat dikurangi. <Edithya Miranti>





















